Oleh: Brilian Lobang Tang
Aporia adalah istilah yang dipakai Plato untuk menggambarkan persoalan yang dialami Nikheas di dalam bukunya “Lakhes”. Dialog Sokratik yang menekankan pada pencarian hakikat universal dari suatu kebenaran ini menelisik sampai pada diri para pembicara sehingga merubah hidup para peserta dialog.
Di dalam dialog Sokratik, Lakhes, hakikat keberanian menjadi dasar dari tema pendidikan di Athena dalam konteks Yunani Kuno sehingga Sokrates hadir sebagai penengah atas dua pendapat yang berbeda yaitu Lakhes dan Nikheas. Dua tokoh ini berdiri pada dua paradigma berpikir yang berbeda yaitu dipihak logos dan ergon sehingga di sini Sokrates dilihat sebagai orang yang menghidupi dua paradigma ini, dipilih sebagai penengah.
Nikheas menjadi representasi dari logos sebab dia bertolak dari ide-ide yang abstrak untuk memberi penjelasan tentang keberanian, sedangkan Lakhes menjadi representasi dari ergon bertolak dari hal yang kongkret yaitu melalui pengamatannya langsung terhadap suatu peristiwa (orang Makedonia) dan kemudian menarik suatu kesimpulan.
Dalam dialog ini, Sokrates memberi penjelasan mengenai kelemahan dari pokok pemikiran Lakhes dan Nikheas melalui pertanyaan-pertanyaan yang mendalam. Dalam jawaban yang diberikan Sokrates, Nikheas merasa tidak puas dan pergi meninggalkan tempat diskusi dan inilah yang kemudian disebut sebagai aporia (jalan buntu, ketidaktahuan).
Dialog yang bertujuan untuk melihat diri sendiri justru menjadi sebuah jalan buntu yang membawa Nikheas pada sikap ego. Dari sini pendidikan yang awalnya bertujuan untuk mendidik justru menjadi jalan untuk menunjukan siap yang benar dan salah bukan untuk kehidupan praktis. Nikheas justru menunjukan sikap yang bertolak belakang dengan hakikat keberanian yang di sampaikan, keteguhan jiwa, dengan pergi meninggalkan tempat diskusi (Wibowo, 2021).
Dalam era digital ini, spesifikasi pendidikan membawa manusia modern pada situasi dimana adanya profetisasi dalam bidang kajian yang berbeda tanpa adanya pendidikan yang integral. Logos dan ergon menjadi representan dua kubuh dari wajah pendidikan saat ini yakni lebih fokus pada intlek dan lebih fokus pada kemampuan teknis. Hakikat pendidikan yang seharusnya itu tampak dalam diri sokrates, meskipun tidak memiliki karya melalui hidupnya sokrates sudah menunjukan hakikat dari pendidikan itu.
Pendidikan harus menjadi bagian integral dari kehidupan manusia bukan hanya terbatas pada ijasah ataupun prestasi-prestasi dan bakat-bakat yang tampak melainkan harus menyentuh hakikatnya yang terintegralisasi dalam diri setiap orang. Dengan kehadiran teknologi saat ini, rasanya semakin sulit untuk mengintegrasikan hakikat sesungguhnya dari pendidikan jika manusia modern terus bereksistensi di dunia diginal dan mengabaikan eksistensi dirinya di dunia nyata. Status di media sosial menjadi tolak ukur dari eksistensi realnya di dalam dunia nyata, sehingga tanpa sadar manusia justeru meng-alienasi (Kebung, 2006) dirinya sendiri.
Teknologi yang awalnya diasosiasikan sebagai sarana untuk menolong manusia justeru menjelma sebagai sarana penindasan secara halus melalui produk digitalnya. Hakikat pendidikan kini direduksi dalam ijasah dan kemampuan teknis, bukan menjadi bagian integral dari kehidupan praktis. Pendidikan harus tampak dalam praktis kehidupan harian, bukan terbatas pada hal eksternal. Spesifikasi pendidikan bukannya membantu justeru membawa manusia modern pada aporia dalam perjalanan kehidupannya untuk mencari makna hidup ini. Kehadiran teknologi justeru memperparah kondisi ini sehingga manusia modern di bawa kepada suatu banalitas di balik pendidikan formal. Lalu apa yang mesti dilakukan?
Terkait dengan persoalan ini, kaum Stoik menawarkan suatu jalan pendidikan yang sangat cocok untuk kehidupan manusia modern saat ini. Kaum Stoik menawarkan pendidikan praktis yakni dengan memaknai hidup itu. Analogi yang digunakan adalah, sapi yang makan rumput jangan memberi kembali rumput kepada tuannya melainkan harus memberi daging dan susunya untuk tuannya (Wibowo, 2021).
Manusia yang mengalami pendidikan itu ibarat seperti sapi yang diberi makan untuk kehidupannya, bersifat internal bukan eksternal layaknya “memberi rumput kembali kepada tuannya”. Pendidikan saat ini kehilangan maknanya oleh karena tuntutan dunia kerja dan dominasi teknologi. Maka stoiksisme menawarkan jalan untuk asketis yaitu dengan menarik diri sejenak, menarik jarak antara diri sendiri dan dunia, demi melihat kembali tujuan eksistensial dirinya.
Dalam teologi antropologi istilah yang cocok untuk penarikan diri ini disebut sebagai Meditasi yaitu keadaan reflektif dimana seseorang mencoba untuk melihat dirinya sendiri dalam keadaan hening, dalam bahasa RD. Okto Naif disebut sebagai “hening berkualitas”.
Maka aporia pendidikan saat ini dapat diatasi dengan salah satu alternatifnya melalui meditasi (meditatio) yaitu keadaan hening berkualitas yang menghantar orang pada pemaknaan dari pendidikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan terus mengarahkan diri pada pertanyaan eksistensial, “what is purpose of my life?” (apa tujuan hidup saya?). Pendidikan harus menjadi way of life (jalan kehidupan)!
(Opini ini terinspirasi dari pembinaan tingkat calon imam Frater tingkat III Keuskupan Agung Kupang bersama RD. Sintus Runesi pada Minggu, 9 November 2025.)
Daftar Pustaka:
Kebung, K. (2006). Manusia dan Diri yang Utuh. Ende: Penerbit Nusa Indah.
Wibowo, A. S. (2021). Platon: Lakhes (Tentang Keberanian). ( chris Subagya, Ed.) (5th ed.). Yogyakarta: PT Kanisius.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang







