Kebiasaan yang Mana?

oleh -1912 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Alfred Lanang

Menjawabi panggilan dalam rangka mewujudkan generasi Indonesia emas pada 2025 nanti, bukanlah misi yang mudah. Pada Jumat, 27 Desember 2024, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (kemendikdasmen) meluncurkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai upaya Penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Adapun tujuan dari gerakan ini ialah untuk menanamkan suatu kebiasaan positif demi membentuk karakter anak-anak bangsa sebagai generasi yang sehat, cerdas, dan tentu berkarakter unggul.

Gerakan Tujuh Kebiasaan itu meliputi, Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Makan Sehat dan Bergizi, Gemar Belajar, Bermasyarakat serta Tidur Cepat. Namun yang menjadi pertanyaannya ialah, kebiasaan seperti apa yang dimaksudkan pada gerakan tujuh kebiasaan itu? Apakah kebiasaan hanya sebatas label pada ketujuh gerakan tersebut? Pada tahap ini, penulis hendak menyoroti salah satu dari tujuh gerakan kebiasaan ini yakni Gemar Belajar.

Tentu di era maraknya digital dan budaya instan, membangun kebiasaan belajar merupakan suatu tantangan secara khusus dalam ranah pendidikan di Indonesia. Saat ini, konektivitas antara anak-anak dan dunia digital di sisi kanan menyediakan beragam sumber belajar namun sekaligus juga menjadi tantangan serius pada bagian kirinya. Sederhananya, anak-anak akan diperhadapkan dengan beberapa opsi- antara belajar offline ataupun online, secara khusus apabila online maka memilih belajar dari berbagai sumber yang tersedia atau justru menghabiskan banyak waktu untuk bermain game, tiktokan, dan bahkan tergila-gila dalam urusan percintaan via daring.

Sebuah data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) di awal 2025 mencatat jumlah pengguna internet Indonesia yang mencapai 225 juta orang, atau sekitar 80 persen populasi. Amat disayangkan bahwa kebanyakan pengguna yang adalah remaja masih banyak menghabiskan waktunya untuk dunia hiburan dari pada memanfatkan internet sebagai sarana pendidikan.

Selain itu, UNESCO pada 2024 telah meneropong adanya learning crisis di negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Ironisnya, banyak anak yang belum mencapai target literasi dan numerasi ketika mereka duduk di bangku sekolah. Belajar secara umum masih dilihat sebagai pemenuhan akan aspek akademik dan bukan belajar untuk kehidupan. Persis di sini, kebiasaan (habit) dapat menjadi akar yang mesti dibangun dan diperkuat agar anak-anak Indonesia semakin jinak dalam hal belajar.

Menurut James Clear, dalam bukunya yang sangat terlaris berjudul Atomic Habits, mengatakan bahwa kebiasaan adalah rutinitas atau perilaku yang dijalankan secara teratur dan dalam banyak kasus menjadi secara otomatis. Apabila kebiasaan belajar ditempatkan dalam suatu rutinitas yang dilakukan secara terus-menerus tentu akan ada hasil yang diperoleh meskipun kecil. Lebih hebatnya lagi jika kebiasaan belajar terus dilakukan berulang-ulang kali tentu itu tidak sekedar rutinitas belaka tetapi menjadi secara otomatis tanpa aturan atau dorongan tertentu.

Menariknya jika orang tua telah menerapkan kebiasaan belajar kepada anak-anak sejak dini. Seorang anak akan tahu waktu kapan dia harus belajar seperti membaca buku, mengulang materi yang didapat di sekolah, menulis maupun berhitung. Anak itu juga tahu kapan dia boleh menggunakan gadget pada waktu-waktu tertentu yang telah ditetapkan. Menjadi terpenting ialah ketika anak yang telah dibiasakan dengan belajar itu mulai menyadari akan hal apa yang menjadi prioritasnya sebagai seorang pelajar. Dengan kebiasaan yang baik, anak akan menjadi tahu bahwa yang utama itu bukan menghabiskan waktu menatap gadget tetapi duduk dan belajar membaca, menulis, serta menghitung.

Mungkin saja saat ini, anak-anak lebih up to date berita viral dari pada soal pengetahuan umum yang diajarkan di sekolah. Problemnya ialah sejak dini, anak-anak dibiarkan lingkungan untuk berseliweran di tiktok, facebook, instagram dll tanpa suatu pembatasan, sehingga mereka menjadi terbiasa dan sulit untuk keluar dari kebiasaan itu menuju kebiasaan belajar yang ditawarkan oleh orang tua, sekolah maupun negara. Bagi mereka, dari pada menjalankan kebiasaan belajar seperti membaca, menulis dan menghitung yang membosankan lebih baik joget tiktok dan berpose efek instagram akan lebih menyenangkan. Alhasil sulit ada kemajuan akademik pada anak-anak karena belum bisa membaca, tidak bisa menghitung dan sulit untuk menulis.

Zaman yang semakin maju ini, banyak anak merasa biasa saja apabila tertinggal dalam hal pelajaran dan menjadi resah jika jauh dari dunia maya. Tawaran teknologi yang menggiurkan membuat anak-anak semakin sulit untuk bertahan di dalam kebiasaan belajar. kebiasaan belajar hanya sekedar pengumuman sekali yang diungkapkan dalam kata dan tidak sampai pada eksekusi nyata. Ekspetasi tinggi akan pelajar masa depan yang luar biasa hanya semacam hayalan kosong karena akar kebiasaan belajar anak tidak diperhatikan oleh lingkungan.

Kekuatan teknologi mengerahkan banyak waktu anak untuk terus melihat layar daripada setia pada kebiasaan belajarnya. Inilah tantangan bagi anak-anak saat ini dalam upaya membentuk kebiasaan yang semestinya tidak dianggap sepele oleh pihak sekolah maupun orang tua. Ketergantungan anak-anak saat ini ialah pada media sosial serta bukan pada pelajaran. Sajian narasi maupun video pendek yang diperlihatkan membuat anak-anak sulit untuk mengalihkan perhatian penuhnya pada belajar di dunia nyata.

Orang-orang dulu akan merasa tidak puas dengan ilmu yang dicarinya dan anak-anak sekarang merasa tidak puas jika belum scrool tiktok, facebook, atau mengikuti trend viral kekinian tanpa suatu pola pikir kritis. Lagi-lagi kuncinya ialah membiasakan anak untuk menjadi terbiasa dalam hal belajar hingga kebiasaan itu membuat ia sadar bahwa dirinya harus belajar. Tidak heran apabila masih ada sebagian anak yang cukup kesulitan dalam hal membaca, menulis, menghitung apalagi untuk berpikir kritis dalam memutuskan sesuatu.

Mempersalahkan anak-anak bukanlah solusi kritis selain membuat kebijakan kreatif yang membentuk kebiasaan belajar anak baik lingkup sekolah maupun rumah.

Salah satu contoh pribadi yang sungguh memperoleh hasil yang luar biasa dari kebiasaan yang dibangunnya ialah James Clear, seorang penulis dan penceramah terkenal. Untuk menyelesaikan sebuah karyanya yang populer (Atomic Habits), James Clear harus bermatiraga dari media sosialnya. Caranya ialah dengan strategi manajemen waktu yang baru. Setiap akun media sosialnya akan direset oleh asistennya sehingga dalam rentang waktu yang cukup lama ia tidak terlempar ke dunia maya melainkan mengalihkan fokusnya pada riset dan menulis.

Hanya pada hari tertentu saja dalam sepekan, ia mendapatkan kesempatan untuk menengok sebentar media sosialnya, lalu selebihnya ia pakai untuk menulis. Manajemen waktu menghantarkan dirinya pada suatu kebiasaan menulis hingga akhirnya James Clear berhasil mempersembahkan kepada dunia sebuah buku bestseller berjudul Atomic Habits.

Dalam buku yang sama ia menulis “Sukses adalah produk kebiasaan sehari-hari, dan bukan transformasi yang hanya sekali seumur hidup.” Bahwa, berhasil atau gagal bukanlah akhir dari sebuah usaha melainkan kesetian pada kebiasaan itulah yang terus diperjuangkan. Pertanyaannya ialah, apakah kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan itu membawah seseorang pada hal positif atau tidak? Yang diperlukan ialah kepedulian untuk terus berusaha serta tidak sebatas puas dengan hasil yang ada. Banyak anak ingin menjadi pintar namun sebagian berusaha sedangkan yang lain sibuk dengan dunia maya.

Siapapun mempunyai kendali untuk membangun kebiasaan yang baik dan kebiasaan baik itulah yang akan membentuk dia. Sekolah dan rumah merupakan dua tempat berbeda yang dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk membangun kebiasaan belajar. Setiap guru maupun orang tua harus sebisa dan sekreatif mungkin membentuk kebiasaan belajar anak sejak dini. Hal sederhana seperti menyimpan peralatan belajar anak pada tempat tertentu yang mudah dijumpai mereka, memanajemen waktu khusus untuk belajar, adanya kontrol dan bimbingan, memberi mereka motivasi dan apresiasi, dsb.

Selain itu, para guru dan orang tua pun mesti menjadi teladan dalam membina kebiasaan anak. Jika lalai dan tidak konsisten pada komitmen maka sia-sialah usaha pertama yang telah dibangun. Tidak hanya itu tetapi anak-anak pun diajarkan untuk memiliki motivasi positif ketika mereka menjalankan kebiasaan belajar. Pada akhirnya bahwa kebiasaan tidak bisa dianggap sepele sebab dia merupakan akar yang dapat melahirkan orang hebat seturut impian Indonesia.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.