Fatwa Sederhana tentang Emosi Manusia 

oleh -1834 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eeng Nurhaeni

Dalam dunia kepemimpinan, seringkali amarah dianggap sebagai tanda dominasi, kendali, dan ketegasan. Namun, di balik semua itu, justru dalam kemarahan tersembunyi rapuhnya kendali diri dan musnahnya kejernihan berpikir. Dalam banyak hadis Nabi terbersit bahwa kemarahan adalah emosi yang impulsif dan merusak, karena sikap amarah adalah bentuk pelarian dari kontrol atas pikiran.

Kemenangan yang sejati, menurut Rasulullah, adalah kemampuan untuk menaklukkan hawa nafsu. Ini artinya, bahwa kehilangan kendali karena amarah, bukan berarti menunjukkan kekuatan, melainkan justru terkalahkan oleh sesuatu yang bahkan tak berbentuk fisik. Saat ini, kita menyaksikan banyak hal, yang terkait dengan upaya mengejar target dan harapan yang optimal, seringkali kemarahan menjadi senjata ampuh untuk menunjukkan dominasi.

Di dunia hiper modern, banyak orang beranggapan bahwa mereka yang teriakannya paling keras dan lantang, seakan mereka yang layak disebut “orang kuat”. Padahal, kekuatan dan ketangguhan terdapat pada figur-figur yang tetap tenang saat dikritik, dihina, bahkan diprovokasi sekalipun. Sering kita melihat contoh ketenangan dari sosok-sosok yang kompeten, baik di kalangan jenderal atau panglima perang, pemimpin spiritual, bahkan para atlet professional. Mereka seakan serempak berpendapat, bahwa ketenangan adalah fondasi dalam menentukan kebijakan dan keputusan besar.

Pada prinsipnya, kemarahan adalah bentuk tersembunyi dari kemalasan berpikir. Orang marah dan mencak-mencak tak keruan, justru lantaran tidak mengerti ilmu maupun solusinya. Kemarahan hadir ketika seseorang enggan mencari pemahaman, tetapi lebih memilih meledak daripada mendengar, lebih suka menyerang dan memprovokasi, daripada mencari penyelesaian yang bijak.

Dalam kehidupan pribadi maupun profesional, marah seringkali menciptakan luka yang sulit disembuhkan. Seorang penceramah Abdullah Gymnastiar mengibaratkan kemarahan bagaikan kayu yang dipukul dengan martil dan paku. Meskipun pakunya dicopot, lubang bekas pemukulan tetap menganga di tempatnya semula. Jadi, suatu tindakan yang diputuskan sepihak dengan emosi yang tinggi, hampir selalu akan disesali kesudahannya. Seorang pemarah tak punya hasrat untuk membangun imajinasi tentang pentingnya berilmu dan menuntut ilmu. Ia merasa pede akan kebenaran yang diyakininya (truth claim), serendah apapun kualitasnya.

Inilah pentingnya Islam menganjurkan sikap “wukuf”, “tuma’ninah” atau berhenti sejenak sebelum memberi argumen maupun reaksi. Tetapi, kebanyakan orang, dalam ketergesaan mencapai viralitas di tengah distraksi, justru mereka terburu-buru merespons sesuatu untuk meraih pengakuan publik. Padahal, dalam banyak kasus, amarah seringkali memperbesar masalah dan menjerumuskan manusia ke dalam konflik tak produktif, hingga kelak dapat menenggelamkannya dalam percaturan sejarah.

Respons terbaik

Banyak orang yang sibuk menunjukkan kekuatan dengan sikap amarah, sehingga kehilangan kemampuan untuk tetap berpikir jernih. Mereka seakan menuruti arus zaman, tergopoh-gopoh mengejar hasil yang belum tentu terjamah. Kalaupun target itu tercapai, lantas kualitas kebahagiaan macam apa yang dapat dipetik hikmahnya? Paling banter hanya ego dan keangkuhan yang justru semakin memperparah keadaan, lantaran mengharap validasi secara eksternal.

Dalam dunia yang penuh tekanan dan kebisingan saat ini, menjaga kendali atas diri sendiri menjadi sebuah ujian dan tantangan besar. Orang yang berbekal mental dan jiwa seperti ini, ia akan senantiasa berpikir sebelum bereaksi, bahkan bertindak berdasarkan nilai, bukan atas dorongan instan dan sesaat. Ia tidak akan disibukkan untuk mengejar target menjadi “orang penting”, tetapi yang lebih prinsipil dari itu adalah menjadi “orang baik”. Karenanya, proses lebih dihargai daripada tergopoh-gopoh mengejar hasil yang hanya berupa ilusi dan kuantitas belaka.

Dalam menjalani proses secara bijak, maka yang namanya emosi seperti kemarahan, kesedihan, atau ketakutan tak perlu dijadikan musuh, tetapi harus ditempatkan dalam kendali rasionalitas agar tidak merusak keputusan dan tindakan. Untuk itu, tepat jika dikatakan, apabila seseorang terlampau cemas dengan masa depan, terlalu menyesal dengan masa lalu, itu dapat dipastikan bahwa ia akan galau dalam menjalani hari ini. Karena, semuanya itu menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan, sebagaimana firman Tuhan, “Jika kalian bersyukur hari ini, maka nikmat di hari esok akan ditambah dan ditambah terus.” Untuk itu, mensyukuri nikmat Tuhan, hanya terletak pada frekuensi orang yang dapat hidup dengan tenang dan sabar.

Pengertian “nikmat” di sini tidak selalu bermakna banyak uang dan kemegahan duniawi, tetapi juga nikmat sehat, nikmat kecukupan dan kelapangan hati. Sebab, untuk apa sibuk mengejar kelimpahan dan kemewahan, jika hidupnya dirundung gelisah dan kekurangan melulu? Bukankah yang disebut “kaya” itu ketika hidup merasa cukup, bahkan sanggup berbagi kepada orang lain, walaupun dengan pemberian yang sederhana? Jika orang terlampau fokus dengan kekurangan, lantas apa yang akan dia sisakan sebagai bekal untuk memberi dan berbagi pada orang lain?

Emosi destruktif

Amarah yang berlebihan adalah emosi dekstruktif disebabkan penilaian yang keliru terhadap realitas. Dalam banyak hal, marah tidak pernah menjadi solusi yang benar, melainkan hanya memperburuk keadaan dan merusak hubungan persahabatan. Ledakan emosi yang terpancing di lingkungan rumah-tangga, tempat kerja, terlebih di media sosial, seringkali dikarenakan tekanan jiwa yang menyebabkan manusia kehilangan akal sehatnya (baca Kompas: “Membangun Akal Sehat”).

Amarah seringkali menyamar sebagai kekuatan palsu yang merusak. Orang marah sepintas terlihat kuat dan tangguh, padahal sebenarnya ia sedang kehilangan kendali. Ia membiarkan dorongan emosi mengalahkan rasionalitas. Padahal, justru dalam ketenangan dan pengendalian diri seseorang dapat menunjukkan kekuatan rasionalitasnya.

Nabi Muhammad pernah berpesan hingga tiga kali kepada seorang sahabat, “Jangan marah, jangan marah, dan jangan marah.” Hal serupa pernah disampaikan filosof Yunani Aristoteles, yang pernah menjabarkan tentang sulitnya sikap marah ditujukan kepada orang yang tepat, waktu yeng tepat, cara yang tepat, intesitas dan tujuan yang tepat.

Seseorang yang mampu menahan amarah, berpikir jernih di tengah tekanan, dan memilih untuk tidak membalas dengan emosi, menunjukkan kualitas spiritual yang jauh lebih kuat ketimbang mereka yang gampang terpancing amarah. Kemampuan untuk tidak tersulut emosi menjadi nilai penting dalam membangun reputasi, menjaga produktivitas, dan menciptakan lingkungan yang sehat. Ketahuilah, di dunia yang bising dan gaduh saat ini, sesungguhnya ketenangan dan kendali diri termasuk dalam kualitas “takwa” dalam kehidupan manusia beriman.

Mengutip pernyataan pemikir dan ilmuwan muslim Al-Ghazali, sesungguhnya kekuatan sejati manusia tidak terletak pada seberapa keras ia membalas amarah, tetapi seberapa tenang ia menghadapi ujian dan cobaan hidup yang paling getir sekalipun. Dalam dunia yang memuja reaksi cepat saat ini, keberanian untuk tetap tenang adalah bentuk ketegasan yang langka.

Betapa banyak orang tertipu dengan ilusi kekuatan ketika ia melampiaskan amarah. Padahal, setiap orang mulia dan bijak dari agama apapun, seakan serempak berkumandang, bahwa dalam kesabaran terkandung kualitas takwa, kendali diri, serta ketenangan batin yang sejati. (*)

Pengasuh pondok pesantren Al-Bayan, Lebak, Banten, juga menulis esai di berbagai media nasional, di antaranya Kompas, Media Indonesia, Republika dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.