Kerendahan Hati Maria yang Mendatangkan Mahkota Surgawi

oleh -168 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Arnoldus Nggorong

St. Louis-Marie Grignion de Montfort dalam bukunya Bakti yang Sejati kepada Maria menulis: “Maria sangat tersembunyi dalam hidupnya. Kerendahan hatinya begitu mendalam sehingga di bumi ini dia tidak memiliki daya tarik yang lebih kuat dan bersifat terus-menerus selain menyembunyikan diri dari dirinya sendiri dan dari segala makhluk, untuk dikenal oleh Allah saja” (BS No. 2).

Demikian Montfort menggambarkan kerendahan hati Maria, Bunda Allah, sebagai salah satu keutamaannya yang paling unggul. Maria tidak mencari perhatian, pengakuan, atau kemuliaan bagi dirinya sendiri. Ia justru memilih untuk hidup dalam kesederhanaan dan ketersembunyian, dengan seluruh hidupnya diarahkan kepada Allah. Kerendahan hati Maria bukanlah sikap merendahkan martabat dirinya, melainkan kesadaran mendalam bahwa segala sesuatu yang ada dalam dirinya merupakan rahmat dan karya Allah.

Montfort melanjutkan: “Allah – untuk mengabulkan permohonan-permohonan yang ia tujukan kepada-Nya untuk membuatnya tersembunyi, miskin dan rendah – telah berkenan menyembunyikannya dari hampir semua manusia pada saat ia dikandung, pada saat ia lahir, selama hidupnya, dalam semua misterinya, pada saat ia dibangkitkan dan diangkat ke Surga” (BS No. 3).

Maria tidak mengejar kemasyhuran. Bahkan setelah menerima panggilan yang begitu agung untuk menjadi Bunda Sang Penebus, ia tetap menempatkan dirinya sebagai seorang hamba. Justru dalam ketersembunyian dan kerendahan hati itulah Allah menyatakan karya-Nya yang besar.

“Hamba” Tuhan

Kerendahan hati Maria tampak sangat jelas ketika Malaikat Gabriel menyampaikan kepadanya kehendak Allah untuk mengandung dan melahirkan Yesus, Putra Allah. Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Jawaban tersebut memperlihatkan sikap batin Maria yang sepenuhnya terbuka kepada Allah. Ia tidak menempatkan kehendak pribadinya sebagai pusat. Ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah, meskipun belum sepenuhnya memahami segala konsekuensi dari jawaban tersebut.

Sikap yang sama tampak dalam Magnificat. Ketika Elisabet menyebut Maria sebagai perempuan yang diberkati, Maria tidak mengambil pujian itu untuk dirinya sendiri. Ia justru mengarahkan seluruh pujian kepada Allah: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk. 1:46-47).

Kesadaran Maria sebagai “hamba” bukanlah penghinaan terhadap dirinya. Sebaliknya, ia menyadari bahwa dirinya begitu berharga karena Allah berkenan berkarya melalui dirinya. Karena itu ia berkata: “Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus” (Luk. 1:49).

Konsili Vatikan II merumuskan sikap Maria itu dengan sangat indah: “Ia memeluk kehendak Allah yang menyelamatkan, dan membaktikan diri seutuhnya sebagai hamba Tuhan kepada pribadi dan karya Putranya, untuk di bawah Dia dan beserta Dia, berkat rahmat Allah yang Mahakuasa, mengabdikan diri kepada misteri penebusan” (Lumen Gentium, No. 56).

Dengan demikian, kerendahan hati Maria bukanlah kelemahan. Kerendahan hati adalah kekuatan untuk mengatakan “ya” kepada Allah dan membiarkan kehendak-Nya menjadi pedoman utama kehidupan.

Kerendahan Hati yang Tersembunyi

Montfort kembali menyoroti kerendahan hati Maria dengan mengatakan bahwa Allah Bapa tidak menjadikan Maria sebagai pelaku mukjizat-mukjizat yang mencolok; Allah Putra membuatnya hampir tidak berbicara dalam Injil; dan Roh Kudus membiarkan para rasul serta para penginjil berbicara tentang Maria hanya sejauh diperlukan untuk memperkenalkan Yesus Kristus (BS No. 4).

Di sini tampak sebuah paradoks besar. Maria adalah perempuan yang memiliki peranan luar biasa dalam sejarah keselamatan, tetapi Injil tidak menampilkan dirinya sebagai pusat perhatian. Pusatnya tetap Yesus Kristus.

Maria tidak pernah berkata, “Lihatlah aku.” Sebaliknya, seluruh hidupnya menunjuk kepada Kristus. Di Kana, misalnya, ia berkata kepada para pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh. 2:5).

Itulah ciri khas kerendahan hati Maria: ia tidak menarik manusia kepada dirinya sendiri, tetapi membawa manusia kepada Kristus.

Montfort karena itu menyebut Maria sebagai karya agung Yang Mahatinggi dan sebagai tempat istimewa kediaman Tritunggal Mahakudus (BS No. 5). Dalam refleksi teologis yang dikutip Andreas B. Atawolo, Mauro Gagliardi menggambarkan Maria sebagai Triclinium totius Trinitatis, yakni “kediaman seluruh misteri Trinitas”. Gambaran ini menunjuk kepada keistimewaan Maria dalam misteri Inkarnasi: melalui rahimnya, Sabda menjadi manusia.

Ujian Kerendahan Hati Maria

Kerendahan hati Maria tidak berarti bahwa hidupnya bebas dari kesulitan. Sebaliknya, panggilan Maria justru membawanya memasuki jalan iman yang penuh misteri, penderitaan, dan ketidakpastian.

Kesulitan itu sudah dimulai sejak menerima kabar dari Malaikat Gabriel. Kehamilan Maria yang terjadi karena karya Roh Kudus membawa persoalan dalam relasinya dengan Yusuf. Ia juga mengalami kesederhanaan dan keterbatasan ketika melahirkan Yesus di Betlehem. Kemudian ia harus melarikan diri ke Mesir demi menyelamatkan Sang Anak dari ancaman Herodes.

Penderitaan Maria semakin nyata ketika ia mendengar nubuat Simeon: “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk. 2:35).

Nubuat tersebut menemukan kepenuhannya di kaki salib. Maria menyaksikan Putranya menderita, disalibkan, dan wafat. Ia tidak melarikan diri. Ia tetap berdiri dekat salib Yesus (bdk. Yoh. 19:25).

Di sanalah kerendahan hati Maria mencapai kedalaman yang luar biasa. Ia tidak memahami seluruh misteri penderitaan itu, tetapi ia tetap setia. Ia tidak memberontak terhadap Allah. Ia menyimpan segala perkara dalam hatinya dan tetap berjalan dalam iman.

Gereja mengenang perjalanan penderitaan Maria melalui devosi Tujuh Dukacita Maria: nubuat Simeon, pelarian ke Mesir, hilangnya Yesus di Bait Allah, perjumpaan Maria dengan Yesus dalam perjalanan menuju Kalvari menurut tradisi Jalan Salib, wafat Yesus di salib, saat Yesus diturunkan dari salib, dan pemakaman-Nya.

Semua pengalaman itu memperlihatkan bahwa Maria tidak hanya mengatakan “ya” kepada Allah pada saat menerima kabar sukacita. Ia juga tetap mengatakan “ya” ketika kehendak Allah membawanya memasuki jalan penderitaan.

Maria dalam Sejarah Keselamatan

Karena ketaatan dan keterbukaannya kepada Allah, Maria memiliki tempat yang istimewa dalam sejarah keselamatan. Gereja mengajarkan empat dogma Maria: Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos), Maria tetap perawan, Maria dikandung tanpa noda dosa (Immaculata Conceptio), dan Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya (Assumptio).

Gereja juga memberikan kepada Maria gelar Bunda Gereja (Mater Ecclesiae), yang ditegaskan secara resmi oleh Paus Paulus VI pada 21 November 1964 dalam konteks Konsili Vatikan II.

Semua penghormatan itu tidak menjadikan Maria sejajar dengan Allah. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa kebaktian kepada Maria “secara hakiki berbeda dengan bakti sembah-sujud” yang hanya dipersembahkan kepada Allah Tritunggal (Lumen Gentium, No. 66).

Dengan demikian, menghormati Maria selalu harus membawa kita kepada Kristus. Maria tidak pernah menjadi pengganti Kristus. Ia adalah ibu yang menunjukkan jalan menuju Putranya.

Konsili Vatikan II menyebut Maria sebagai pola atau teladan Gereja “dalam hal iman, cinta kasih, dan persatuan sempurna dengan Kristus” (Lumen Gentium, No. 63).

Dari Hamba Menjadi Ratu

Kerendahan hati Maria akhirnya membawa kepada kemuliaan. Ia yang menyebut dirinya “hamba Tuhan” justru diangkat oleh Allah kepada kemuliaan surgawi.

Pada tanggal 15 Agustus, Gereja merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Dalam iman Gereja, Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raganya sebagai buah istimewa dari karya keselamatan Allah.

Peristiwa ini kemudian dipahami dalam hubungan dengan kemuliaan Maria sebagai Ratu Surga. Pada 11 Oktober 1954, Paus Pius XII menetapkan Pesta Santa Perawan Maria sebagai Ratu melalui ensiklik Ad Caeli Reginam.

Doa Rosario juga mengajak umat merenungkan misteri ini dalam Peristiwa Mulia: Maria diangkat ke surga dan Maria dimahkotai di surga.

Di sini kita menemukan sebuah paradoks Injili: Maria yang paling rendah hati justru menerima kemuliaan yang paling tinggi.

Ia tidak mengejar mahkota, tetapi menerima mahkota. Ia tidak mencari kedudukan, tetapi diangkat. Ia tidak mempromosikan dirinya, tetapi Allah sendiri yang meninggikannya.

Mahkota untuk Jalan Kerendahan Hati

Kisah Maria merupakan kritik yang sangat kuat terhadap mentalitas dunia yang menjadikan popularitas, jabatan, kekuasaan, dan pengakuan sebagai ukuran keberhasilan.

Dunia sering mengajarkan manusia untuk tampil, dikenal, dipuji, dan diakui. Maria menunjukkan jalan yang berbeda. Ia mengajarkan bahwa kebesaran manusia tidak terletak pada seberapa banyak orang mengenalnya, melainkan pada seberapa sungguh ia dikenal dan dikasihi Allah.

Kerendahan hati Maria bukan berarti pasif. Maria adalah perempuan yang berani berkata “ya” kepada Allah, berani menanggung konsekuensi panggilannya, berani berjalan dalam penderitaan, dan berani berdiri di bawah salib.

Karena itu, kerendahan hati Maria adalah kerendahan hati yang aktif: taat, setia, berani, dan penuh kasih.

Maria membiarkan hidupnya diatur oleh Allah. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai pusat. Dalam Magnificat, ia bahkan menyatakan bahwa Allah “mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya” (Luk. 1:51).

Di tengah dunia yang semakin kuat mengejar pengakuan diri, Maria mengajarkan bahwa manusia tidak akan menjadi besar dengan meninggikan dirinya sendiri. Kebesaran sejati lahir ketika seseorang bersedia merendahkan diri di hadapan Allah dan mengabdikan hidupnya bagi sesama.

Pada akhirnya, Maria menunjukkan bahwa mahkota surgawi tidak lahir dari kesombongan, melainkan dari kerendahan hati; bukan dari ambisi, melainkan dari ketaatan; bukan dari pencarian popularitas, melainkan dari kesetiaan.

Maria adalah hamba yang dimuliakan, perempuan sederhana yang diangkat, dan pribadi yang seluruh hidupnya menunjuk kepada Kristus.

Karena itu, pada Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, kita tidak hanya merayakan kemuliaan Maria. Kita juga belajar dari jalan hidupnya: merendahkan diri di hadapan Allah, setia dalam penderitaan, taat dalam panggilan, dan percaya bahwa Allah sendiri yang akan mengangkat orang yang rendah hati.

Selamat merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga.

Penulis adalah Alumnus STFK Ledalero, tinggal di Labuan Bajo

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.