Ketika Layar Menggantikan Halaman: Refleksi Eksistensi Generasi Digital di NTT

oleh -863 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Gregorius Talaen

Maraknya perkembangan teknologi digital yang cepat ini membawa dampak besar dalam dunia pendidikan. Kualitas pendidikan di kalangan generasi muda di Nusa Tenggara Timur (NTT) terlihat menurun dan lemah akibat munculnya fenomena baru yang dikenal sebagai budaya scrolling. Faktanya, fenomena ini lebih banyak diadopsi oleh pelajar dan mahasiswa. Banyak dari mereka menghabiskan lebih banyak waktu melihat layar dibandingkan membaca buku.

Smartphone, atau yang lebih umum disebut sebagai perangkat pintar, kini menjadi aktivitas utama mereka. Selain itu, alat ini telah menjadi bagian yang sangat sulit dipisahkan dari rutinitas sehari-hari generasi digital. Transformasi ini mengindikasikan bahwa smartphone benar-benar mengubah mindset (cara pikir) manusia mengenai informasi. Pada kenyataannya, buku yang sebelumnya dianggap sebagai jendela untuk mendapatkan pengetahuan kini telah tergantikan oleh akses informasi yang instan. Akibatnya, kegiatan membaca buku semakin jarang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa jika dibandingkan dengan scrolling di media sosial.

Di NTT, pemakaian smartphone di kalangan anak muda dan mahasiswa sudah sejak lama terjebak dalam perubahan yang dinamis. Data pendidikan di wilayah ini menunjukkan bahwa lebih dari lima ribu sekolah di NTT, hampir setengahnya masih berada pada tingkat literasi yang rendah. Bahkan, di jenjang SMA, hanya sekitar seperempat siswa yang dapat dikategorikan berliterasi baik. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya membaca belum sepenuhnya menjadi fondasi yang kuat dalam proses pendidikan.

Sebenarnya, pembelajaran tidak hanya sekadar memperoleh informasi yang diperoleh melalui data tetapi orang mampu berikir kritis . Berdasarkan epistemik dari hermeneutik, setiap individu tidak hanya perlu mengetahui apa yang mereka pelajari, tetapi juga harus bisa sampai pada titik memahaminya. Belajar adalah proses memperluas kesadaran melalui refleksi, pengertian, dan dialog dengan pengetahuan.

Oleh karena itu, pembelajaran tidak hanya sekadar mengenal huruf atau mengumpulkan informasi. Membaca menjadi proses interpretasi dan dekonstruksi teks untuk memahami makna yang tersembunyi, mempertanyakan asumsi, dan memahami konteks budaya serta sejarah. Oleh sebab itu, kegiatan membaca memerlukan sikap ketahanan yang mengharuskan seseorang bersabar, merenung, dan terlibat secara intelektual. Ketika seseorang dapat bersabar, ia akan mampu menahan godaan dan fokus untuk menemukan makna dari apa yang di baca.

Namun, kondisi saat ini sangat berbeda dengan adanya era digital yang semakin maju. Disposisi membaca buku kian telah menurun dan mengalami transformasi yang signifikan. Munculnya Smartphone yang memberikan informasi dengan cepat dan terus-menerus melalui layar menjadi causa prima (penyebab utama). Problem ini jelas mengalihkan peradaban manusia sebagai individu yang berpikir.

Oleh karena itu, apa yang saya rasakan adalah “eudaimonia” (kebahagiaan) yang berasal dari scrolling, reels, dan berbagai informasi lainnya. Perihal tersebut adalah keadaan yang nyata karena banyak dari mereka yang mengalami ketergantungan. Dari ketergantungan ini, Smartphone berfungsi sebagai teman hidup. Segala aktivitas yang dilakukan tanpa Smartphone terasa sulit, penuh kecemasan, dan ketakutan, sehingga scrolling menjadi sesuatu yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mengakibatkan pengetahuan beralih dari pemahaman mendalam menjadi konsumsi informasi yang cepat.

Seorang pemikir dan psikolog asal Jerman, Erich Fromm, mengemukakan pandangannya bahwa individu modern kerap terjebak dalam pola pikir “memiliki”. Saat ini, pengetahuan tidak lagi dipahami sebagai proses “menjadi”, melainkan sekadar kumpulan data.

Fenomena ini sangat terlihat di kalangan siswa dan mahasiswa di NTT, di mana mereka bisa memperoleh informasi dengan cepat tanpa menganalisisnya secara kritis. Hal ini dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis generasi muda, yang cenderung tidak lagi merenungkan dengan mendalam dan radikal, karena lebih fokus pada pengumpulan informasi instan ketimbang benar-benar memahaminya. Oleh sebab itu, generasi muda perlu berlatih berpikir kritis dan memiliki kesadaran akan tanggung jawab dalam menggunakan smartphone.

Dalam menghadapi persoalan ini, muncul berbagai tantangan baru bagi generasi muda. Pertama: Ketergantungan. Sikap ini membuat mereka kesulitan menemukan kebebasan pribadi karena terjebak dalam budaya scrolling. Di samping itu, mereka cenderung menghabiskan waktu untuk menonton video pendek dan bermain game tanpa mengatur waktu dengan baik untuk membaca atau melakukan kegiatan kreatif lainnya. Hal ini juga berujung pada perilaku siswa dan mahasiswa yang menyelesaikan tugas dengan menyalin tanpa pemikiran reflektif yang mendalam.

Kedua: Individualisme. Akibat dari sikap ini, individu lebih memilih untuk menyendiri dibanding bersosialisasi dan lebih fokus pada aktivitas pribadi. Ini mengakibatkan hilangnya nilai komunikasi antar individu. Eksistensi manusia beralih dari “aku” sebagai bagian dari yang lain menjadi “aku” sebagai individu yang terpisah. Maka, kesadaran diri dalam penggunaan Smartphone sangatlah diperlukan.

Ketiga: Dampak negatif pada otak. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk menggulir, tanpa disadari dapat mengakibatkan otak kehilangan kemampuan berpikir kritis dan berkonsentrasi. Ini menyebabkan mereka sering merasa cemas dan tidak nyaman.

Oleh karena itu, sangat penting untuk merenungkan bahwa pendidikan di NTT tidak bisa sekadar melarang penggunaan teknologi, tetapi juga membekali individu dengan pemahaman mengenai pentingnya menghidupkan kembali budaya membaca. Dengan membaca, orang tidak akan menjadikan smartphone sebagai alat utama, melainkan sebagai sarana pendukung di dunia digital. Selain itu, perlu ditekankan pentingnya proses berpikir, yang tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga memahami makna di baliknya. Oleh karena itu, pengajaran literasi yang kritis menjadi sangat penting.

Pada akhirnya, Smartphone tidak selamanya menjadi penghalang bagi aktivitas membaca, tetapi harus ada tanggung jawab penuh dalam penggunaannya. Di tengah arus informasi yang tak henti, generasi muda perlu menemukan kembali ketenangan dalam buku, agar pikiran mereka dapat bekerja melalui pertanyaan, refleksi, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia. Namun, jika layar sepenuhnya menggantikan buku, maka yang hilang bukan hanya buku itu sendiri, tetapi juga ruang bagi merenung dan berkontemplasi dalam diri manusia.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.