Keangkuhan Intelektual Seorang Sastrawan

oleh -1595 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Supadilah Iskandar

Di masa rezim Orde Baru, dunia kesusastraan kita seringkali mengandalkan dan mengagungkan pencapaian, ego dan suara yang paling keras. Padahal, menurut Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia, justru dalam kerendahan hati dan pikiran tenang, karya sastra akan tercipta dan tergarap dengan apik dan obyektif.

Pernyataan ini menjadi tamparan bagi dunia sastra kita, sekaligus perenungan yang mendalam tentang bagaimana kita melihat kekuatan dalam mencipta karya dan kreasi sastra yang baik. Secara implisit, apa yang dinyatakan penulis kelahiran Banten itu, bahwa kualitas terpenting dalam membentuk karakter tangguh bagi seorang penulis, bukan semata kepandaian dan kecerdasan intelektual, melainkan sikap tawadu dan kerendahan hati.

Seorang penulis dan sastrawan yang rendah-hati akan mudah mengakui secara gentlemen, bahwa dirinya masih butuh ilmu dan belum banyak tahu segalanya. Ia bersedia menerima masukan, terbuka terhadap kritikan, dan tidak melihat profesinya lebih tinggi dari profesi-profesi lain. Justru karena ia merasa belum tahu segalanya, maka sang penulis akan terus mencari, belajar, dan mengembangkan bakat dan imajinasinya.

Perlu dicamkan di sini, bahwa kesabaran seorang penulis identik dengan ketekunan dan keseriusan untuk menggali dan mendalami makna kebenaran. Untuk itu, sikap rendah-hati sama sekali bukanlah kelemahan, tetapi justru kekuatan dan keuletan untuk terus berpikir kritis dan menelusuri jalan kebenaran.

Kebanyakan penulis memang cenderung pendiam dan introvert, tetapi itu bukan berarti ia tak memiliki rasa percaya diri. Ketahuilah, bahwa dalam sejarah manusia, termasuk di dunia sastra, tokoh-tokoh besar yang benar-benar berdampak adalah mereka yang mampu merendahkan diri, baik di tengah kemenangan maupun saat berada di puncak kesuksesan. Sikap rendah hati juga menjadi pelindung dari jebakan ego, irihati dan kedengkian yang kadang dipupuk selama berpuluh tahun oleh kebanyakan sastrawan kita.

Banyak calon penulis atau sastrawan yang tergelincir oleh karena tidak lagi mendengarkan, tak mau belajar banyak, hingga akhirnya runtuh oleh keangkuhan dan kesombongannya sendiri. Perlu ditegaskan di sini, bahwa kesabaran dan ketenangan seorang penulis bukanlah jatuh gratis dari langit, tetapi ia adalah buah dari disiplin dan kemampuan untuk mengendalikan dirinya.

Di tangan orang-orang bijak seperti itulah, maka karya sastra akan terus membumi dan ditelusuri kebenarannya. Penulisnya akan memilih berkarya dalam kesunyian dan kesendirian, bahkan cenderung menghindari publisitas dan sorotan berlebihan. Dalam dunia yang penuh persaingan dan ambisi, kerendahan hati adalah napas segar seorang penulis, untuk menghidupkan kembali nilai-nilai kemanusiaan yang autentik.

Tipikal penulis semacam itu tak mudah menghakimi sesuatu, menggeneralisir, atau mengklaim secara hitam-putih belaka. Ia akan terus melakukan refleksi dan evaluasi diri, bahkan berani bertanya tentang apa yang belum diketahui; serta kabar dan informasi apa yang perlu didengar dan dicermati, hingga membuatnya lebih baik dari hari ini.

Dekadensi budaya

Di tengah degradasi budaya dan peradaban yang semakin melaju cepat, penuh sorotan dan publisitas yang tak terkendali, maka penulis yang memilih sikap rendah-hati adalah tindakan yang sangat tangguh dan pemberani. Karena memang, butuh keberanian untuk mengakui bahwa diri kita tidak sempurna; dan kekuatan sejati justru muncul dari pengakuan akan ketidaksempurnaan diri. Untuk itu, penulis yang rendah-hati akan sanggup menjaga diri dari bahaya ego; menciptakan ruang untuk belajar, terhubung, dan bertumbuh dengan cara yang lebih mendalam dan bermakna.

Keangkuhan intelektual penulis seringkali merasa dirinya serba tahu segalanya. Bagi Hafis Azhari, jebakan seperti ini sangat berbahaya bagi seorang sastrawan maupun intelektual di negeri ini. Sikap angkuh dan egoisme adalah awal dari kemunduran penulis, karena ia akan berhenti belajar, seakan menutup diri dari pengetahuan baru, sepenting apapun kualitas pengetahuan tersebut.

Padahal, hakikat kedirian manusia adalah makhluk pembelajar. Kemampuan untuk terus tumbuh, berkembang, dan beradaptasi akan dicapai oleh penulis yang merasa memerlukan ilmu baru untuk ditelusuri dan didalami makna kebenarannya. Namun, ketika ego mengambil-alih dan membuat penulis merasa bahwa ia sudah cukup pintar dan cukup berhasil, maka secara tidak sadar ia sedang menutup diri untuk tumbuh dan berkembang.

Kesombongan dan rasa puas diri membuat seorang penulis abai terhadap perubahan, tak mau mendengar masukan, dan akhirnya obsolete dan tertinggal oleh zaman. Untuk itu, seorang penulis atau seniman harus menyadari bahwa “seni menahan diri” di era kegaduhan dan kebisingan saat ini sangat diperlukan, jika ia ingin menapaki jenjang kesuksesan. Rasa ingin tahu, harus terus dihidupkan dalam dirinya. Ia harus berani menolak godaan untuk berhenti menggali lebih dalam. Karena saat ini, setiap pembelajar memiliki ruang yang lebih luas dan lapang; ia tidak cukup menggali dari buku, kertas, maupun institusi formal.

Bagi seorang penulis dan sastrawan yang baik, justru kritikan, caci-maki hingga percakapan biasa pun bisa menjadi sumber pembelajaran, karena ia telah terlatih untuk selalu bersikap rendah-hati dan pemaaf. Perspektif dan sudut pandang ini sangat relevan mengingat di era digital di mana informasi tersedia dalam hitungan detik, dan siapa pun bisa merasa menjadi “pakar” hanya karena viral atau memiliki banyak pengikut.

Tetapi sekali lagi perlu ditegaskan, bahwa popularitas bukanlah indikator dari sikap rendah-hati dan bijaksana. Sebaliknya, kebijaksanaan sejati muncul dari ketekunan dalam belajar, serta keberanian untuk terus introspeksi dan mengevaluasi diri. Penulis yang mudah tergoda untuk merasa tahu segalanya, justru di situlah letak awal kejatuhannya. Tetapi, dengan sikap rendah-hati ia akan terus membuka diri terhadap pengetahuan baru, serta memiliki semangat yang takkan pupus untuk terus menggali dan menelusuri.

Jebakan ego

Untuk itu, jebakan ego yang membuat penulis merasa lebih penting dari kenyataan, akan membuatnya tumpul dan menolak masukan, hingga pada akhirnya gagal paham, bahkan gagal dalam melihat kesalahannya sendiri. Barangkali itulah alasan utama novel Perasaan Orang Banten menampilkan seorang sastrawan dan penyair sebagai salah satu tokohnya (Taufik Ibrahim), karena menurut penulisnya, ia sering dikelilingi para sastrawan Indonesia yang gagal paham, terutama para seniman yang merasa bangga telah menjadi anak emas dewa Orde Baru. Mereka tak ubahnya para pejabat dan elit politik yang terlampau sibuk memoles pengakuan publik dan citra diri, bukannya tekun membangun kecerdasan dan kemampuan diri.

Padahal, ukuran kebesaran seorang sastrawan justru terletak pada perjalanan batin, pencapaian karakter, serta kontribusi nyata yang diberikan secara diam-diam, tanpa perlu mengumbar kepakaran dan keahliannya sebagai seniman. Jalan ini hanya mungkin dicapai oleh pribadi yang memiliki kerendahan hati untuk terus melangkah dalam belajar dan mencerdaskan diri. Ia paham pentingnya kekuatan untuk terus memaksimalkan kualitas karya dan kreasinya.

Seorang penulis yang terlena dan haus pujian, akan cenderung menutup mata terhadap risiko. Sebaliknya, penulis yang menyingkirkan ego akan terbuka terhadap perbaikan, refleksi, dan strategi baru yang lebih efektif. Ia akan mengambil banyak inspirasi dari tokoh-tokoh besar, bukan hanya dari kalangan seniman dan sastrawan, tetapi juga dari unsur-unsur kemanusiaan lainnya. Ia tidak silau oleh ketenaran dan popularitas sesaat, tetapi fokus pada tugas, keterpanggilan, serta tanggungjawabnya untuk melayani umat, agar mereka semakin tercerdaskan dan terdewasakan.

Penulis yang sukses dengan mengesampingkan ego dan kedengkiannya, ia akan senantiasa bersyukur, serta tidak menganggap kemenangan sebagai validasi eksistensinya, juga tidak melihat kegagalan sebagai kehancuran harga dirinya. Ketika seorang penulis mampu menahan dorongan ego untuk bersinar setiap saat, ia akan lebih konsisten dalam kegigihan perjuangannya, fokus pada kualitas kreasinya, dan tahan banting terhadap kritikan maupun kegagalan.

Dalam dunia literasi dan keilmuan, ego kerapkali menjadi penghalang kreativitas yang mumpuni. Di dunia yang saling terhubung seperti sekarang, keberhasilan individual sejati hanya bisa diraih dengan kerja sama, empati, dan kerendahan hati. Untuk itu, perlu dicermati bagi para penulis dan sastrawan di era milenial, apakah selama ini Anda berjuang untuk menjadi yang terbaik, ataukah sekadar hanya ingin terlihat seperti yang terbaik?

Apakah Anda membangun sesuatu, atau menulis karya sastra demi kebenaran dan keabadian, ataukah hanya sekadar menuruti tren sesaat, terlihat keren dan top, lalu dalam beberapa tahun menguap dari peredaran, lalu hilang dari ingatan publik? Perlu dicamkan sekali lagi, bahwa dengan menyingkirkan ego, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih tangguh, tetapi juga lebih tulus. Dan dalam ketulusan dan keikhlasan itulah keberhasilan akan mendapat keberkahan, serta dapat menemukan muaranya. ***

Penulis adalah pengajar dan peneliti sastra kontemporer Indonesia, telah menulis banyak esai dan prosa di berbagai media lokal dan nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.