Oleh: Indah Noviariesta
“Jika hidup manusia lebih fokus pada pencapaian ketimbang nilai dan kualitas hidup, niscaya ia akan bersikap angkuh dan pongah saat pencapaian itu berada di tangannya.” (Hafis Azhari, penulis novel Pikiran Orang Indonesia)
Islam sangat menekankan pentingnya rasa syukur dan bersikap tawadhu (rendah hati) ketika manusia telah menggenggam kesuksesan dalam hidupnya. Banyak orang terjebak dalam godaan ego saat mereka mencapai kesuksesan. Padahal, ciri khas dari kesombongan akan membuat orang berhenti belajar, merasa tahu segalanya, hingga dipastikan akan sulit tumbuh untuk mengembangkan bakat dan prestasinya.
Seorang petenis meja tunggal putera dari China, Ma Long, setelah meraih ketiga kali medali emas Olimpiade di Paris (2024), ketika diwawancarai tentang kesuksesannya sebagai petenis meja terhebat sepanjang masa, justru dengan rendah-hati menyatakan bahwa rahasianya adalah “bersyukur”. Ini sangat paralel dengan pernyataan Al-Quran, ketika hamba Tuhan bersyukur atas anugerah kenikmatan yang diberikan oleh-Nya, dijamin Tuhan akan menambah dan menambah terus kualitas kenikmatan tersebut.
Sikap yang menolak rasa syukur identik dengan kesombongan atau kufur nikmat. Seorang ahli syukur, senantiasa menyadari bahwa pencapaian kesuksesan dalam hidup tidaklah abadi. Bahkan, kehidupan manusia itu pun bersifat fana dan sementara. Tidak ada yang lebih hina dibandingkan orang yang angkuh dan menyombongkan diri atas sesuatu yang dicapainya, sehingga ego dan hawa nafsunya dibiarkan jadi pemenang.
Mereka yang dikuasai ego, kegagalan dianggap makhluk langka dan membahayakan, hingga sulit baginya untuk menerima kenyataan hidup. Padahal, kegagalan adalah keniscayaan, karena segala hal yang menguntungkan dan merugikan dipergilirkan kepada setiap manusia, tergantung dari bagaimana cara menyikapinya.
Bagi seorang ahli syukur, kejatuhan dan kegagalan akan dihadapi dengan ketenangan dan kesabaran. Sementara, kesuksesan hidup yang dialami seorang kufur nikmat, justru akan mempersempit ruang gerak dan jiwanya, karena merasa terbelenggu oleh pencapaian yang lebih tinggi lagi. Ia takkan puas dengan hasil akhir yang ditentukan Tuhan, hingga Rasulullah mewanti-wanti manusia yang kufur nikmat identik dengan sifat tamak dan serakah. “Jika pun satu gunung emas berada dalam genggamannya, niscaya ia akan menyibukkan diri untuk mengejar-ngejar yang kedua maupun ketiga dari gunung emas tersebut.”
Pernyataan Rasulullah menunjukkan, bahwa seorang yang serakah akan selalu disibukkan oleh pencapaian tiada akhir. Sedangkan, kehidupan yang bermakna akan lahir dari kontribusi, dedikasi, dan komitmen terhadap sikap tawadlu dan rasa syukur, baik kepada Tuhannya maupun kepada pihak-pihak yang pernah membantu dan memberinya jalan kepada kesuksesan.
Saat ini, degradasi yang dihembuskan media sosial, seringkali terpicu oleh ego-ego demi untuk pencarian popularitas, jumlah pengikut, hingga validasi digital. Banyak orang yang menghindari sistem pembelajaran agar hidup lebih tenang dan fokus pada nilai-nilai yang bermakna. Tak terkecuali para pejabat publik hingga tokoh agama yang disibukkan oleh pencapaian, hingga terperangkap oleh ego, hawa nafsu, hingga kesulitan mencapai hidup lebih seimbang serta tahan terhadap guncangan zaman.
Pernyataan sang petenis meja Ma Long di atas, mengindikasikan bahwa kesuksesan sangat terkait erat dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati, hingga manusia sanggup menemukan jalan hidup yang lebih bermakna dan berkualitas. Karakter seperti itu, meniscayakan ego sebagai musuh yang harus ditaklukkan. Meski semua orang menyadari, bahwa mengalahkan ego bukanlah perkara mudah, tetapi dengan melatih diri dan ketekunan, seseorang akan dapat menemukan kunci-kunci menuju kebahagiaan dan keberhasilan sejati.
Secara implisit, dapat dikatakan bahwa ego dan hawa nafsu akan merusak kesuksesan manusia. Dalam waktu sekejap, seseorang merasa dirinya sukses dan berhasil, namun jika disertai kesombongan justru akan merusak nama baik dan citra dirinya. Itulah yang disebut dengan sukses namun tidak membwa berkah. Sebab, dalam keberkahan nilai kesuksesan akan langgeng dan membawa manusia pada kebahagiaan sejati, dan bukan kesenangan sementara.
Kualitas kebahagiaan
Segala perangkat sains dan teknologi membuat banyak orang merasa senang dan gembira, namun justru semakin sedikit yang benar-benar memahami arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Di depan layar ponsel, seringkali kita melihat orang tersenyum bahkan tertawa sendirian, namun setelah layar ditutup seakan kembali pada kehampaan. Mereka senang dan bangga dalam waktu sekejap, namun batinnya selalu dirundung kepiluan dan kekosongan.
Di era distraksi digital ini, banyak orang yang menggadaikan kebanggaan semu ketimbang kebahagiaan sejati. Hidup bernilai dan bermakna seakan diabaikan, lantaran mereka terlampau sibuk mengejar pencapaian demi pencapaian. Manusia modern lebih mengejar punya, demi untuk memiliki sesuatu yang toh pada akhirnya tak berharga baginya. Mereka bergegas nongkrong dengan teman-teman, sebagai pelampiasan kegelisahan di kala hidup dalam kesendirian. Dalam komunitas gerombolan, rasa bangga akan kelompoknya membuat mereka seringkali bertindak reaktif ketimbang kritis dalam menyikapi keadaan.
Kesenangan sesaat kadang lahir dari kabar gembira, menerima pujian, atau melihat sesuatu yang kocak dan lucu. Namun, seberapa lama kesenangan itu dapat bertahan. Sedangkan, kebahagiaan datang dari refleksi batin, ketenangan jiwa, serta dari pemahaman mendalam bahwa hidup ini harus memiliki nilai dan makna. Sebagai contoh, seorang mahasiswa merasa senang saat mendapat predikat cumlaude, tapi kebahagiaannya baru muncul saat ia sadar bahwa kerja kerasnya memberi manfaat bagi prestasi akademiknya. Kesenangan hilang dalam waktu sekejap, tetapi kebahagiaan akan langgeng ketika ia berhasil mempraktekkan dan mengamalkan ilmu yang selama ini ditekuninya. Jadi, kesenangan hanyalah ledakan sesaat, cepat pergi dan menghilang. Ia bagaikan kembang api yang dinyalakan anak kecil, begitu menggembirakan dan memukau, namun hanya sekejap mata saja.
Sedangkan, rasa bahagia adalah ritme hidup yang stabil, konsisten, meskipun ia tidak terlihat secara kasatmata, karena memang bukan sekadar letupan sesaat. Misalnya, seorang yang meluangkan waktunya untuk berzikir, bermeditasi atau solat malam, ia akan hening sejenak untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Meskipun tidak seberapa mewah dan megah, namun hidupnya begitu tentram dan lapang. Meski tidak selalu menimbulkan tawa dan heboh, tetapi konstan membawa ketenangan batin.
Perasaan senang selalu bergantung dari kondisi di luar dirinya, tetapi bahagia lahir dari kedalaman hati dan jiwa. Kesenangan juga mudah dikacaukan oleh hal-hal sepele, seperti tersinggung, situasi macet, atau rencana batal karena turun hujan. Sedangkan kebahagiaan, bergantung dari ketenangan dalam menyikapi keadaan, atau menafsirkan kehidupan dunianya.
Kesenangan yang menipu
Di dalam Al-Quran ditegaskan, bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang “menipu”. Karena bagaimanapun, kesenangan membuat orang selalu terpicu untuk bersaing, serta mengejar lebih dan lebih. Tetapi, kebahagiaan akan membuat seseorang mudah merasa cukup, bahkan selalu ingin berbagi. Ia tergerak untuk selalu memposisikan tangan di atas ketimbang tangan di bawah. Ketika seseorang bahagia, ia tidak sibuk menghitung kekurangannya, tetapi lebih pada sikap bersyukur tentang apa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Saat ini, betapa banyak orang yang senang dan bangga dengan pencapaian di media sosial, tetapi seketika akan mudah lenyap dan gelisah ketika engagement menurun. Sedangkan orang yang bahagia, akan tetap tekun menikmati proses, tak peduli apakah tayangannya bakal viral atau tidak. Ia akan menikmati memberi nilai dan makna, bukan sekadar menerima perhatian.
Di sisi lain, kesenangan itu bersifat temporer dan emosional, bukan bersifat eksistensial. Bahkan, sifat menipu dan berbuat salah pun dapat saja menyenangkan, tetapi ia hanya emosi di permukaan, Sedangkan, kebahagiaan meliputi makna keberadaan, hingga membuat orang merasa berada di jalan kebaikan dan kebenaran. Tak ada pertentangan secara intuitif maupun imajinatif.
Untuk menghidupi kesenangan, banyak orang yang rela melakukan apa saja, bahkan menghalalkan segala cara. Kesenangan juga membutuhkan keramaian untuk hidup, tetapi kebahagiaan justru tumbuh dalam kesendirian dan keheningan. Kadang, orang yang mencari kesenangan, ia akan takut hidup dalam kesendirian. Karena, dalam keheningan, kadang muncul suara-suara batin yang dapat membuka tabir, serta menelanjangi topeng dan segala kepalsuannya.
Orang yang mengejar kesenangan, kadang mengisi waktunya dengan hiburan, tetapi kemudian merasa gelisah saat tidak ada lagi aktivitas. Sedangkan, orang bahagia bisa duduk tenang di taman, membaca buku, menulis, bercengkerama dengan keluarga, dan selalu merasa dirinya cukup. Baginya, kesunyian bukanlah ancaman, bahkan setelah bersenda-gurau bersama anak-cucu, ia akan leluasa menyendiri untuk berdialog dengan suara batinnya sendiri.
Boleh jadi orang bahagia tidak selalu tersenyum atau tertawa, tetapi cara ia menyikapi masalah menunjukkan kedewasaan secara emosional. Dalam kondisi paling sederhana, ia tetap merasa dirinya utuh dan bersemangat. Bahkan, ia pun bersemangat untuk menghibur dan membahagiakan orang-orang, serta memperingatkan mereka agar jangan terjebak pada kebanggaan dan kesenangan yang menipu. (*)
Penulis adalah Pegiat Organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), pemenang lomba penulisan Cagar Budaya Nasional, juga peraih nominasi cerpen terbaik Litera (2021).







