Indonesia Raya untuk Semua!

oleh -341 Dilihat
banner 468x60


Oleh: Wilhelmus Tarsiani Alang

Delapan puluh satu tahun Sang Merah Putih tetap berdiri kokoh di atas tanah pertiwi. Rentang waktu tersebut menjadi usia yang matang untuk melahirkan rekam jejak sejarah bagi seluruh rakyat di pelosok tanah air. Jika dibandingkan dengan batas usia manusia, angka tersebut mungkin terasa begitu panjang. Kita hanyalah bagian kecil dalam perjalanan panjang bangsa ini. Kendati demikian, keterbatasan tersebut tidak meniadakan tanggung jawab kita terhadap keberlanjutan bangsa ini. Soekarno pernah mengatakan Indonesia tidak didirikan di bawah indahnya sinar bulan purnama, namun dalam palu godam peperangan. Perintisan negara ini menuntut pengorbanan bersama. Para pendiri bangsa telah menelan kepahitan dan mempertaruhkan nyawa demi mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Para pendahulu hidup dalam situasi tatkala bangsa ini belum terkonsolidasi sebagai satu kekuatan yang utuh. Sebagaimana direfleksikan dalam novel Bumi Manusia, penindasan terjadi bukan semata-mata karena kekayaan alam Nusantara melainkan karena pihak kolonial memahami realitas pribumi, sementara pribumi belum sepenuhnya mengenali diri dan pihak kolonial. Ketidaktahuan itu membuat bangsa ini mudah pecah dan dikuasai. Setiap daerah berjuang dengan kepentingannya masing-masing, sehingga sulit melihat dirinya sebagai bagian dari sebuah kesatuan yang lebih besar. Oleh karena itu, pengalaman penjajahan menjadi sebuah pelajaran tentang pentingnya kesadaran bersama atas identitas diri dan keberadaan sesama. Momentum 17 Agustus 1945 kemudian menjadi titik krusial konvergensi sejarah yaitu puncak dari penderitaan sekaligus titik lahirnya kedaulatan yang telah lama diimpikan.

Kemerdekaan Indonesia lahir dari proses panjang antara penderitaan dan perlawanan. Soekarno dan Mohammad Hatta merupakan dua figur yang tidak terpisahkan dari narasi tersebut. Keduanya menunjukkan bahwa kemerdekaan berkaitan erat dengan pengabdian total kepada rakyat. Soekarno menjadi pemimpin jauh sebelum mengampu jabatan kepresidenan karena perjuangannya tidak didorong oleh kepentingan pribadi. Demikian pula bung Hatta, yang menunjukkan kesederhanaan dan kesetiaan pada nasib rakyat melalui komitmen hidupnya, termasuk sumpahnya untuk tidak menikah sebelum Indonesia merdeka. Dalam wasiatnya Bung Hatta berpesan bahwa ketika meninggal ia tidak dikuburkan di taman makam pahlawan tetapi di perkuburan rakyat yang ia perjuangkan. Di titik inilah kemerdekaan memperoleh makna etisnya. Ia bukan sekedar terbebas dari belenggu fisik melainkan keberanian untuk memberikan diri bagi kemanusiaan.

Gejolak Kebangsaan dan Solusi Solidaritas

Tantangan generasi hari ini tentu telah bergeser ke ranah yang berbeda. Kita tidak lagi bertaruh nyawa menghadapi kolonialisme fisik. Namun, ruang perjuangan untuk menegakan keadilan sosial, menjamin kemanusiaan, dan merawat persatuan adalah agenda kebangsaan yang belum selesai. Tanggung jawab ini menjadi semakin penting mengingat Indonesia dibangun di atas keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke terbentang banyak suku, ras, agama, dan adat istiadat yang melekat pada bangsa ini. Namun, keberagaman tidak secara otomatis menghasilkan integrasi sosial. Perbedaan dapat menjadi modal sosial yang kuat ketika dibingkai oleh kesadaran berbangsa tetapi juga berpotensi menjadi pemicu disintegrasi jika tiap kelompok mengedepankan egosentrisme.

Kerentanan ini terbukti dalam rekam jejak sejarah bangsa. Akhir-akhir ini kita menyaksikan gejolak disintegrasi yang sedang membayangi daerah Aceh dan Papua. Konflik-konflik di daerah tersebut menunjukkan bahwa integrasi nasional dapat goyah dan menjadi rapuh tatkala ketimpangan sosial dan ketidakadilan masih dirasakan. Dari realitas ini kita memahami persatuan Indonesia bukanlah fenomena alamiah melainkan sebuah konsensus politik dan batin yang menuntut rasa adil di seluruh pelosok negeri. Oleh sebab itu, Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi menjadi jiwa dan cara hidup masyarakat. Menjaga persatuan dalam keberagaman bukanlah pekerjaan tambahan pasca kemerdekaan melainkan wujud dari kemerdekaan itu sendiri. Dalam diskursus publik saat ini makna keberagaman kerap salah diartikan.

Keberagaman kadang dipandang sebagai ancaman ketimbang anugerah. Situasi ini mengingatkan kita pada momen ketika Ibu Megawati diwawancarai dalam program Mata Najwa. Saat ditanya mengenai apa kata hatinya, beliau menjawab singkat; “Indonesia Raya”. Jawaban refleksi ini menyiratkan sebuah pertanyaan mendasar: Indonesia Raya seperti apa yang sedang kita bangun jika perbedaan masih begitu mudah membuat kita saling menjauh? Jika kita sungguh mencintai bangsa ini, keberagaman tidak boleh dijadikan alasan untuk saling meniadakan melainkan ruang untuk saling mengenali dan berjalan bersama. Cinta terhadap bangsa tidak boleh berhenti pada wacana abstrak sebab cinta tanpa tindakan nyata hanyalah klaim pasif.

Pembangunan nasional juga tidak boleh diukur sebatas melalui angka-angka statistik. Data dan survei ekonomi memang mampu memetakan grafik perkembangan. Namun, angka-angka tersebut kerap gagal menangkap realitas empiris di tingkat akar rumput, di mana masih banyak masyarakat yang belum merasakan kemerdekaan secara nyata baik lahir maupun batin. Kemerdekaan harus melepaskan manusia dari ketimpangan dan menghadirkan taraf hidup yang layak. Pertanyaan mendasar mengenai kemerdekaan tidak cukup dijawab dengan melihat pertumbuhan ekonomi secara umum, melainkan dengan menguji sejauh mana keadilan tersebut sungguh dirasakan oleh rakyat kecil.

Catatan akhir

Sebagai penutup dari opini ini, saya ingin menegaskan bahwa kedua proklamator telah memberikan teladan sejarah yang berharga. Namun, ada risiko bahwa narasi perjuangan mereka perlahan membeku menjadi sebatas arsip sejarah yang hanya dirayakan tahunan tanpa perenungan yang kritis. Perjuangan masa kini tidak mungkin dilakukan dengan mereplikasi metode masa lalu, sebab tantangan zaman telah bertransformasi. Akan tetapi semangat untuk mengutamakan kepentingan publik, merawat persatuan, dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat tetap menjadi panggilan moral kita. Generasi hari ini adalah penulis babak baru bagi masa depan yang menentukan apakah nilai-nilai kemerdekaan akan membeku sebagai cerita masa lalu atau terus bergerak menjadi energi perubahan.

Panggilan moral tersebut menuntut kejelian kita untuk hadir secara nyata di tengah krisis kemanusiaan. Duka yang menimpa saudara-saudara kita akibat bencana gempa bumi yang sudah dan sedang terjadi di Flores saat ini memperingatkan kita akan pentingnya arti ketulusan untuk saling mengulurkan tangan. Mengalirkan solidaritas kepada saudara-saudara yang menderita di Flores adalah manifestasi paling jujur dari cara kita merawat keindonesiaan hari ini. Sebab penderitaan mereka adalah penderitaan kita bersama. Ketika satu bagian Indonesia terluka, seluruh Indonesia hendaknya ikut merasakan luka itu. Maka Indonesia Raya untuk semua berarti tidak membiarkan satu pun bagian dari bangsa ini menghadapi penderitaannya seorang diri. Sebab pada akhirnya, merdeka bukan sekadar status hukum melainkan sebuah kata kerja: sesuatu yang harus terus kita hidupi, perjuangkan demi mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.