Enaknya Jadi Seniman

oleh -1644 Dilihat
banner 468x60

Oleh: I Gusti Purwo Mawasdi

Apakah ada orang yang tidak berbakat sebagai seniman? Saya kira, semua orang punya bakat di bidang seni, entah seni apapun yang dia sukai. Cobalah kita rehat sejenak dari segala hiruk-pikuk kesibukan, lalu lihat ke nurani yang lebih dalam. Saya kira, setiap kita punya kemampuan dan bakat untuk berkreasi atau menciptakan sesuatu yang unik dan langka.

Entah kita mau bikin kapal-kapalan dengan kertas, menciptakan lirik lagu yang unik, merangkai bunga, menggambar sesuatu, berakting di depan kamera, menyenandungkan salawat atau lagu religi, menulis cerpen atau novel Yuni, Yuli, Yanti atau siapapun cewek yang kita cintai.

Seseorang mungkin saja lebih suka bernyanyi atau melagukan ayat-ayat Alquran, sementara yang lainnya suka melukis, menulis puisi dan cerpen, menari atau melawak, sah-sah saja, apapun yang Anda sukai. Semuanya itu bernilai sebagai refleksi dan pengungkapan perasaan dalam diri. Pokoknya, apapun yang bisa menyalakan kreativitas dan menggugah jiwa, mesti hal itu dapat mendatangkan kebahagiaan batin.

Mungkin saja ada yang menjadikan hobi dan bakat sebagai kerja sambilan yang mendatangkan rezeki. Meskipun, jika ingin mencari kualitas dalam berkreasi, maka Anda tak bisa menyandarkan diri bahwa honorarium seakan menjadi satu-satunya motivasi yang membuat seseorang bisa kreatif. Kita harus memahami, bahwa sangat sedikit anggaran keuangan di negeri ini yang berputar di sekitar dunia seni, intelektual maupun kebudayaan.

Karena itu, semestinya kita pintar berbagi hasil karya dan kreasi untuk mencerdaskan dan mendewasakan bangsa ini. Siapa lagi kalau bukan intelektual, jurnalis atau sastrawan yang harus ikhlas dan legawa untuk berbagi ilmu dan membangun peradaban di zaman “edan” ini.    Sepenuh hati saya tekankan pada Anda agar sanggup berbagi karya secara cuma-cuma.    Bukankah semakin banyak hasil-hasil kreasi yang diakses melalui platform internet, semakin bermekaran dan bersinambung, juga semakin memperkaya khazanah keilmuwan kita

Cobalah menulis atau melukis setidaknya untuk diri sendiri. Dalam berbagai karya sastra, kita dapat membaca detil-detil perjalanan seorang penderita paranoid atau skizofrenia yang mengalami kesembuhan karena menjalani terapi menulis. Menurut saya, seni memang terapi yang paling ampuh bagi penderita delusi kejiwaan di era hiper modern ini.

Bukan saja menulis puisi, tetapi juga karya sastra dalam bentuk prosa, melukis, menari maupun mendongeng. Seni memungkinkan kita melihat dunia dalam cahaya baru dan memahami diri kita sebagai bagian dari gemerlap cahaya tersebut. Mengenai hal ini, terungkap jelas pada karya-karya genial melalui channel YouTube, seperti Cerita Shanum, Pandangan Mata, Pintu Pikiran, Bijak Semenit, dan lain-lain.

Berbagi karya

Saat ini, kita sering menyaksikan orang-orang yang rela berbagi tulisan melalui jejaring internet, begitu menakjubkan dan menyegarkan hati saya. Hampir tiap pagi saya disuguhi karya-karya sastra, baik dalam bentuk cerpen maupun puisi, serta hasil-hasil analisis dalam bentuk opini dan artikel yang luar biasa daya gugah dan pukaunya, begitu menyentakkan imajinasi saya.

Saya pun akhirnya ikut-serta meluangkan waktu untuk berbagi hasil analisis yang bisa saya tuangkan untuk publik, hingga pada gilirannya bertolak-belakang dengan pundi-pundi dollar yang dihimpun orang-orang seperti Indra Kenz maupun Doni Salmanan Cs. Saya mendapat limpahan rizki dari mereka yang justru mau berbagi dengan tulus-ikhlas, menjalin silaturahmi dengan baik, hingga semakin berisi dan berisi rekening saya.

Ya, hanya dengan melemparkan karya-karya saya maupun karya orang lain. Di samping saya juga berbagi informasi dengan penulisnya tanpa ada kesepakatan kerja yang mengikat dalam bentuk apapun. Hanya soal keikhlasan dan ketulusan hati untuk saling beramal dan berbagi ilmu. Itu saja. Tak ada lain.

Ketika saya memulai kebiasaan berbagi, saya tidak pernah membayangkan bahwa beratus-ratus dan beribu-ribu orang akan mengunduh dan membaca cerpen dan opini-opini saya. Lambat laun, saya menyadari bahwa karya-karya sastra saya sepertinya cukup banyak menginspirasi orang lain. Sehingga pada gilirannya, mereka tak sungkan-sungkan untuk meminta nomor rekening atau datang langsung ke kediaman saya.

Sampai suatu hari, bagian security di komplek perumahan merasa heran, mengapa begitu banyak paket maupun tamu berdatangan di kediaman saya. Jawaban saya simpel saja, “Itulah efek dari berbagi. Karena, jika kita menanam satu pohon maka akan bercabang dan berbuah, hingga muncul lagi tunas-tunas baru sampai menjulang ke angkasa!”

Saya telah sampai pada kesadaran bahwa cara terbaik untuk mencapai kualitas diri adalah dengan melakukannya seikhlas mungkin. Kumpulkan opini maupun cerpen yang dapat menginspirasi dan mendewasakan rakyat. Awas, perlu hati-hati dalam memilah-milah, manakah karya-karya yang bisa menyesatkan dan menjerumuskan, dan manakah yang dapat menyegarkan imajinasi dan mendewasakan pembaca

Pastikan bahwa Anda tidak melanggar batas-batas kebudayaan dan intelektualitas yang mengganggu pihak lain. Kalaupun Anda ingin menulis suatu karya berdasarkan hasil karya orang lain, pastikan bahwa Anda berkomunikasi dan berhubungan baik dengan penulisnya. Sehingga, perubahan atau pembaruan yang diciptakan tidak mengusik dan menganggu hasil-hasil kreasi orang lain.

Kalau ada seseorang yang komplain dan cemburu pada karya-karya Anda, biarkan “si pencemburu buta” itu disibukkan oleh pikiran dan perasaannya sendiri. Atau barangkali memang bakat dia di bidang mengusik dan mengutak-atik karya orang lain. Tak lebih dari itu. Biarkan orang-orang itu sibuk memikirkan dan mendengki Anda, siang-malam memikirkan Anda, tidur tak nyenyak miring ke kiri salah ke kanan salah. Jangan sampai Anda yang sibuk memikirkan mereka. Yang penting, Anda sudah membangun dan menciptakan benteng pengaman yang kokoh, biarpun sampai berurusan ke jalur hukum.

Tetapi, apapun itu, ini adalah rekomendasi saya untuk sesama penulis. Sekali lagi, jangan sibuk pada hasil-hasil karya cipta orang lain, seburuk apapun dalam pandangan Anda. Tetapi, sibukkan diri Anda untuk menjadi kreatif, jika memang Anda ingin betul-betul berhasil, baik dalam kualitas diri maupun secara finansial.

Harapan saya, setiap kita harus bisa menikmati menu yang terhidang di depan mata. Kalau Anda menikmati salah satunya, maka tak perlu merahasiakan anugerah yang sedang Anda nikmati. Kabarkan kenikmatan rasanya pada saudara-kerabat, teman, dan siapapun yang perlu ikut-serta menikmatinya. Bagikan dengan tulus-ikhlas kepada segenap bangsa ini.

Menulis bukan melacur

Ada orang yang mengatakan pada saya, bahwa membeli buku di toko sama saja dengan memberi dan menerima. Ya, kita memang sedang hidup dalam genangan ekonomi moneter di tengah tumpukan tagihan yang mesti dibayar. Tapi pada prinsipnya, memberi dan membeli bagi masyarakat modern, adalah dua hal yang berbeda.

Jika kita berbagi tulisan, maka kita bisa memberikan ilmu pada orang lain, tanpa syarat apapun yang mesti dibayar, selain ingin mengajak orang supaya cerdas dan dewasa. Perbedaan efeknya sangat besar ketimbang kita menjual ilmu melalui buku, meskipun dengan dalih sebagai pengganti biaya kertas, namun tetap harga barangnya ditentukan oleh pihak lain.  Bedakan dengan kita berbagi ilmu tanpa syarat, yang pasti menggembirakan, sebagai ketentraman batin dengan cara yang tak pernah ada dalam transaksi moneter bersyarat.

Saya sepakat dengan pendapat yang mengatakan, bahwa orang yang mengatakan membeli dan menjual sebagai memberi dan menerima, itu sama saja dengan “melacurkan diri”. Pikirkan perbandingannya (maaf) antara bercinta dengan pasangan (istri) dengan bersenggama dengan pihak yang ditentukan harganya (pelacur). Secara fisik, mungkin sedikit saja perbedaannya, tetapi secara perasaan setelah berhubungan?

Bandingkan pula dengan konsep guru yang memberi ilmu pada murid, tanpa menentukan bayaran, atau bahkan tidak meminta bayaran, ketimbang guru yang memberi ilmu dengan mematok bayaran tinggi? Di sisi lain, ketika si majikan berhenti membayar pengasuh anaknya di rumah, akankah kepedulian pengasuh pada sang anak akan berlanjut? Apakah pengasuhan yang bersyarat dapat dikatakan sebagai pengasuhan?

Maaf, ini bukan diskusi filsafat maupun ceramah agama, seakan saya menyamakan sastrawan sebagai pelacur. Sebab, luka emosional dan psikologis yang ditimbulkannya cukup nelangsa dan mengenaskan. Tapi, jelas dipandang dari sudut manapun, melacur bukanlah cara baik untuk menjalankan kehidupan yang sehat.

Meskipun, disadari atau tidak, di hampir semua mata pencaharian kita di negeri marjinal yang dikatakan “berkembang” ini, semua kita telah menjual tubuh-tubuh kita dengan berbagai-macam cara, demi mendapatkan nilai finansial maupun uang.

Kita semua mengharap bayaran untuk menyiapkan makanan, mendidik anak, menyembuhkan si sakit, dan segala hal yang tak terbayangkan oleh masyarakat zaman dahulu yang lebih tenang dan damai, lantaran menjalani hidup tanpa banyak pamrih.

Lalu, berapa banyak di antara kita sebagai penulis, jurnalis maupun sastrawan, yang tetap eksis mau menulis, berkarya dan membagikan ilmu, tanpa mengharap bayaran dan pundi-pundi uang? Jangan-jangan, kita malah tidak lebih baik daripada pelacur maupun lelaki hidung belang? Salam. (*)

Penulis adalah Pegiat dan pengamat sastra milenial Indonesia, menulis cerpen dan artikel di berbagai harian nasional, cetak dan daring, berdomisili di Ubud, Bali

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.