Ihkwal Kesendirian Seorang Penulis Banten

oleh -1491 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Banyak penulis yang melahirkan karya-karya bagus cenderung membuat pembacanya ketagihan atau kecanduan. Tak beda jauh dengan ahli kuliner yang membuat masakan enak dan lezat, lalu penikmatnya ketagihan ingin membeli dan memakan kue yang dia buat. Kadang penulis membangun rencana seperti itu, hingga berpikir dalam konteks dan ruang lingkup peristiwa yang sedang hot dan viral di tengah masyarakat.

Dari sisi mentalitas, kebanyakan penulis itu introvert dan penyendiri, meskipun ada penulis yang menyukai keramaian. Jika dibandingkan dengan karakter dan mentalitas pembaca dan penggemarnya, sebenarnya tak begitu jauh, karena dia pun menjadi bagian dari komunitasnya, serta pertumbuhan masyarakat di sekelilingnya.

Meskipun banyak penulis Indonesia yang condong ke budaya Barat, bahkan mengadopsi gaya penulisan para sastrawan Eropa-Amerika, namun mentalitas mereka tetaplah Asia Tenggara yang cenderung santai, bersiul merdu di bawah sepoi-sepoi nyiur di tepi pantai. Atau menghisap rokok kretek bersenda gurau bersama perkutut piaraan, ditemani segelas teh manis dan sepiring pisang goreng di atas meja.

Sastrawan Iwan Simatupang pernah menyangsikan dirinya yang terlmpau banyak membaca sastra Barat, hingga karya-karyanya, lewat perjalanan waktu dinilainya sendiri sebagai Barat-sentris, sampai akhirnya dia berkesimpulan, “Celaka jika kita terlampau banyak membaca sastra Barat.”

Di era milenial ini, cukup banyak sastrawan muda yang diilhami oleh eksistensialisme Sartre, Albert Camus, Nietzsche, Kafka, Chechov dan lain-lain. Kadang mereka berkarya sambil ditemani alunan musik yang sehaluan dengan aliran sastra yang mereka sukai, seperti Metallica, Sepultura, Nirvana, Soundgarden, Pearl Jam dan lain-lain. Jika pun di Indonesia belum diterbitkan karya-karya peraih nobel untuk tahun ini, mereka mudah bepergian ke mana saja, untuk mendapatkan karya siaiapun dalam terjemahan bahasa Inggris.

Seorang penyendiri

Penulis novel Pikiran Orang Indonesia, Hafis Azhari mengakui, jarang membaca karya-karya sastra dalam negeri, khususnya di era rezim pemerintah Orde Baru. Baginya, hasil kreasi seniman yang diselubungi bayang-bayang militerisme cenderung mengabaikan kedalaman ide dan gagasan, malah sibuk di wilayah utak-atik kemolekan diksi dan bahasa. Mereka lebih banyak melarikan diri ke metafora, karena takut untuk bicara tentang realitas dan kebenaran.

Ketika ia diundang untuk menjadi pembicara tunggal dalam acara bedah bukunya di Rangkasbitung, Banten, dan banyak penulis lain dihadirkan oleh panitia, justru Hafis tidak banyak mengenal mereka satu persatu. Ia menyatakan permintaan maaf, karena sebagai penulis, ia lebih banyak mengingat karakter tokoh yang ditulisnya ketimbang mengingat nama atau tanggal dari suatu peristiwa, atau bahkan wajah seorang teman lama. Dalam acara tersebut, Hafis membahas tentang penulis Indonesia (ia tak menyebutkan namanya), pernah menulis beratus-ratus halaman, lalu menyimpulkan bahwa karya-karya Pramoedya sehaluan dengan karya-karya eksistensialisme Eropa (Prancis) yang cenderung absurd. Pramoedya bahkan pernah menerima bantuan mesin ketik dari Jean Paul Sartre ketika ia sedang menulis Bumi Manusia di Pulau Buru, namun mesin ketik itu disita militer penjaga, dan tak sampai di tangannya.

Ketika dikonfirmasi oleh Hafis Azhari di kediamannya, Pramoedya menolak dirinya dipersamakan dengan sastrawan beraliran eksistensialisme. Dia justru berterimakasih kepada Sartre, karena bantuan apapun yang diberikan bagi orang yang membutuhkan pasti memiliki nilai kebaikan, terlepas apakah bantuan itu sampai ataukah tidak. Itu bukan peristiwa absurd. “Yang ditulis oleh Pram seumumnya adalah tokoh-tokoh heroik yang melawan kesewenangan penguasa. Di situ ada harapan yang optimistis untuk menggugat dan melawan ketidakadilan. Jangan sampai intelektual Indonesia justru gagal paham dalam menilai karya sastra anak bangsanya sendiri,” ujar penulis novel Pikiran Orang Indonesia itu.

Saya pernah menghadiri acara yang digagas para wartawan Antara, di mana Hafis bertindak selaku pembicara dalam suatu diskusi bertajuk “Pemuda dan Terorisme” yang dikaitkan dengan novel-novel karyanya. Banyak sastrawan dan wartawan senior dilibatkan, tetapi saya membaca seakan-akan Hafis tidak merasa menjadi bagian dari komunitas sastrawan Indonesia. Ia mengakui dirinya tak suka berkumpul dan bergerombol dengan komunitas penulis yang sering didanai oleh pemerintah daerah, maupun pengusaha yang berafiliasi dengan partai politik tertentu. Selain membaca karya-karya Pram, ia pun banyak menyimak karya-karya Rendra, Idrus hingga Y.B. Mangunwijaya. Meskipun, ia menolak untuk banyak menulis kritik sastra, karena pekerjaan itu cenderung menghakimi penulis ketimbang memantau dan mengamati.

Kecerdasan penulis

Ketika saya menulis cerpen, “Jimat dari Mayor Gibran” (Koran Tempo), pada awalnya saya tidak tahu bagaimana ceritanya akan berakhir, atau apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika ada kasus kematian dari salah satu tokoh, kadang saya pun sulit untuk merunut apa penyebabnya, atau apa yang menimbulkan sang tokoh terjatuh dalam keterpurukan. Misalnya, dalam cerpen “Adu Domba” (Espos.id), bagaimana sesorang menebar hoaks sampai-sampai ia tak menyadari parahnya akibat yang ditimbulkan dari mengumbar gosip dan kebohongan itu.

Memang diperlukan mental kecerdasan, hingga kekuatan fisik agar kita fokus menulis karya sastra secara intens. Saya membayangkan, bagaimana Hafis mengurai plot-plot yang kompleks dan jenaka, dengan puluhan karakter tokoh yang berseliweran di ranah Banten, lalu dikombinasikan sademikian rupa hingga menjadi miniatur karakteristik manusia Indonesia. Dalam novel tersebut sudah terwakili kompleksitas masyarakat kekinian, dari politisi kampungan yang minim keilmuwan, tokoh agama yang kepincut ke politik praktis, pengusaha ndeso yang berjiwa inlander, para janda yang kegatelan, artis dangdut yang kaya mendadak (lalu bangkrut kembali), orang senewen yang menyamar jadi seniman, tukang pangkas rambut yang dulunya aktivis partai berhaluan kiri (PKI), purnawirawan ABRI yang jatuh cinta di usia senja, bahkan seorang haji yang dulunya tukang koar-koar dengan lagak seorang habib palsu. Semuanya bermunculan di era kekinian, bagaikan benih-benih yang menerobos keluar mencari cahaya terang. Padahal, novel itu diterbitkan sejak tahun 2012 lalu, dan langsung diadakan bedah bukunya di Rumah Dunia, Banten.

Seumumnya penulis, Hafis pun mengakui lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Dari situ ia terpengaruh hingga sanggup memunculkan banyak karakter yang lebih nyata daripada kenyataan hidup itu sendiri. Bahkan, ia pun tek ragu menampilkan karakter-karakter seniman dan sastrawan, seperti dalam cerpennya yang fenomenal, “Jejak Langkah Sastrawan Muda” (Radarntt.net), atau “Kabar Kematian Seorang Pujangga” (Litera.co.id).

Kadang ada tokoh wanita yang ditampilkan sebagai medium, atau semacam komitmen jiwa. Jika hubungan dengan wanita baik, maka luka-luka akan tersembuhkan, bahkan imajinasi akan terbangun dengan kuat dan kokoh.  Semacam jalan menuju tempat yang lebih baik dan lebih tinggi (alam malakut). Dalam tokoh Jamilah atau Ida Farida, kedua wanita itu seakan menghilang hingga kenangan akan keduanya seakan menghantui. Tokoh Ida Farida cenderung vokal, eksentrik, dan terbuka secara seksual, hingga protagonis berinteraksi dengannya dengan cara yang jauh lebih hangat dibandingkan dengan Jamilah yang dibesarkan dalam tradisi perkampungan.

Menurut Hafis, hal yang esensial dari tokoh wanita, dapat berfungsi selaku jembatan antara pikiran waras dan tidak waras. Penulis memiliki bagian dari pikiran waras dengan yang senewen. Ia terus-menerus melakukan negosiasi antara kedua jenis pikiran itu. Ia akan melihat bagian pikiran yang tidak waras melalui petualangan ke dalam diri, justru pada saat menulis cerita. Seandainya ia tidak memiliki bagian yang tidak waras, bagian yang sakit, maka ia tidak memiliki kekayaan karakter yang akan dituangkan melalui tokoh-tokohnya. Karena itu, protagonisnya sering didampingi oleh tokoh wanita, hingga ia dapat leluasa melanglang buana, menembus batas-batas untuk menuju alam ma’rifat yang bersifat ilahiyah. Di situlah keunikan karya-karya Hafis Azhari, yang sampai saat ini masih terus menjadi perbincangan publik. ***

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia, prosaik dan esais di berbagai media nasional, termasuk harian Kompas, Koran Tempo, Republika dan berbagai platform daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.