Oleh: Anselmus Dore Woho Atasoge
Sabtu, 18 Oktober 2025, Gereja Paroki San Juan menggelar ‘Dialog Lintas Iman’ yang menghadirkan Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Flores Timur. Tulisan berikut ini merupakan sebuah ‘sisipan atas momen berahmat’ ini dengan sebuah gagasan atau lebih tepat gerakan yang disebut ‘Interfaith Sinodality’. Perspektif studi antar iman menjadi bingkainya.
Di tengah dunia yang semakin kompleks dan terfragmentasi oleh identitas agama, budaya, dan politik, gagasan Interfaith Sinodality hadir sebagai tawaran spiritual dan sosial yang relevan. Gagasan ini merupakan sebuah ajakan untuk hidup berdampingan, sekaligus merupakan panggilan untuk berjalan bersama ‘lintas iman’ demi membangun peradaban yang lebih manusiawi. Dalam konteks Indonesia yang multikultural, sinodality lintas iman merupakan kebutuhan nyata.
Gagasan ini berakar pada dua pendekatan penting. Pertama, pendekatan fenomenologis. Pendekatan ini mengajak kita untuk memahami agama lain dengan sikap apresiatif, tanpa semangat penaklukan atau pengkafiran. Kita tidak berpretensi membenarkan keyakinan sendiri dengan cara menafikan keyakinan orang lain. Sebaliknya, kita menjadi pemerhati dan pendengar yang baik, sehingga mampu memahami dan menghargai keberagaman tanpa niat konversi. Dalam konteks dialog lintas iman, kita tidak sedang berdebat untuk menang, tetapi sedang membangun jembatan untuk bertemu.
Paus Fransiskus dalam Fratelli Tutti (2020) menegaskan bahwa “dialog antaragama adalah jalan menuju perdamaian; bukan untuk menyamakan keyakinan, tetapi untuk saling mengenal dan menghargai.” Pernyataan ini memperkuat bahwa dialog yang tulus bukan ancaman bagi iman, melainkan jalan menuju kedalaman spiritual dan sosial.
Kedua, pendekatan perennialistik. Pendekatan ini membuka ruang bagi pencarian ‘kesatuan transendental’ di balik keragaman eksoterik agama-agama. Bahasa, simbol, dan tradisi boleh berbeda, tetapi di kedalaman spiritual, semua agama mengarah pada satu sikap: kepasrahan kepada Tuhan. Kita mungkin menyebut-Nya dengan nama yang berbeda, menyembah-Nya dengan cara yang berbeda, tetapi pada hakikatnya, kita semua sedang mencari Dia yang sama, Dia yang adalah Kasih.
Dialog perennial tidak ‘menegasikan perbedaan’. Sebaliknya, ia merayakan perbedaan sebagai jalan menuju ‘pemahaman yang lebih dalam’. Dalam dialog seperti ini, kita tidak hanya saling toleransi, tetapi saling belajar. Kita tidak hanya menghindari konflik, tetapi aktif membangun harmoni. Di Flores Timur, di mana umat Katolik hidup berdampingan dengan saudara Muslim, Protestan, dan Hindu, pendekatan ini menjadi fondasi penting bagi kehidupan bersama yang damai.
Tekanan dialog bukan pada debat, tetapi pada kesediaan untuk saling belajar dari pengalaman keberagamaan dan kebudayaan orang lain. Ketika kita membuka diri untuk mendengar kisah iman orang lain, kita sedang memperluas cakrawala kemanusiaan kita. Kita sedang membangun peradaban kasih yang tidak dibatasi oleh dogma, tetapi diperkaya oleh pengalaman.
Dalam terang ini, umat beriman dipanggil untuk menjadi terang dunia. Seperti sabda Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Dari sudut pandang ini, menjadi pelaku Interfaith Sinodality adalah menjadi pembawa terang yang tidak menyilaukan, tetapi menghangatkan. Terang yang tidak memaksa, tetapi mengundang. Terang yang tidak menghakimi, tetapi menghidupkan.
Jika kita ingin membangun masa depan yang damai, maka kita harus mulai dari langkah kecil: mendengar, memahami, dan menghargai. Karena dari sanalah ‘sinodality lahir’. Dan, dari sinodality, peradaban kemanusiaan akan tumbuh.***
Penulis adalah Staf Pengajar pada STIPAR Ende Flores








