Esensi dan Kualitas Haji Mabrur

oleh -215 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Ahmad Rafiuddin

Setiap rangkaian ibadah haji menyimpan pesan mendalam yang relevan dengan realitas kehidupan saat ini. Misalnya, dalam soal melatih kesabaran dan disiplin dalam tata tertib, hingga tidak mementingkan ego dan hawa nafsunya sendiri. Dalam pelaksanaan ibadah haji, juga terkandung pesan universal tentang pentingnya rasa empati terhadap sesama. Tentu saja masih banyak kekurangan dan pelanggaran yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu, tetapi hal tersebut hanya pengecualian yang tidak menyangkut esensi dari pelaksanaan ibadah itu sendiri.

Dalam pelaksanaan ihram, terkandung pesan mendalam tentang pentingnya kesederhanaan dan kesetaraan sosial. Ketika kita mengenakan pakaian berwarna putih-putih, hal itu mengisyaratkan pesan agar status duniawi dilepaskan dalam diri kita. Tak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, bahkan seorang presiden pun berdiri sejajar dengan tukang martabak dan asongan. Tidak ada keangkuhan dan kesombongan di sana, sikap rendah hati dan kesantunan harus dijaga, karena kita harus memandang orang lain bukan berdasarkan status sosial dan kedudukan duniawi.

Dalam pelaksanaan wukuf di Arafah yang sedang dilaksanakan pada hari-hari ini, kita semua dipaksa berhenti dari sekala aktivitas fisik dan fokus pada introspeksi diri dan muhasabah. Dalam bahasa makrifat, sering kita namakan “mati sebelum datangnya kematian”. Kita harus meniadakan diri, atau mematikan ego-ego dalam diri kita. Pada hakikatnya, kita berasal dari Allah, dan tak akan pulang ke mana-mana selain kembali kepada kasih sayang Allah.

Di Padang Arafah, hendaknya kita mengucap banyak istighfar, memohon ampun pada Allah, bahwa selama ini kita telah meluangkan banyak waktu untuk menganggap kehidupan ini sebagai senda gurau dan permainan belaka. Kita terlalu sedikit bersyukur dan seringkali tak menghargai waktu sebagai amanah yang dianugarahkan Tuhan.

Dalam pelaksanaan Thawaf, mengajarkan kita bagaimana agar banyak memanfaatkan waktu sehari-hari untuk beraktivitas yang lebih berorientasi pada nilai-nilai ilahiyah. Kegiatan berputar tujuh kali mengelilingi Ka’bah mengindikasikan bahwa kita hidup harus sanggup bersikap tenang dan sabar di pusat keramaian, memiliki penghargaan dan toleransi tinggi terhadap kepentingan orang lain. Sedangkan, aktivitas Sa’i sambil berjalan dan berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa, mengajarkan kita agar mengutamakan ikhtiar dan bekerja secara optimal, akan tetapi perkara hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya pada keputusan Allah Swt.

Dalam kegiatan Sa’i, selayaknya kita mengenang perjuangan Hajar yang berlari antara Shafa dan Marwah untuk mencari sumber air, yang kemudian sumber mata air itu justru memancar dari hentakan kaki sang anak (Ismail) yang membutuhkan air susu dari ibunya.

Karena itu, ketika Hajar mengumpulkan air-air yang melimpah itu dengan kata “zumi-zumi” (berkumpullah), maka dengan itu, air yang memancar hingga saat ini, dan menghidupi puluhan juta jamaah umrah dan haji setiap tahun, dinamakan “zamzam”.

Pesan universal dari gerakan Sa’i ini, agar manusia jangan patah arang, dan terus berusaha secara optimal dalam berikhtiar untuk mencari rizki yang halal dan diridhoi oleh Allah. Sedangkan, aktivitas melontar Jumrah yang diidentikkan “melawan setan” pada hakikatnya, mengajarkan kita agar melawan hawa nafsu yang ada dalam diri kita sendiri.

Misalnya, kecenderungan ego dan nafsu ingin memperkaya diri (korupsi), nafsu kepemilikan (konsumerisme), hingga mengumbar disinformasi (hoaks) yang menghubungkan kehendak nafsu dengan peran tangan dan jari-jemari hingga mewujudkannya dalam perilaku kebatilan. Dan dampak buruknya, bukan hanya menimpa diri kita, tetapi juga bagi peradaban banyak orang.

Dengan melontar Jumrah, kita diajak bertabayyun agar meninggalkan perilaku yang tampaknya menyenangkan kita dalam waktu sekejap, namun akan berdampak buruk bagi kehidupan kita di masa yang akan datang. Dengan kesanggupan merefleksi diri dalam pelaksanaan ibadah haji, niscaya haji kita dapat dikategorikan “mabrur”, seperti yang ditegaskan oleh Rasulullah (hadits Bukhari): “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”

Karena itu, efek dari haji mabrur bukan tampak pada tampilan luar, seperti memakai peci haji lalu dipanggil “Pak Haji” oleh masyarakat sekitar, akan tetapi akhlak dan kelakuannya mengalami perubahan dengan baik atau tidak.

Jadi, indikator dari pelaku ibadah haji berbasis pada akhlak dan karakteristik. Jika seseorang menjadi lebih santun dan sabar, semakin memiliki kepekaan dan kepedulian sosial, semakin meningkat kualitas ibadahnya, maka dapat dijamin ia telah mengalami “haji mabrur” selama melaksanakan haji ke kota suci Mekah.

Dalam haji mabrur, terkandung spirit haji yang harus dipertahankan, karena dibutuhkan kesadaran akan pentingnya komitmen jangka panjang. Tetapi, jika ibadah haji hanya sebatas seremonial aktivitas fisik, tanpa adanya perubahan perilaku dan nilai-nilai akhlak, maka hasilnya tak lebih dari orang-orang yang melaksanakan puasa sebulan penuh, seperti yang diperingatkan oleh Rasulullah: “Seberapa banyak orang berpuasa namun tidak berdampak apa-apa dalam kepribadiannya, kecuali hanya mendapatkan lapar dan dahaga.”

Semoga kita tergolong hamba Tuhan yang terus meningkatkan kualitas ibadah kita, sehingga apa-apa yang kita laksanakan selaras dengan kehendak, serta mendapat ridho Allah Swt. Amin ya rabbal alamin. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Banten. Aktif menulis esai di Radar NTT, Jawa Pos, Tribunnews.com, Solopos, Radar Jember, janang.id, tangselpos.id, dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.