Kajian Filsafat dalam Karya Hafis Azhari

oleh -1536 Dilihat
Doing yoga or meditating makes our minds creative. We will see the universe, galaxies, the mind is calm, the body is relieved from stress, flat illustration.
banner 468x60

Oleh: Muhamad Muckhlisin

Filsafat sebagai ilmu, sebenarnya sangat berguna dalam semua peran kehidupan manusia. Baik dari pemimpin di tingkat pusat maupun bagi para guru dan orang tua yang mendidik anak-anak mereka. Filsafat juga tidak hanya berguna bagi ilmuwan dan para pertapa di lembah gunung dan goa-goa, tetapi lebih penting lagi bagi para penulis dan sastrawan di negeri ini.

Filsafat bukanlah suatu pelarian dari kenyataan, melainkan panduan praktis untuk menghadapi kenyataan hidup itu sendiri. Bagi saya, seorang penulis yang sedang merangkai kata dan kalimat, para manajer yang memimpin tim dalam kondisi krisis, seorang ibu yang mengasuh anak dengan penuh kesabaran, bahkan seorang sopir yang tengah menghadapi kemacetan, semuanya tak lepas sedang menjalani peran mereka dalam berfilsafat, agar tetap menjaga kebijaksanaannya dalam kedamaian hati.

Dalam dunia kerja modern yang kompetitif, banyak orang mengalami stres, kelelahan mental, dan kehilangan arah. Untuk itu, filosofi hidup yang harus terbangun dalam dirinya adalah bagaimana agar ia terbiasa mengahadapi segala sesuatu yang tidak diinginkannya dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Ketika kesabaran itu telah menjadi bagian yang melekat dalam hidupnya, itu berarti dia telah pandai memainkan peranannya dalam berfilsafat.

Sastra filosofis

Sebagai seorang penulis dan sastrawan, niscaya karya-karyanya tak bernuansa abadi jika tidak disertai dengan kedalaman dalam berlogika dan berfilsafat. Tugas penulis menghindari permasalahan riil dan faktual tentang hakikat keindonesiaan, lalu melakukan “pelarian” dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Manusia berpenyakit bukanlah menghindari rasa sakit atau mencari kesenangan saat itu, melainkan menjalani dan mengambil hikmah dari rasa sakit itu, untuk kemudian bangkit dan dapat mensyukuri nikmat yang sehat.

Pelajari dan temukan makna dalam setiap tindakan, dengarkanlah kata-kata orang lain tanpa perlu menghakimi. Jadilah orang tua yang bijak dan sabar dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Saat ini, di tengah resesi ekonomi, perubahan iklim, konflik sosial, dan teknologi yang terus berubah, filsafat dunia dapat menjadi pegangan agar tetap eksis dan waras, hingga dapat menjadi penahan yang menstabilkan mentalitas kita. Ilmu filsafat bukan semata-mata sebagai teori akademik, tetapi sekaligus alat yang berguna bagi siapa saja, kapan saja dan di mana saja.

Menurut penulis novel Pikiran Orang Indonesia (POI), Hafis Ashari, banyak penulis dan sastrawan Indonesia merasa tak punya waktu untuk belajar filsafat. Seakan-akan mendalami ilmu filsafat diperlukan gelar akademik di bangku-bangku kuliah tertentu, padahal yang penting hanya kesediaan untuk merefleksikan tindakan, serta berpikir matang dan totalitas dalam berkreasi (menulis).

Apa pun alasannya, saat ini tidak ada peran yang tak layak untuk diajak berfilsafat. Terlebih lagi, petugas kebersihan yang memuatnya dengan integritas, tentu lebih mulia daripada eksekutif dan anggota dewan yang korup, termasuk penulis musiman yang karyanya mudah terhempas oleh dialektika zaman.

Dengan berpikir logis dan berfilsafat dengan baik, seorang penulis dapat menemukan ketenangan di tengah hiruk pikuk kesewenangan dan ketidakadilan zaman, lalu berupaya mencari solusi untuk menemukan arah terbaik bagi perubahan bangsa ini. Semuanya dimulai dari prinsip dan filosofi hidup yang sederhana, yakni menjalani hidup dalam andil dan tidaknya, keakuannya, hingga dapat menentukan arah dan identitas dirinya dengan baik.

Pemikiran filosofis yang tertuang dalam novel bab-bab POI, bukan semata-mata untuk mereka yang menyepi di puncak gunung, melainkan untuk kita yang berada di tengah masyarakat berbangsa dan bernegara. Bahwa menumpahkan darah dari satu nyawa warga negara Indonesia, sama artinya dengan menumpahkan darah manusia di seluruh muka bumi ini. Satu anggota tubuh tersakiti dan terzalimi, sama artinya dengan menzalimi tubuh-tubuh manusia seluruhnya.

Daya pikat sastra

Di saat dunia hiper-modern mengajarkan untuk menghindari rasa tidak nyaman, POI novel mengajak kita untuk menghadapinya dan mengolahnya menjadi kekuatan, hingga dijadikan batu loncatan untuk bangkit dan tumbuh. Bagi saya, novel tersebut tak pernah kehilangan relevansinya. Justru di era digital yang penuh ilusi dan kecemasan ini, kita butuh pegangan filosofi dari karya sastra yang membumi, realistis, dan memperkuat batin. Novel POI bukan sekadar tren motivasi sementara, tetapi dapat menjadi sistem berpikir yang bisa menjadi fondasi hidup bernegara dengan sebaik-baiknya.

Di kampus-kampus Untirta, UIN Jakarta hingga Unpam, sedang marak kalangan mahasiswa mulai mengcopy dan memperbanyak novel POI, sebagaimana tren di era 1990-an terhadap buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Namun, bagi Hafis sendiri, meskipun beberapa novelnya telah menjadi kajian akademik untuk bahan skripsi maupun disertasi, tetapi ia lebih mempersilakan kalangan pelajar untuk memperbanyaknya, tanpa perlu direpotkan oleh masalah hak cipta dari penulisnya. “Bagi saya, upaya menegakkan kebenaran dan keadilan adalah syiar yang wajib didakwakan kepada masyarakat. Alangkah naif jika suatu perusahaan menghalangi menyebarkannya ilmu, karena pada prinsipnya tak ada agama yang mengajarkan perlunya ilmu pengetahuan agar diperjual-belikan,” tandas Hafis Ashari.

Di tengah dunia yang tak menuntu, novel POI diarahkan pada pilihan, agar kita tidak hanyut di tengah kekacauan dan degradasi moral. Kita harus menjadi pribadi yang berdiri kokoh di tengah badai. Ia memperingatkan kita, bahwa kebahagiaan tidak datang dari dunia yang sempurna, tetapi dari pikiran yang dilatih dan hati yang tenang.

Novel POI tidak hanya berbicara tentang ketenangan sebagai gaya hidup, tetapi harus menjadi perlawanan terhadap kekacauan zaman yang diatur oleh rezim militer. Sikap Haris (tokoh utama POI) tidak bisa dikatakan pasif dan pendiam, tetapi berusaha aktif memilih untuk menjaga pikiran jernihnya dan menstabilkan hati di tengah hiruk-pikuknya zaman. Novel tersebut mengetuk hati para penulis milenial, agar jangan berisik dan bising oleh pikiran sendiri.

Kebanyakan penulis di era Orde Baru memang cenderung reaktif, gelisah, mudah terganggu, dan lupa untuk berhenti dan mengulang kembali sejenak. Padahal, orang-orang besar dalam sejarah kesusastraan dunia, semuanya serempak menghargai kesunyian dan kenyamanan. Kalaupun kesibukan itu tak bisa dihindari, paling tidak, penulis yang baik harus mampu memilah-milah prioritas. Jangan asal-asalan berkarya dengan tema-tema sampingan yang tak membawa kontribusi bagi pencerdasan bangsa ini. Jika kita hidup dengan kerangka yang jelas, pikiran dan imajinasi kita tidak lagi dikejar-kejar oleh hal-hal sepele yang tidak penting.

Tentu kita tidak mampu mengendalikan dunia yang kacau ini, tetapi yang paling tidak, kita bisa memilih untuk tidak ikut menjadi bagian dari kekacauan itu. Ketenangan adalah kebijaksanaan dalam suatu tindakan. Ia hadir dalam cara kita menanggapi komentar, menjawab WA, menyikapi teman, keluarga, atau penulis lain yang mengganggu. Terlebih lagi, kapan pun kita harus diam ketika semua orang berteriak dan berbicara lantang.

Penulis adalah peneliti sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, juga pemenang pertama lomba cerpen nasional yang diselenggarakan Harian Rakyat Sumbar.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.