Fenomena Bayi Terlantar dalam Psikososial Erik Erikson

oleh -171 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Aquilio Jeane Windy Putra

Dewasa ini, kita kerapkali membaca, mendengar, atau menonton berita mengenai kasus anak-anak atau bayi yang ditelantarkan oleh orang tua. Alasannya pun beragam, mulai dari masalah ekonomi, masalah rumah tangga, hubungan di luar pernikahan, atau belum adanya persiapan mental bagi pasangan muda untuk menjadi orang tua. Data Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukan bawah sebanyak 212 kasus pembuangan bayi sepanjang tahun 2020 hingga pertengah tahun 2021.

Sementara itu, pada 2025 di Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember ditemukan bayi berjenis kelamin perempuan. Bayi malang itu ditinggal oleh orang tuanya disamping karung bekas yang berisi ari-ari dan pakaian si bayi (Kompas.com 23/3/2024). Selain itu, di Cilacap warga menemukan bayi laki-laki berumur satu bulan di sawah (Kompas.com 19/4/2025).

Hemat penulis, data di atas tidak hanya sebatas pada persoalan ekonomi semata tetapi menjadi bentuk kemerosotan moral yang nyata. Hal ini menjukkan bahwa hak hidup manusia sudah tidak berarti lagi dan nilai kemanusiaan patut dipertanyakan. Ada begitu banyak dampak buruk bagi bayi yang “dibuang”.

Mulai dari kesehatan fisik hingga psikologis. Berhadapan dengan masalah ini, pertanyaan yang krusial adalah apa dampak psikologis bagi bayi dibuang atau ditelantarkan oleh orang tua mereka? Oleh karena itu, refleksi sederhana ini ingin mengkaji lebih dalam mengenai dampak psikologis bayi yang dibuang oleh orang tua menurut pandangan psikososial Erik Erikson.

Selayang Pandang Pemikiran Erikson

Erik Erikson lahir di Jerman Selatan pada 15 Juni 1902. Latar belakang model psikologinya tidak terlepas dari pengaruh kehidupan masa kecilnya. Ia dibesarkan oleh ibu kandung dan ayah tirinya. Identitas yang “kabur” sejak kecil ini akan mempengaruhi teorinya tentang krisis identitas pada manusia (identity crisis). Krisis identitas ini sangat menentukan kepribadian seseorang.

Erikson mengembangkan delapan tahap perkembangan pada manusia yang dapat membantu memahami tahap demi tahap perkembangan manusia hingga menjadi pribadi yang hopeful, wise, dan competent. Sementara itu, dalam tulisan ini penulis akan fokus pada tahap pertama dalam perkembangan psikososial Erikson, yaitu masa bayi.

Masa Bayi

Masa bayi merupakan masa yang sangat penting dalam perkembangan manusia. Masa ini akan menentukan dan berpengaruh terhadap masa-masa perkembangan selanjutnya. Pada masa ini bayi akan sangat bergantung pada orang tuanya. Kehadiran orang tua secara khusus ibu, membantu bayi untuk memenuhi kebutuhan yang paling mendasar seperti makanan, rasa nyaman, perhatian, cinta, dan kasih sayang.

Bagian ini dinamakan oral-pengindraan karena bayi akan belajar dari pengalaman memasukan sesuatu ke dalam mulut mereka dan pengalaman pengindraan atau melihat objek tertentu. Tahap ini akan berdampak pada perkembangan rasa percaya diri mendasar dan rasa tidak percaya diri mendasar pada bayi.

Sementara itu, nasib bayi yang diterlantarkan atau dibuang, tidak mendapat kasih sayang dari orang tua kandungnya. Sehingga kebutuhan dasar seperti rasa nyaman, perhatian, cinta dari orang tua tidak terpenuhi. Melihat tahap pertama perkembangan kepribadian Erikson, ada beberapa dampak psikologis untuk bayi yang dibuang oleh orang tua.

Pertama, bayi tidak bisa membangun kepercayaan pada orang lain karena ia tidak mempunyai relasi khusus dan dekat dengan ibu atau orang tua. Hal ini menyebabkan si bayi mempunyai rasa takut terhadap dunia dan kesulitan untuk mempercayai orang lain. Dampak jangka panjangnya ialah ketika si bayi sudah beranjak dewasa kemungkinan ia akan menjadi pribadi yang introvert dan mempunyai rasa cemas yang berlebihan.

Kedua, bayi yang dibuang atau diterlantarkan akan mengalami gangguan pada perkembangan emosional. Hal ini disebabkan oleh kurangnya ikatan emosional dengan ibu atau orang tua. Pada umumnya tahap oral-pengindraan bukan hanya soal makanan saja, tetapi berkaitan dengan kontak fisik seperti pelukan, belaian dan dekapan. Kekurangan pada tahap ini akan membuat anak tersebut tumbuh tanpa cinta dan kasih sayang. Ia tidak memiliki emosional (emosional yang berbentuk seperti rasa cinta atau hasrat) dan kurang bisa berempati dengan orang lain.

Ketiga, kemungkinan bayi yang dibuang atau ditelantarkan akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri karena merasa tidak mempunyai harga diri. Hemat penulis, bayi yang diterlantarkan atau dibuang oleh orang tuanya akan tumbuh dengan rasa ketidakpercayaan diri yang besar atau bahkan tidak sama sekali mempunyai rasa percaya (mistrust).

Refleksi Kritis

Merefleksikan dan mendalami persoalan bayi yang diterlantarkan, pada akhirnya penulis sepakat dengan Jess Feist dan Gregory J. Feist dalam buku mereka yang berjudul “Theories of Personality” bahwa “terlalu sedikit rasa percaya membawa kepada rasa frustasi, kemarahan, kebencian, sinisme, atau depresi”.

Artinya adalah anak yang diterlantarkan atau dibuang oleh orang tua akan mempunyai tingkat trust atau kepercayaan yang sedikit atau rendah. Hal ini yang membuat mereka frustasi atau depresi. Seorang bayi yang dibuang atau ditelantarkan akan kehilangan harapan karena harapan menjadi kekuatan dasar pada bayi. Seseorang yang tidak mempunyai harapan semasa kecil akan tumbuh dengan gangguan psikologis yang serius dan akan cenderung mundur dari dunia.

Bagi penulis, fenomena pembuangan dan penelantaran bayi oleh orang tua merupakan persoalan sosial dan psikologis yang sangat miris, tragis, dan memprihatinkan. Dampak psikologis buruk bagi bayi menjadi hal yang sangat diwanti-wanti, terutama jika ditinjau dari teori psikososial Erik Erikson. Pada tahap pertama perkembangannya, yaitu trust vs mistrust, seorang bayi sangat bergantung pada kehadiran serta kasih sayang orang tua, secara khusus sosok ibu.

Peran ini sangat penting dalam membangun rasa aman dan kepercayaan dasar terhadap dunia. Ketika seorang ibu menelantarkan bayinya, proses perkembangan emosional yang seharusnya harmonis akan terputus. Akibatnya, bayi kehilangan fondasi psikologis untuk membentuk hubungan sehat di masa depan, yang berisiko menciptakan trauma mendalam serta gangguan psikologis bagi si bayi yang menjadi korban perilaku tersebut.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.