Idul Adha dan Jalan Keterbukaan

oleh -279 Dilihat
banner 468x60


Oleh: Wilhelmus Tarsiani Alang

Kerukunan ternyata tidak selalu berarti keterbukaan. Di Indonesia kita hidup dalam bentang realitas yang multi religius, tetapi relasi antaragama di dalamnya kerap kali rapuh. Di balik senyum ramah keseharian, masih tersimpan riak ketegangan sosial yang dipicu oleh sentimen keagamaan: mulai dari prasangka yang berlebihan, intoleransi yang terselubung, hingga kecurigaan yang perlahan mengikis kohesi sosial. Agama yang secara teologis diimani sebagai jangkar kedamaian, dalam realitas sosial justru kerap kali ditarik paksa menjadi barikade untuk menegakkan batas-batas sosial yang kaku. Akibatnya, masyarakat kita baru sebatas hidup berdampingan namun belum sungguh-sungguh hidup bersama.

Situasi ini menunjukkan bahwa ruang sosial kita sesungguhnya tidak mengalami kelangkaan wacana toleransi. Seminar lintas agama, forum kerukunan, dan seruan perdamaian terus digemakan di berbagai ruang publik. Namun dititik inilah persoalan mulai terlihat. Sering kali, ruang publik kita terjebak dalam batas-batas formalitas yang kaku. Dialog teologis yang digagas oleh para tokoh agama dan akademisi tentu memiliki peran yang sangat krusial. Ia bisa memberi arah, panduan etis, dan batasan teologis yang ketat agar umat tidak tersesat dalam prasangka dogmatis. Namun, dialog pemikiran di hulu ini perlu disempurnakan di hilir oleh dialog kehidupan dalam masyarakat akar rumput. Tanpa landasan teologis yang matang dialog di tingkat akar rumput rentan goyah dan mudah terseret arus gesekan dogma saat terjadi konflik. Hal ini dikarenakan, tanpa implementasi nyata di lapangan teori perdamaian yang dirumuskan di hulu akan kehilangan jiwanya. Keduanya harus bekerja laksana dua sayap burung yang saling melengkapi dan tidak boleh saling menyepelekan.

Idul Adha dan Lokus Perjumpaan Riil

Di tengah kebutuhan untuk membumikan formulasi teologis para tokoh agama di hulu inilah kita perlu mendalami refleksi perayaan Idul Adha. Perayaan ini hadir sebagai oase perjumpaan yang sangat konkret antarsesama manusia. Dia bukan sekedar ritual penyembelihan hewan kurban tahunan, melainkan sebuah peristiwa sosial yang membongkar sekat-sekat isolasi iman. Secara hakiki ibadah kurban ini merupakan bentuk penghambaan dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penghambaan ini kemudian diwujudkan secara nyata melalui kepedulian terhadap sesama terutama mereka yang miskin dan berkekurangan. Nilai universal inilah yang membuat dimensi sosial perayaan Idul Adha melampaui batas identitas satu agama saja.

Dalam bentang sosial masyarakat kita, perayaan ini kerap kali menciptakan ruang perjumpaan yang jujur. Kita menyaksikan bagaimana warga lintas iman ikut terlibat aktif secara sukarela: membantu menjaga ketertiban, mendistribusi daging kurban, atau hadir sebagai tetangga yang turut merayakan. Di sinilah gagasan perdamaian yang dirumuskan para tokoh agama di hulu menemukan bentuk laboratoriumnya di lapangan. Ia ditarik turun ke hilir menuju pelataran tanah tempat warga saling berbagi kehidupan. Perjumpaan terkuat antariman justru lahir dari tindakan-tindakan kemanusiaan yang paling sederhana. Ketika kita bersedia membuka ruang sosial bagi yang berbeda, saat itulah dialog yang sejati sedang ditulis tanpa perlu banyak retorika.

Identitas yang rapuh dalam kacamata Marianne Moyaert

Marianne Moyaert (lahir 1974) dalam magnum opusnya “Fragile Identities Towards a Theology of Interreligious Hospitality” memperkenalkan konsep tentang keterbukaan hermeneutis (Hermeneutics  openness). Menurut Moyaert dialog antaragama membutuhkan keterbukaan hermeneutis yakni kesediaan untuk memahami liyan (orang lain) dari cara mereka memahami dirinya sendiri. Dalam kerangka berpikir ini, kita dituntut untuk melipatgandakan kerendahan hati. Caranya adalah tidak memaksakan ukuran, dogma, atau kategori iman kita sendiri untuk menghakimi orang lain. Sebaliknya, berusaha mendengarkan bagaimana pihak lain memaknai iman dan keyakinannya. Dalam hal ini keterbukaan bukan berarti mencampuradukkan keyakinan atau mengorbankan identitas agama kita sendiri. Keterbukaan justru menuntut keberanian untuk menerima bahwa orang lain memiliki pengalaman iman cara pandang, dan pemahaman hidup yang mungkin berbeda dari diri kita. Karena itu, dialog tidak boleh berubah menjadi usaha membaca agama lain berdasarkan ukuran iman sendiri.

Moyaert juga menawarkan sebuah paradoks teologis yang sangat indah yaitu pentingnya mengakui identitas yang rapuh (Fragile Identities). Konsep kerapuhan ini tentunya tidak boleh disalah artikan sebagai kedangkalan iman atau kerentanan untuk murtad. Kerapuhan di sini adalah bentuk kerentanan yang disengaja. Hanya iman yang dewasa dan matang yang berani menjadi rentan. Ia tidak takut membuka pintu rumah keyakinannya untuk menerima embusan angin dari keyakinan yang liyan. Ia justru membiarkan dirinya disentuh dan diperkaya oleh keindahan iman yang berbeda tersebut. Kerapuhan ini adalah antitesis dari ego teologis yang kaku, yang selama ini kerap kali melahirkan kecurigaan dalam relasi antariman.

Pemikiran Moyaert menjadi penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang multireligius. Banyak konflik antaragama sebenarnya lahir bukan semata-semata karena perbudakan iman, tetapi karena kegagalan memahami orang lain dalam keberbedaannya. Orang lebih mudah menilai daripada mendengar, lebih sibuk mempertahankan identitas daripada membuka ruang perjumpaan. Akibatnya, relasi antaragama dipenuhi prasangka yang terus diwariskan dalam kehidupan sosial.

Hemat penulis, disinilah Idul Adha dan gagasan Moyaert bertemu pada satu titik simpul. Perayaan kurban mengajarkan bahwa kedekatan kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari keterbukaan dan kepedulian terhadap sesama. Ketika solidaritas sosial Idul Adha dihayati sebagai bentuk hospitalitas interreligius, kita sedang merawat identitas iman yang tidak hanya kokoh ke dalam tetapi juga ramah dan terbuka keluar.

Membangun Keterbukaan dalam Kehidupan Bersama

Berdasarkan refleksi di atas, ada tiga hal penting yang perlu dibangun untuk memperkuat kehidupan bersama dalam masyarakat multireligius.

Pertama, dialog antaragama perlu lebih banyak dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebatas dalam forum formal dan seremonial. Kehidupan bersama di tingkat masyarakat justru menjadi ruang paling nyata untuk membangun keterbukaan antariman.

Kedua, nilai solidaritas sosial yang tampak dalam Idul Adha perlu terus dijaga sebagai budaya bersama. Sebab kepedulian terhadap sesama seringkali mampu membuka ruang perjumpaan yang tidak dapat dibangun hanya mYelalui diskusi formal.

Ketiga, masyarakat perlu belajar mendengarkan dan memahami orang lain dari cara mereka memahami dirinya sendiri, bukan melalui prasangka atau penilaian sepihak. Sikap inilah yang menjadi inti dari keterbukaan hermeneutis sebagaimana Marianne Moyaert.

Catatan akhir

Pada akhirnya, penulis ingin menegaskan bahwa masyarakat Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang kerukunan. Yang lebih dibutuhkan adalah keberanian untuk membuka diri terhadap mereka yang berbeda. Idul Adha 2026 yang kita rayakan kemarin, mengingatkan kita bahwa jalan menuju Tuhan selalu melewati jalan kemanusiaan.

Dialog antaragama yang sejati tidak cukup berhenti pada tataran pertukaran ide, melainkan baru menemukan jiwanya ketika adanya kesediaan untuk hadir, berbagi, dan memanusiakan sesama. Sebab dialog yang sejati bukan hanya berbicara tentang perdamaian tetapi keberanian untuk hidup bersama di tengah perbedaan. Oleh karena itu, mari kita meninggalkan ego kita untuk lebih terbuka dan menerima liyan (saudara kita) dengan seluruh kekhasannya.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.