Etika Penggunaan Teknologi antara Kebebasan Digital dan Martabat Manusia

oleh -128 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Charles Lelo Ximenes

Dalam aktivitas sehari-hari kita, teknologi juga memiliki peran yang amat sangat penting di dalamnya. Mengapa teknologi itu dikatakan penting dalam aktivitas sehari-hari kita? Melalui teknologi seperti internet (media massa dan media sosial), kita bisa mengakses apa yang belum kita ketahui. Teknologi juga memiliki peran yang sangat penting dan bisa membantu kita, atau bisa dikatakan semua orang bisa menggunakannya untuk mengerjakan sesuatu. Contohnya, AI (kecerdasan buatan) bisa membantu semua orang untuk mengerjakan tugas. Bukan hanya itu, tadi penulis sempat menyinggung media massa dan media sosial. Dua media ini bisa membantu penggunanya dalam semua hal, bukan hanya untuk mengakses informasi saja, melainkan juga bisa mempromosikan apa yang kita buat (contohnya, dalam bidang ekonomi atau bisnis, mereka bisa menggunakan internet, khususnya media sosial, guna mempromosikan apa yang mereka buat atau inovasi yang telah mereka kembangkan).

Dalam hal ini, memicu atau menimbulkan beberapa kasus yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita, yang antara lain berhubungan dengan martabat manusia. Mengapa dikatakan sedemikian? Yang sering kita lihat, khususnya di media sosial, adalah beberapa orang yang meninggalkan jejak digital yang tidak layak untuk diperlihatkan, karena di media sosial itu bukan hanya dilihat oleh orang dewasa, melainkan juga oleh anak yang belum cukup umur. Dalam hal lain, muncul juga beberapa kasus yang sering terjadi, khususnya dalam cara penggunaan media sosial (TikTok, Instagram, Facebook, dll.). Kasusnya adalah hilangnya martabat sebagai manusia yang suci dan imago Dei (jika dilihat dari sudut pandang teologi Katolik) dan rasional (apabila dilihat dari sudut pandang filsafat). Contoh yang sering terjadi, demi likes, followers dan views atau lebih singkatnya demi viral, ada beberapa orang yang tega menurunkan martabatnya sebagai manusia (memakai pakaian yang tidak layak untuk dipertontonkan di media sosial atau bisa juga membuat konten yang tidak layak dan bisa menurunkan martabatnya sebagai manusia).

Dalam hal ini, penulis tidak menghakimi. Contohnya, dalam kasus yang sudah dicantumkan itu, kebanyakan perempuan yang melakukannya karena memakai pakaian yang tidak layak atau sebagainya, atau misalnya, dalam hal ini, banyak juga laki-laki yang melakukan hal ini karena membuat konten yang tidak layak sehingga bisa menurunkan martabat mereka sebagai manusia. Melainkan penulis mencoba melihat dari sudut pandang filsafat, khususnya filsafat etika (yang merupakan salah satu cabang dari filsafat). Yakni, mencoba melihat, merefleksikan, dan mengkritisi apakah yang dilakukan oleh para pengguna media sosial, khususnya dalam beberapa kasus yang ada itu, baik atau buruk dan lain-lain.

Kebebasan harus disertai dengan tanggung jawab

Dalam filsafat eksistensialisme, khususnya dalam pandangan filsuf terkenal, yakni Jean-Paul Sartre, ditegaskan bahwa hakikat manusia itu bebas. Berarti manusia memiliki kebebasan yang mutlak untuk memilih apa yang dia mau atau inginkan, akan tetapi semua itu juga disertai dengan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Contohnya, si A memilih untuk menjadi seorang ayah atau suami, tapi pilihan yang telah dipilih oleh si A itu harus disertai dengan tanggung jawab. Dia memilih untuk menjadi seorang ayah atau suami, tetapi dia harus bertanggung jawab, yakni menafkahi keluarganya. Dalam hal ini, kita mencoba untuk mengkritisi fenomena-fenomena yang marak terjadi dalam konteks kita saat ini.

Ada beberapa pengguna teknologi yang menggunakan teknologi, khususnya media sosial, tanpa berpikir terlebih dahulu tentang apa yang akan terjadi, dengan alasan bahwa itu adalah hak dan kebebasannya. Akan tetapi, apakah kebebasan itu kita gunakan dengan tanggung jawab atau ada etika di balik penggunaan teknologi itu (media sosial)?
Sering kali kita melihat bahwa argumen-argumen yang sering digunakan dalam media sosial itu bersifat argumen ad hominem atau argumen yang menyerang kepribadian seseorang atau mencari kesalahan orang untuk diviralkan, karena tidak suka dengan orang tersebut, misalnya. Atau ada hal yang lain, seperti iri hati terhadap seseorang karena keberhasilannya yang menggapai apa yang dia mau melalui kerja kerasnya (meritokrasi). Apabila dia melihat orang itu sukses, maka hal yang ia gunakan untuk menjatuhkannya adalah akun palsu untuk menyebarkan fitnah yang tidak ada sama sekali tentang orang yang sukses tersebut. Dari hal ini, kita mencoba untuk mengerti dan memahami bahwa meskipun kita mempunyai hak dan kebebasan dalam menggunakan teknologi, khususnya media sosial, harus ada tanggung jawab dalam menggunakan media sosial itu, yakni melalui etika penggunaan media sosial.

Semua hanya semata-mata konten

Dalam beberapa jurnal penelitian ilmiah dari Universitas Islam Raiu yang menjelaskan tentang cara atau bagaimana supaya konten yang tidak merugikan orang lain. Di jurnal ini, para peneliti menggunakan satu istilah yang sangat unik menurut penulis. Istilah yang digunakan oleh para peneliti adalah ekonomi perhatian (ngonten untuk viral, 4816). Secara empiris, kita bisa melihat bahwa konten yang dibuat oleh konten kreator sekarang ini banyak yang bermanfaat, akan tetapi banyak juga yang tidak bermanfaat, karena bisa jadi dalam pikiran mereka itu “ini hanya sebuah konten, siapa yang mau marah”.

Dari ketidakkepedulian itulah yang melahirkan hal-hal yang tidak bermanfaat di kalangan masyarakat, khususnya pada anak-anak yang umurnya masih di bawah. Semuanya itu hanya untuk mendapatkan perhatian melalui likes, views dan followers yang mereka dapatkan. Dalam hal ini, filsafat etika mencoba untuk melihat, merefleksikan dan mengkritik bahwa attitude yang begitu adalah buruk dan sangat memengaruhi masyarakat sekarang ini, karena kita tahu bahwa kebanyakan dari masyarakat kita ini adalah masyarakat konsumeris. Jurnal yang sama juga menjelaskan bahwa “di Indonesia, dengan penetrasi internet yang tinggi, budaya digital telah melahirkan fenomena ‘ngonten untuk viral’, yaitu produksi konten yang dirancang khusus untuk menarik perhatian, memperoleh klik, dan memicu keterlibatan pengguna sebanyak mungkin” (Ngonten untuk viral, 4815). Fenomena-fenomena seperti ini sangat bertentangan dengan filsafat etika, karena filsafat etika mengajarkan kita untuk memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak, karena semua yang kita lakukan, khususnya dalam proses pembuatan konten, bisa berdampak pada kehidupan masyarakat sehari-hari.

Kesimpulan

Dari semua penjelasan tentang bagaimana kita menggunakan teknologi, khususnya media sosial, dengan baik dan beretika ini, kita bisa mengambil atau memperoleh beberapa poin penting yang bisa menjadi sebuah pembelajaran bagi penulis maupun bagi kita semua. Yang pertama, setiap individu memiliki hak dan kebebasannya tersidiri dalam menggunakan teknologi khususnya media sosial, akan tetapi semua itu harus dilengkapi atau dengan kata lain yaitu disertai dengan tanggung jawab dan etika dalam proses penggunaan itu, karena kita tahu bahwa sebagian dari masyarakat kita saat ini adalah masyarakat konsumerisme (yang hanya terima saja atau yang mengkonsumsi apa yang di lihat), jadi gunakanlah tanggung jawab dan etika untuk membuat konten yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya pada anak-anak.

Kedua, martabat manusia itu sangatlah mahal melebihi apa pun di dunia ini, meskipun dia mempunyai kekurangan dalam hal fisik atau hal lain, dia tetap mempunyai martabat yang sama karena dia manusia. Jadi, janganlah sesekali kita sombong karena kita ini tidak mempunyai kekurangan fisik, kita bisa melakukan bullying digital pada seseorang. Dan martabat kita ini sangatlah mahal. Jangan sesekali kita menunjukkan apa yang tidak pantas untuk ditunjukkan di media sosial seperti fenomena-fenomena yang sekarang kita lihat di media sosial. Jadi, dari semua ini, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa setiap orang mempunyai hak dan kebebasan, akan tetapi hak dan kebebasan itu harus disertai dengan tanggung jawab yang penuh dan etika.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.