Filosofi Kepemimpinan Gus Dur

oleh -1576 Dilihat
banner 468x60

Oleh: KH Ahmad Rafiuddin

Tidak seperti elit politik sezamannya yang memandang kekuasaan sebagai sarana untuk keuntungan pribadi, Gus Dur telah memberi teladan kepada kita semua, bahwa tanggung jawab kepemimpinan lebih mengacu pada jejak-langkah para founding father , termasuk kakeknya sendiri, Syekh KH Hasyim Asy’ari.

Baginya, kepemimpinan suatu negeri adalah kesempatan untuk menerapkan kesejahteraan dalam skala besar. Ia percaya bahwa kepemimpinan sejati memerlukan keberanian, komitmen yang teguh terhadap nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Ia menganjurkan para menterinya agar berpikir moderat, sekaligus keinginan-keinginan akan membahayakan tirani dan ekses-eksesnya.

Nasehat-nasehat yang dilontarkannya, meski terkadang mengandung humor dan guyonan, namun menyiratkan kedalaman makna agar negeri ini tak lagi terjebak ke dalam otoritarianisme. Meski baru berlangsung beberapa tahun saja, tipologi kepemimpinannya telah menjadi contoh kuat tentang bagaimana prinsip-prinsip filosofis dapat mengarahkan tindakan-tindakan politiknya.

Jatuhnya militerisme Orde Baru ke dalam tirani menimbulkan tantangan etika yang signifikan bagi kepemimpinan Gus Dur. Jika kita mencermati artikel-artikel Gus Dur di berbagai media massa, khususnya menjelang kekisruhan politik tahun 1998, sangat mencerminkan konflik batinnya. Meskipun ia terus memperjuangkan pengendalian diri dan integritas moral, prinsip-prinsip filosofisnya sangat menyadari kompromi yang telah ia buat dengan tetap menjaga nilai-nilai NKRI. Ketegangan di era ini tercermin jelas dari karya-karya esainya, di mana ia bergulat dengan dilema moral menjadi seorang intelektual, negarawan dan tokoh agama sekaligus.

Gus Dur sadar betul akan maraknya warisan militerisme Orde Baru yang mempengaruhi kekuasaan dan kekayaan yang merusak. Dalam beberapa tulisannya yang religius, ia menggambarkan bahaya menjadi budak harta kekayaan, serta menekankan bahwa kemerdekaan jiwa hanya datang dari penguasaan atas nafsu dan keinginan yang berlebihan.

Ini bukan hanya gambaran individu Gus Dur, tetapi sekaligus refleksi dan pengalaman historisnya sebagai orang kaya, serta anak dari seorang menteri menteri negara, sekaligus menteri agama di zaman Soekarno (KH Wahid Hasyim).

Pemikiran Gus Dur tentang kekuasaan dan etika juga tampak jelas dalam korespondennya bersama Andy F. Noya, di mana ia sering memikirkan tantangan moral demi kepentingan dan kemaslahatan umat. Di akhir kepemimpinannya, ia terus memberikan banyak nasehat kepada para politisi negeri ini, agar konsisten berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan kebajikan.

Filosofi Gus Dur relevan dengan sifat kaum sufi, bahwa ukuran sejati karakter seseorang bukanlah bagaimana ia berperilaku di masa-masa mudah, tetapi bagaimana ia berperilaku ketika menghadapi sistem kekuasaan yang korup dan merusak.

Fokus pada integritas etika dalam kepemimpinan Gus Dur, serta kekuatannya dalam menghadapi tekanan eksternal, merupakan tema sentral dalam filosofi hidupnya, yang tercermin jelas dalam tulisan maupun pernyataan politiknya.

Refleksi ini sejalan dengan pemikiran di usia senja, bahwa karakter sejati tercermin dari cara seseorang menghadapi godaan dan tantangan kekuasaan, serta menjadikan perilaku etis sebagai ukuran kepemimpinan sejati. Upayanya untuk menerapkan prinsip yang teguh, seolah mewarisi pembawaan nenek moyangnya sebagai pejuang dan perintis kemerdekaan RI.

Oleh karena itu, terlepas dari beragam evolusi yang menghadangnya, Gus Dur tetap menjadi sosok fenomenal yang menarik bagi berbagai kalangan, termasuk para akademisi yang ingin memahami hubungan antara filsafat, agama, dan politik.

Suatu kali, dalam kelakarnya bersama para wartawan, Gus Dur menandaskan bahwa keadaan eksternal, baik kekayaan, status, atau bahkan kesehatan, hanya bersifat nisbi dan sementara. Yang perlu diutamakan adalah takwa dan kendali diri. Di situlah Gus Dur secara implisit menyinggung soal kemakmuran internal di atas kesuksesan eksternal, yang merupakan tema penting bagi sejarah kepemimpinannya di negeri ini. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 di Rangkasbitung, Lebak, Banten, juga penulis buku best seller “Marwah Pesantren”

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.