“Hidden Heroes“ yang Terlupakan

oleh -1710 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Polykarp Ulin Agan

Di era “i-zation“ (Adam Possamai, 2018), yang ditandai oleh digitalisasi berbagai bidang kehidupan, sorotan media jarang diarahkan pada kisah dan hikayat para pahlawan sehari-hari. Mereka memang tidak pernah meminta apalagi mengemis gemerlap sorotan lampu warna warni, tetapi sejujurnya merekalah pahlawan penting yang memainkan peran tak tergantikan di balik layar. Air mata yang tertumpah di atas lembaran ketekunan dan kesederhanaannya pun kerap luput dari hingar bingar berita media.

Tetapi tidak demikian untuk seorang filsuf ulung sekelas Aristoteles (384 – 322 SM). Dalam teorinya tentang kebajikan, ia menegaskan bahwa bobot moral yang membentuk martabat seseorang tidak ditentukan oleh aksi-aksi besar dan spektakuler yang terjadi secara sporadis, melainkan oleh praktik hidup harian yang dijalankan dengan tekun. Baginya, memberikan pelayanan yang sama setiap hari kepada seseorang yang membutuhkan tanpa merasa bosan, atau mendidik seorang anak berkebutuhan khusus tanpa menyerah, merupakan bentuk heroisme yang sarat makna.

Imperatif Moral Kantian dan “Pahlawan Senyap“ di NTT

Sorotan Aristoteles pun gayung bersambut dalam tradisi dan filsafat Immanuel Kant (1724-1804). Berpatokan dan berpegang pada prinsip moral universal, Kant meneropong kekuasaan dikotomis antara penghargaan di satu pihak dan tanggungjawab moral di lain pihak. Para pahlawan tanpa sorotan cahaya adalah mereka yang melaksanakan kewajiban bukan demi sekeping penghargaan, melainkan karena sengatan tanggungjawab moral yang diemban dalam kebebasan sebagai subjek.

“Pahlawan tanpa sorotan cahaya“ yang dimaksud di sini adalah semua mereka yang tidak pernah menyerah untuk menaburkan benih-benih kebaikan, bahkan di tengah situasi yang tidak menguntungkannya secara pribadi. Dari perspektif utilitarian, John Stuart Mill (1806-1873) menyebut mereka sebagai pahlawan sehari-hari yang memancarkan bias sosial melalui tindakan-tindakan sederhana. Yang paling menentukan adalah bagaimana tindakan sederhana itu melahirkan efek berantai bagi bonum commune. Dramatisasi tindakan demi kepentingan sorotan media bukanlah sesuatu yang layak diperjuangkan di sini.

Berbicara tentang “pahlawan senyap“ dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), aktor di balik layanan kesehatan tidak bisa begitu saja dikesampingkan. Para bidan desa dan tenaga kesehatan lokal adalah garda terdepan yang sesungguhnya. Kondisi NTT yang masih ditandai oleh tingginya angka kematian bayi—sebuah situasi yang sekaligus mengafirmasi urgensi kehadiran para bidan desa dan tenaga kesehatan lokal—kiranya cukup untuk melegitimasi klaim tersebut. Heroisme mereka berpijak pada sebuah imperatif moral ala Kant yang menggetarkan nurani: dorongan untuk menyelamatkan nyawa tanpa perlu sorotan lampu dan tepuk tangan.

Selain pelayanan kesehatan, “pahlawan senyap“ dalam bidang pendidikan pun tidak boleh dilupakan. Seorang guru honorer yang rela menempuh perjalanan jauh untuk memberikan pespektif masa depan kepada anak-anak adalah sosok yang berjalan pada tapal imperatif moral Kantian. Ia tidak melakukan tugasnya karena janji mamon, melainkan karena tanggungjawab moral universal yang berembus dalam jiwanya.

Memang jika ditilik lebih cermat, tindakan para “pahlawan senyap“ ini sekilas tampak absurd. Namun, filsuf Albert Camus (1913-1960) mungkin tidak akan sepesimis kita. Ia mengingatkan bahwa tindakan-tindakan kecil yang sarat makna di tengah absurditas hidup justru memberi “nilai lebih“ pada eksistensi manusia. Nilai keberadaan mereka dimuliakan oleh kenyataan bahwa perbuatan sederhana itu memanusiakan manusia di tengah situasi yang jauh dari sempurna.

Belajar Menghargai yang Biasa: Heroisme Sejati Bukan tentang Spektakel

Fenomena yang digambarkan di atas mengingatkan kita pada kisah-kisah dalam Hidden Heroes: Anthology of North Korean Fiction (2025). Dalam karya yang disunting oleh Immanuel Kim dan Benoit Berthelier ini, orang-orang yang dinamakan pahlawan itu bukanlah pemimpin nasional atau tokoh legendaris, melainkan orang-orang yang sering tidak diperhitungkan seperti pekerja pabrik dan para karyawan yang melakukan tugas-tugas hariannya tanpa menunggu pujian.

Mereka tidak mengejar popularitas. Apa yang dihasilkan dari kerjanya adalah buah rutinitas yang tampak sederhana. Mereka juga tidak mengejar status sosial atau pengakuan. Mereka hanya menunjukkan keberaniannya untuk melakukan apa yang dapat dibuat sesuai dengan kapasitas pribadinya. Mereka tidak mencari panggung. Panggungnya adalah dunia keseharian yang biasa.

Heroisme seperti inilah yang oleh Hannah Arendt (1906-1975) disebut sebagai “banalitas kebaikan“. Dari tindakan-tindakan yang dilakukan apa adanya, tanpa intensi yang tendensius, muncullah buah-buah kebaikan. Hal-hal yang tampak biasa, bila dilakukan secara rutin dan penuh tanggungjawab, akan dapat membawa perubahan besar.

“Banalitas kebaikan“-lah yang sesungguhnya mengukir heroisme pada pribadi seseorang. Lukisan itu terpampang pada wajah para ibu rumah tangga di pelosok negri ini. Di tengah keterbatasan ekonomi rumah tangga, mereka mengencangkan ikat pinggangnya untuk “menenun“ masa depan bagi anak-anaknya. Lukisan itu tampak pula pada paras guru honorer yang rela menerjang kabut dan badai demi mencerdaskan anak bangsa di daerah-daerah yang tidak terjangkau peradaban. Last but not least, ia terpatri pada sorotan mata seorang anak yatim piatu yang menanak nasi dengan “airmata dan keringat“ demi menyambung hidupnya.

Yang luar biasa memang selalu indah, tetapi perubahan kerap muncul dari hal-hal yang biasa. Ia muncul dari semangat para “pahlawan senyap“ yang diam-diam menyalahkan lilin harapan. Ia tumbuh dari kesabaran para pejuang yang bekerja tanpa sorotan. Pahlawan sejati tidak mengumbar janji dan mimpinya di layar kaca. Mereka meneteskan keringat di susut-sudut kehidupan. Di sanalah, dalam ruang yang paling sunyi, makna heroisme yang paling murni tersimpan. Heroisme sejati itu bukan tentang spektakel, melainkan tentang komitmen dan integritas demi sebuah tujuan yang lebih mulia.

Penulis adalah Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT (Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.