Krisis Kepercayaan Politik di NTT

oleh -1435 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Daniel Haki

Krisis kepercayaan masyarakat terhadap lembaga politik di Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin menurun dari tahun ke tahun. Menurut data Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) yang menggambarkan tentang demokrasi di NTT, menunjukkan angka penurunan partisipasi masyarakat dalam berdemokrasi. Partisipan demokrasi di NTT terakhir kali dirilis pada tahun 2023 menurun menjadi 77,39 (2023) dari 77,83 (2022). Fakta dari data ini menjadi ironi, di mana NTT dianggap sebagai Provinsi yang sangat menjaga nilai-nilai religius, politik, budaya-sosial, sistem adat yang cukup ketat, dan menjunjung tinggi paham kekeluargaan.

Ketidakpercayaan masyarakat terhadap para politikus di wilayah NTT menjadi bahan tolak ukur, sejauh mana masyarakat membangun kepercayaan politiknya. Politik tidak lagi menjadi instrumen penyalur kebaikan bersama dari para elit politik kepada masyarakat kecil seperti apa yang seharusnya terjadi. Melainkan politik hanya sekadar menjadi tameng penyalur kepentingan bagi elit politik yang sedang berkuasa. Inilah yang menjadi inti ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Data dari IDI di NTT menunjukkan krisis yang perlahan mulai menggerogoti masyarakat zaman ini. Tanda bahwa minat masyarakat terhadap isu politik mulai menurun, dan salah satu contoh konkret adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam pemilihan bagi mereka yang mencalonkan diri dalam konteks perpolitikan. Dari data di atas menunjukkan bahwa, para politikus kurang mendapatkan simpati dari masyarakat. Hilangnya kepercayaan ini tentu saja diakibatkan oleh para pelaku politik yang tidak konsisten antara kata dan tindakan, sehingga membuat masyarakat menjadi muak dengan segala “kebohongan” yang mereka sampaikan.

Hilangnya Kepercayaan Terhadap Lembaga Politik

Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga politik di NTT secara khusus adalah karena melemahnya moralitas dan mentalitas para pemegang kekuasaan di dalamnya. Seharusnya para politisi yang menjadi wakil rakyat dalam lembaga politik menyampaikan aspirasi rakyat bukan hanya sekedar menjadi narasi kosong demi kepentingan pribadi dan golongannya. Karena itu tidak heran apabila masyarakat kurang menaruh kepercayaan kepada para politikus. Mereka hanya sekadar membawa nama pribadi demi keuntungan pribadinya semata.

Selain itu korupsi juga menjadi salah satu isu yang cukup memprihatinkan dan menjadi sorotan semua pihak. Jejak pendapat mempekuat kenyataan itu, di mana sebanyak 65,8 persen responden melihat para wakilnya lebih banyak membela kepentingan diri sendiri dan partainya daripada membela kepentingan rakyat.

Memuaskan Ego Pribadi

Para politisi lebih cenderung memusatkan perhatian pada dirinya sendiri ataupun kelompoknya, tanpa mempedulikan bonum commune (kebaikan bersama). Karena itu tidak heran apabila ia hanya berusaha untuk mencapai posisi yang dutujunya tersebut. Oleh karena itu, perhatian fundamental elit politik dalam konteks ini adalah memuaskan ego pribadi ataupun kelompoknya. Tugas menjadi wakil rakyat yang dijalaninya itu hanya menjadi “narasi kosong tanpa aksi.”

Sikap egoistik atau ingat diri inilah yang meruntuhkan harapan besar masyarakat secara keseluruhan terhadap setiap para calon pemimpinnya. Sikap ingat diri ini pun “memperkosa sens of belonging-nya” terhadap aspirasi-aspirasi masyarakat yang sedang dipimpinnya.

Krisis Moral Para Politisi

Di dunia dewasa ini nilai moral hanyalah ungkapan kata-kata indah yang sangat jarang sekali untuk direalisasikan. Krisis ini menjadi sebuah fenomena bagi para politisi kita yang sudah lazim di tanah air tercinta kita ini terutama di NTT.

Misalnya, politik uang yang mana meningkatkan transaksional dan korupsi dalam tubuh lembaga politik, kasus skandal dan etika di mana pernah dijatuhi hukuman penjara karena korupsi dan skandal yang berdampak pada elaktibilitas partai, dan penyalahgunaan wewenang jabatan serta merusak kepercayaan publik. Dengan demikian, tidak heran apabila kepercayaan masyarakat terhadap para politisi di NTT mengalami penurunan.

Hilangnya Budaya Tolong-Menolong

Salah satu tradisi di NTT yang tergolong unik adalah budaya tolong-menolong. Menurut penelitian dari para Sosiolog, bahwa meskipun secara material dan finansial NTT miskin, namun NTT sangat kaya secara sosial. Karena itu perlu lagi membangun kembali salah satu identitas budaya tolong-menolong kita agar generasi penerus wilayah kita ini mempunyai ciri kepekaan yang tinggi terhadap sesamanya.

Sehingga NTT akan mencetak kader-kader politik masa depan yang memiliki sikap kepekaan yang tinggi kepada yang dimarginalisasi, menjadi pemimpin yang bermoral, dan meningkatkan tata kelola yang adil dan merata.

Hilangnya Bela Rasa-Memihak

Hilangnya rasa keberpihakan kepada masyarakat secara keseluruhan oleh elit politik, menandakan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan yang sedang mereka jalankan. Seharusnya mereka menyuarakan aspirasi masyarakat yang merupakan korban dari marginalisasi oleh para pemegang tampuk pemerintahan. Inilah salah satu fenomena yang terjadi di negeri kita terutama di NTT sendiri. Berdasarkan penelitian preferensi politik dan budaya politik di NTT menyatakan bahwa sikap politik dibangun dan dipengaruhi juga oleh beberapa hal yakni; budaya, identitas, dan kelas sosial masyarakat.

Sehingga inilah yang menjadi salah satu dampak hilangnya nilai bela rasa para politisi kita di NTT. Ia akan lebih berbelarasa dengan masyarakat yang dianggap memiliki kesamaan budaya, identitas, religius, dan kepentingan yang sama. Hal ini hampir dianggap lumrah di sebagian besar wilayah NTT, hegemoni ini seharusnya ditanggalkan demi seluruh masyarakat agar tidak ada yang merasa kurang diperhatikan oleh para pemimpin politiknya.

Masyarakat akan percaya kepada pihak politikus di NTT, apabila apa yang disampaikan oleh mereka sejak awal kepemimpinannya antara kata-kata dan tindakan itu selaras. Dengan demikian, para pemegang kekuasaan akan mendapatkan kembali rasa simpati dari masyarakat secara kolektif untuk membangun NTT yang telah mengalami angka penurunan kepercayaan terhadap para pemimpin politik.

Sehingga sejak dini, anak-anak muda perlu ditanamkan nilai moral, keadilan, dan kebenaran yang akan membentuk diri mereka menjadi otentik dan peduli terhadap Provinsi NTT yang tercinta ini. Anak-anak muda ini merupakan calon-calon pemimpin masa depan NTT, dalam merealisasikan nilai-nilai integral bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.