Fathu Makkah dan Ekspedisi Memberantas Kesyirikan

oleh -352 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eeng Nurhaeni

Pagi itu, Rasulullah memberikan sambutan kepada pasukan yang akan membebaskan Kota Mekah (Fathu Makkah), yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Target paling utama adalah membersihkan Ka’bah dan sekitar Masjidil Haram. Sesampainya di depan Ka’bah, Rasulullah memimpin Thawaf mengelilingi Baitullah, meskipun di sekitar bangunan Ka’bah masih berdiri sekitar 360 berhala, di antaranya yang paling besar adalah Dewa Hubal, Dewi Manat, Latta dan Uzza.

Dewa Hubal identik dengan Dewa Ba’al yang menjadi simbol utama di Pulau Epstein beberapa waktu lalu. Inilah berhala utama kaum Quraisy sebelum datangnya Islam, yang sering dikaitkan dengan dewa kesuburan, pemberi petunjuk dan perantara ramalan. Patung ini terbuat dari batu akik merah, berbentuk manusia berdiri tegak dengan tangan emas, karena itu diletakkan di dalam bangunan Ka’bah. Dewa Hubal berasal dari sesembahan di daerah Kan’an yang pernah ditentang oleh Nabi Ilyas (Elia).

Patung Hubal langsung didorong oleh Rasulullah, kemudian jatuh terpelanting, dan hancur berkeping-keping. Sedangkan Dewi Manat, menurut sebagian sejarawan berasal dari “Moneta” sebagai dewi mitologi Romawi Kuno. Orang Qurays mempercayai Dewi Manat sebagai penentu takdir, keuangan dan keberuntungan. Manat dianggap sebagai salah satu dewi tertua dalam panteon Semit, sedangkan berhala utamanya diletakkan di Musyallal, suatu daerah di antara Kota Mekah dan Madinah. Karena itu, istilah “money” (uang) berasal dari nama Moneta yang tak lepas dari nama dewi pemberi keberuntungan ini.

Lalu, Dewi Latta sebagai berhala utama yang menjadi sesembahan saudagar-saudagar kaya dari Bani Thaqif di daerah Thaif. Ia sering dikaitkan dengan Dewi Matahari, kesuburan, dan dilambangkan dengan batu berwarna putih yang diukir oleh pemahat-pemahat terpilih. Banyak sejarawan yang menghubungkan dewi ini sejajar dengan dewi kesuburan dalam mitologi Yunani dan Romawi, seperti Athena atau Aphrodite. 

Kemudian Dewi Uzza yang diidentikkan sebagai dewi perang yang perkasa. Dewi Uzza sering dikaitkan pula dengan bintang atau planet Venus, dan disembah sebagai batu suci yang berpusat di daerah Nakhla, dekat Kota Mekah. Sebagai dewi perang, ia dihormati karena kekuatannya, bahkan dianggap sebagai sosok pelindung dan pengayom, mirip dengan dewi Athena dalam mitologi Yunani.

Ketika legitimasi kekuasaan berada di tangan Islam, Rasulullah membawa 10.000 pasukan dari Madinah menuju Mekah, dengan misi utama menghapus paganisme dan kesyirikan, agar masyarakat konsisten berpegang pada Tuhan Yang Maha Esa (Allah). Beliau menunjuk beberapa sahabat untuk memimpin ekspedisi ke berbagai daerah, agar merobohkan pusat-pusat penyembahan berhala, meski di beberapa wilayah mengalami kendala dan hambatan yang akhirnya dapat diatasi berkat arahan Rasulullah selaku pimpinan pusat yang memerintah.

Sambutan Rasulullah

Sebelum menjatuhkan Dewa Hubal (Ba’al), Rasulullah meminta kunci Ka’bah kepada Utsman bin Thalhah, kemudian membukanya dan memasukinya sambil melihat-lihat sekeliling. Beliau memerintahkan para sahabat untuk menghapus semua lukisan yang terpampang di dinding Ka’bah, kecuali lukisan Bunda Maria dan Nabi Isa yang ditutup dengan kedua telapak tangan (dalam Riwayat Azraqi), agar para sahabat tidak menghapus kedua lukisan tersebut.

Ayat Al-Quran yang dibaca Rasulullah untuk memotivasi perjuangan para sahabat adalah surat al-Isra ayat 81: “Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti akan lenyap.”

Setelah membersihkan Ka’bah dan sekitarnya, Rasulullah berdiri di depan pintu Multazam, menghadap kaum Qurays yang sedang menonton, dan setelah membaca tasbih dan takbir beliau berucap: “Ketahuilah, sekarang ini semua darah, harta, dan kemuliaan yang diwariskan di masa Jahiliyah, sudah berada di bawah kewenangan kami. Kecuali tugas penjaga Ka’bah dan pemberi minum bagi para jamaah haji, yang akan diserahkan pengelolaannya kepada yang bertugas.”

“Wahai kaum Quraisy, sekarang Allah telah menghapus keangkuhan dan kesombongan kalian yang selama ini membesar-besarkan nenek-moyang. Sadarlah, bahwa semua manusia adalah Bani Adam, dan hanya terbuat dari tanah.” (Lalu Rasululloh mengutip surat al-Hujurat ayat 13): “‘Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian sebagai laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar saling mengenal di antara kalian. Sedangkan orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha teliti.”

“Sekarang, saya mau bertanya kepada kalian semua, bagaimana perasaan kalian dengan apa yang kami lakukan? Apakah ada dendam di antara kalian?” (Mereka takjub dan berdiri mematung, seakan mengakui kekalahannya: “Baik, wahai Saudara yang mulia, putera dari orang-orang yang mulia”). Kemudian Rasulullah menutup ucapannya: “Sekarang, saya mau mengatakan apa yang pernah dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara-saudaranya, ‘Hari ini kalian semua bebas, dan tidak ada saling dendam di antara kita.”

Menata Kota Mekah

Di Kota Mekah, Rasulullah menetap selama 19 hari untuk membangun struktur masyarakat baru sambil mengajarkan berbagai hal tentang prinsip-prinsip keislaman. Selama menetap di sana, beliau mulai mengerahkan tim ekspedisi untuk menghapus paganisme dan penyembahan syirik di beberapa daerah, serta agar diupayakan jangan sampai ada pertumpahan darah.

Untuk wilayah yang paling rawan terjadi kekerasan dan kriminalitas, Rasulullah mengutus Khalid bin Walid sambil membawa 30 orang pasukan berkuda menuju daerah Nakhlah, tempat bercokolnya sesembahan Bani Kinanah, yakni Al-Uzza, sang dewi perang dan penakluk yang perkasa.

Khalid berangkat dengan tekad baja. Namun, setibanya di sana ia tidak menemukan patung megah sebagaimana yang dibayangkan banyak orang. Yang terlihat olehnya justru tiga pohon besar yang dikeramatkan. Di sekelilingnya ada bangunan sederhana dihiasi kelambu putih. Sambil menenteng kampak, Khalid mendekati ketiga pohon itu, lalu seketika menebangnya satu persatu, tanpa ada perlawanan dari masyarakat setempat. Ia pun merobohkan bangunan di sekitarnya, hingga nyaris rata dengan tanah.

Setelah merasa tugasnya selesai, ia kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan apa-apa yang telah dikerjakannya. Tetapi, Rasulullah justru balik bertanya: “Apakah kau lihat sesuatu di daerah situ?”

Dengan tatapan terheran-heran, Khalid menggelengkan kepalanya, “Saya tidak melihat apa pun, ya Rasulullah.”

“Benar, kamu tidak melihat sesuatu?”

“Hanya pohon dan bangunan sederhana yang sudah saya robohkan.”

Rasulullah mengerutkan keningnya, “Kalau begitu kamu belum melakukan apa-apa, Khalid.”

Khalid bin Walid garuk-garuk kepala, lalu permisi kepada Rasulullah untuk kembali ke tempat semula. Di sepanjang perjalanan, ia berpikir seakan-akan ia telah selesai melaksanakan tugasnya, bahkan di tempat itu hanya tinggal puing-puing bangunan beserta pohon-pohon yang roboh. Lalu, ada apakah gerangan yang dikatakan Rasulullah tadi?

Kedatangannya yang kedua kali, membuat Bani Kinanah dan para penjaga panik, seakan mereka mengendus adanya bahaya. Mereka berbisik-bisik dengan mulut komat-kamit di depan bukit: “Hati-hati Uzza… ada orang datang, Uzza….”

Khalid melangkah dan mendaki tempat tersebut. Rupanya di atas bukit terdapat sosok wanita aneh, berambut panjang terurai, menaburkan debu-debu di sekitar wajahnya, kemudian meraung-raung histeris.

Khalid segera tersadarkan, bahwa sosok mengerikan itu bukanlah manusia. Ia pasti sejenis Jin jahat atau Iblis yang selama ini menjadi makhluk misterius yang diagung-agungkan masyarakat sebagai wujud Dewi Uzza.

Seketika, tak ada rasa gentar, Khalid menghunus pedangnya. Wanita jahat itu bergerak hendak menyerang. Namun, dengan sekali tebasan ia berhasil membunuh sosok itu hingga jatuh terjerembab, lalu lenyap dan menghilang dari penglihatan.

Ia pun menceritakan pertemuannya dengan wanita misterius itu, hingga Rasulullah berujar: “Ya, itulah Uzza, yang selama ini membuat saya khawatir kalau-kalau kalian akan menyembahnya juga. Tetapi sekarang, tidak akan ada lagi orang yang menjadikannya sebagai sesembahan.”

Rupanya, berhala yang diagungkan ribuan orang selama beberapa generasi, yang dihasut oleh bisikan-bisikan jin, dalam satu hari dapat dimusnahkan seketika oleh Khalid bin Walid atas dukungan Rasulullah.

Itulah kekuatan tauhid. Jika ia sudah tertancap dalam kalbu manusia, segala kekuatan jin dan setan yang mengajak pada kegelapan dan kesyirikan, akan mudah dilenyapkan dalam sekejap. Meskipun ia pernah bercokol menjadi sesembahan manusia selama berbad-abad. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, juga aktif menulis esai keislaman di harian-harian nasional, seperti Republika, Kompas, Media Indonesia dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.