Kulminasi Peradaban atau Reinkarnasi Kolonialisme?

oleh -2359 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Gian Ribhato

Nietzsche, seorang pemikir ternama, menarasikan esensi dari manusia adalah tidak lain keinginan untuk berkuasa. Manusia secara alamiah selalu ingin berkuasa atas orang lain. Manusia senantiasa digerakan oleh kehendaknya, dan kehendaknya itu tidak lain daripada kehendak untuk berkuasa (der wille zur macht).

Jauh sebelum Nietzsche, seorang pemikir Inggris yang bernama Thomas Hobbes menggagas sebuah pandangan, bahwa dalam keadaan alamiahnya, manusia cenderung untuk berperang melawan manusia lain. Manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo hominis lupus) atau perang semua melawan semua (bellum omnes contra Omnia).

Menurutnya, keberadaan seseorang sudah merupakan bahaya potensial bagi orang lain. Hukum alamiah dari keberadaan manusia adalah hukum survival. Kedua pemikir ini, meskipun hidup dalam konteks yang berbeda, mereka memiliki pandangan yang sama yakni antropologi negatif. Yang dimaksudkan dengan antropologi negatif adalah manusia per essentiam cenderung ingin berkuasa atas orang lain.

Pandangan kedua pemikir di atas bukanlah pandangan yang mengawang-awang. Pandangan mereka bisa dibuktikan dalam kacamata sejarah. Peperangan, perbudakan, pembunuhan dan lain-lain adalah ekspresi kecenderungan manusia untuk berkuasa atas manusia lain. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa populasi dan peradaban manusia dibangun oleh nafsu untuk berkuasa. Hal ini dijelaskan secara detail oleh Yuval Noah Harari, seorang sejarawan, dalam bukunya yang berjudul Sapiens. Dalam buku itu dia menjelaskan bahwa sekitar 2,5 juta tahun yang lalu Homo Sapiens (manusia yang bertahan sampai sekarang) merupakan salah satu spesies dalam genus Homo (manusia).

Artinya bukan hanya satu jenis manusia tetapi ada beberapa spesies di dalam genus manusia itu yakni Homo Rudolfensis, Homo Errectus, Homo Neanderthalensis dan Homo Sapiens. Apa yang menyebabkan Homo Sapiens menjadi jenis manusia yang paling bertahan sampai sekarang adalah kemampuannya membangun fiksi dan membentuk komunitas dengan jumlah anggota yang banyak. Kemampuan ini menjadikannya kuat dan mampu menghabisi jenis manusia lain di dalam peperangan.

Harari di dalam bukunya itu juga mengulas tiga revolusi penting dalam sejarah peradaban manusia yakni revolusi kognitif, revolusi agrikultur dan revolusi saintifik. Kita sekarang berada dalam revolusi saintifik. Revolusi ini dimulai sejak kurang lebih 500 tahun yang lalu. Sebagai anak dari revolusi saintifik, munculah pada zaman kita sekarang, yaitu revolusi digital. Revolusi digital menjadikan dunia tidak lagi dilihat sebagai satu kenyataan yang tidak terjangkau oleh seorang manusia, tetapi menjadikannya sebagai suatu desa yang disebut sebagai Global Village. Istilah ini menunjuk pada satu kenyataan bahwa di dalam media digital, dunia seakan begitu kecil karena orang dapat melihat dan mengenal apa saja.

Revolusi digital sekarang dilihat secara positif merupakan ekspresi kesuksesan dalam peradaban manusia. Perkembangan ilmu pengetahuan dan pencarian manusia yang terus menerus itulah yang melahirkan revolusi ini. Namun, ada hal yang cukuk menghawatirkan di balik revolusi ini dan menjadi satu kecurigaan besar bagi penulis. Apakah mungkin revolusi ini juga merupakan cara baru dari ekspresi nafsu purba yakni keinginan untuk menguasai yang lain oleh orang tertentu atau dalam konteks yang lebih luas keinginan untuk menjajah kebudayaan lain oleh kebudayaan tertentu?

Dalam catatan historis, penjajahan atau kolonialisme selalu dengan cara ancaman akan keberlangsungan hidup bagi orang atau kelompok lain yang menjadi objek jajahan. Oleh karena itu, pihak yang menjajah mesti memiliki kekuatan baik itu kekuatan fisik maupun peralatan teknologi yang mumpuni. Dari pihak yang dijajah, berhadapan dengan moncong bedil atau senjata misalnya, dalam ancaman hidup atau mati, dia akan melakukan segala perintah demi mempertahankan hidupnya. Mereka akan berubah menjadi tubuh-tubuh yang patuh (docile bodies) yang dapat digerakan ke mana saja. Jadi dapat dikatakan bahwa upaya menciptakan ketakutan adalah cara dari kolonialisme tradisional.

Namun, kolonialisme baru sekarang bukan lagi dengan menciptakan ketakutan, tetapi dengan menawarkan kenikmatan. Dalam situasi ketakutan dan kenikmatan, manusia secara alamiah akan berevolusi menjadi tubuh-tubuh yang patuh. Kenikmatan menjadi strategi baru yang digunakan sekarang. Revolusi digital dapat menjadi sebuah bentuk kolonialisme baru, karena dengan segala kecanggihannya dapat memberikan kenikmatan bagi penggunanya. Orang merasa tidak sadar bahwa dirinya sedang dijajah karena yang dialaminya bukanlah katakutan dan kesakitan melainkan kenikmatan.

Dalam konteks kebudayaan, penulis melihat ada intensi terselubung yang bergerak dalam revolusi digital yakni upaya menciptakan masyarakat homogen yang memiliki ciri individualistic, konsumeristik, kebebasan negatif dan budaya narsistik. Dengan adanya teknologi digital, sosialitas manusia dipertanyakan, bahkan ada narasi yang dibangun bahwa makna “manusia sebagai makhluk sosial mesti diredefinisikan”.

Selain hubungan sosial, teknologi digital menciptakan satu budaya baru yakni budaya konsumtif. Budaya konsumtif bukan hanya menyangkut pengunaan barang-barang secara berlebihan tetapi soal penggunaan tanda di balik barang yang digunakan. Baudrillard, seorang filsuf Prancis, dalam sebuah karyanya yang berjudul “Masyarakat Konsumsi” mendeskripsikan masyarakat konsumsi sebagai masyarakat tanda. Mereka bukan mengenakan barang, bahkan barang itu sendiri tidak penting. Apa yang paling penting ialah tanda di balik barang itu. Kebudayaan baru juga mempopulerkan suatu kebebasan negatif yakni “bebas dari”. Artinya tidak ada lagi yang bisa membatasi kebebasannya.

Dalam dunia digital norma-norma yang diakuai secara intersubjektif dalam kebudayaan setempat menjadi tidak berlaku. Hal yang tidak kalah popular dalam budaya baru adalah budaya narsisitik. Popularitas menjadi spirit baru. Apa saja akan dibuat demi popularitas atau dalam sebuah kata yang sangat dikenal yaitu Viral.

Sebagai seseorang yang lahir dalam lingkungan yang berbudaya ketimuran, ada kekhawatiran besar, jangan sampai budaya kita kemudian secara sangat perlahan diserap ke dalam budaya lain dan generasi berikutnya tidak lagi mengenali budaya sendiri. Ketika generasi yang paling tua nanti yang hidup adalah Generasi Z, apakah mungkin kebudayaan tradisional dengan kekayaan nilainya masih bertahan? Penulis sedikit ragu mengatakan masih bertahan melihat realitas sekarang.

Salah satu contohnya, demi popularitas, orang memamerkan sesuatu yang seharusnya hanya ada dalam ruang privat. Prinsip yang dipegang adalah menciptakan keanehan agar bisa dikenal. Ini seperti sebuah semboyan pada abad 17 di Eropa “ketika anjing menggigit manusia, itu hal biasa, tetapi ketika manusia menggigit anjing, itu hal yang luar biasa”.

Berhadapan dengan masalah ini, apa yang mesti dilakukan? Yang paling pertama, kita mesti mempertanyakan kembali, apakah revolusi digital merupakan titik kulminasi peradaban manusia ataukah kelahiran kembali kolonialisme dengan wajah yang baru? Yang kedua, semua pihak harus terlibat untuk mempertahankan budaya lokal dengan holistikalitas nilainya. Pihak yang menurut penulis paling penting berperan sekarang adalah komunitas agama dan dunia pendidikan. Masyarakat kita tidak dapat disangkal merupakan masyarakat dengan religiusitas yang tinggi. Ketaatan terhadap pemuka agama masih dihidupi. Oleh karena itu agama dalam hal ini tokoh agama mesti melihat secara jeli hal ini dan menyuarakannya kepada umatnya. Kedua, pendidikan mesti basisnya tidak boleh tercabut dari akar kebudayaan.

Pendidikan dengan menggunakan teknologi tentu sangat penting, dan hal itu tidak boleh ditolak, tetapi spirit kebudayaan harus terus menggema dalam lingkungan pendidikan, misalnya dalam konteks NTT ada Peraturan Gubernur nomor 25 tahun 2024 yang mengharuskan adanya pendidikan muatan lokal pada pendidikan menengah. Hal ini mesti dihidupi, agar pendidikan tidak hanya memperhatikan persoalan teknis-saintifik tetapi juga menyentuh unsur kebudayaan. Pola pendidikan yang seperti ini dalam perspektif penulis menjadi satu kekuatan besar agar kita tidak tercerabut dari kebudayaan sekaligus menerima tuntutan teknologi digital yang merupakan satu titik kulminasi dari peradaban.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.