FOMO: Luka Sunyi Generasi Digital

oleh -265 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Fransisco Yenri Sakunab

Di era digitalisasi saat ini, perkembangan manusia dan teknologi sangatlah cepat segala sesuatu dapat di akses secara instan dari berbagai media sosial, tiktok, intagram facebook dan whastapp untuk menyaksikan fenomena dunia maya yang sedang terjadi. Kemudahan-kemudahan ini yang akhirnya memunculkan fenomena baru yang banyak dirasakan oleh generasi sekarang, yaitu FOMO (fear of missing out) atau suatu fobia untuk ketinggalan sesuatu.

FOMO adalah suatu rasa penasaran yang luar biasa yang membuat seseorang harus mengikuti arus media, mengikut tren, life style, sehingga tidak ketinggalan pada suatu hal yang baru bahkan mampu membuat seseorang jatuh pada sikap hedonisme yang hanya ingin berfoya-foya dan melupakan ugahari untuk kemudian hari.

Seseorang menggangap bahwa dunia layar telah memberikan sebuah kenyataan yang penuh padahal semuanya tidak sesuai dengan ekspektasi seseorang. FOMO tidak asing di era media sosial karena kita terus menerus “melihat kehidupan orang lain”.

Efeknya bisa berjangka lama karena seseorang merasa tidak puas dengan dirinya sendiri karena setiap kali muncul perasaan cemas atau tidak nyaman ketika merasa bahwa orang lain lebih menikmati pengalaman dan kesempatan. Hal ini adalah krisis identitas, esksitensi, dan makna hidup.

Fenomena ini banyak kali dirasakan oleh anak muda, karena masa muda adalah masa mencari jati diri yang membuat sesorang mencari validasi diri dari orang lain dan media sosial. agar terlihat keren dan menjadi sosok yang berpengaruh pada media sosial yang akhirnya berpotensi pada kecemasan hidup karena terlalu memikirkan tentang apa yang orang lain bisa lakukan.

FOMO berpengaruh pada kesehatan psikis dan gangguan pada pola hidup. Seseorang mudah, introvert, insecure, overthinking sehingga melupakan cara untuk bersyukur pada hidupnya.

Generasi kehilangan jadi diri dan kehilangan arah hidup dalam menentukan nasibnya sendiri karena tekanan yang membuatnya terlihat biasa-biasa saja. Sebab mendapat pengakuan digital lebih diutamakan oleh seseorang, dari like, komen, hingga empati dari orang lain sehingga seseorang sesuai dengan kemauannya bukan kemampuan yang bisa dimilikinya. Ketakutan terbesarnya dalam hal ini ialah takut tidak terkenal, takut gagal, takut tidak bisa bersaing dan ketakutan lainya yang membawa tekanan dalam diri seseorang.

Ketakutan-ketakutan ini menjadi toxic tersendiri dalam diri seseorang karena tanpa disadari media sosial telah mengelabui pikiran dan tingkah laku sesorang pada sikap hidup materialistik yang mementingkan harta, uang, dan hal-hal materi dibandingkan dengan nilai-nilai lain seperti moral, hubungan sosial, atau kebahagian batin.

Generasi sekarang perlu melihat media sosial menggunakan “kaca mata iman” untuk membangun relasi yang sehat bukan sebaliknya sebagai persaingan yang tidak sehat. Karena media perlu digunakan secara bijak “boleh berbaur asalkan tidak melebur kedalam” karena keindahan pada media sosial tidak sepenuhnya mutlak.

FOMO dapat diluputkan dalam kehidupan jika seseorang berani menjadi Be yourself tanpa membandingkan dirinya pada suatu subjek sebagai sebuah ukuran kebahagian. Sebab kebahagian berwujud pada apa adanya bukan ada apanya.” Anda boleh kenal orang lain itu baik, tetapi anda mengenal diri sendiri jauh lebih baik.”

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.