Dua Kebenaran yang Saling Berlawanan 

oleh -870 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Chudori Sukra

Banyak sahabat Nabi yang berjuang dengan gigih saat Rasulullah masih hidup. Namun kemudian, sebagian memilih berjuang dengan caranya sendiri setelah Nabi wafat. Bahkan, ada juga pihak-pihak dari keluarga Nabi dan istrinya (Aisyah), yang juga berjuang dengan caranya sendiri. Hal ini identik dengan tipikal sebagian pejuang kemerdekaan di Indonesia, misalnya sosok Kartosuwiryo yang juga berjuang dengan caranya sendiri, lalu menentang kebijakan bapak bangsa, termasuk berseberangan paham dengan Soekarno presidennya.

Setelah peristiwa pengeboman di Cikini yang menewaskan belasan orang (termasuk anak-anak), Kartosuwiryo mengakui dirinya terlibat di muka pengadilan. Itulah yang membuat Presiden Soekarno terpaksa menandatangani vonis hukuman mati bagi Kartosuwiryo. Meskipun, dia adalah salah seorang sahabat dekatnya, terutama ketika mereka belajar di kediaman guru mereka, Cokroaminoto (pada 1920-an), sewaktu masih tinggal di kota Bandung.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal sosok Zubair dan Thalhah yang wafat di medan pertempuran ketika terjadi Perang Jamal yang dipimpin Aisyah, istri Rasulullah. Fatimah selaku istri Khalifah Ali bin Abi Thalib, juga anak Rasulullah kadang berbeda paham dengan Aisyah, hingga meruncing, bahkan hingga terjadi pertikaian dan peperangan. Kedua kubu itu tetap dalam koridor berikhtiar dan berijtihad membela kebenaran yang diyakininya, sebagaimana Kartosuwiryo yang juga “berjuang” menentang kepemimpinan Soekarno.

Kita bisa memaklumi ketika kematian itu terjadi di medan perang atau berdasarkan keputusan pengadilan. Kita juga memahami Imam Ali yang menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah, karena dikalahkan dalam sidang arbitrase. Sebodoh apapun rakyat yang memihak Muawiyah, ketika Imam Ali ingin menyelamatkan umat Islam (agar menghindari perang saudara), akhirnya ia rela menyerahkan kepemimpinan kepada pihak yang berambisi menjadi penguasa. Selanjutnya, Muawiyah pun mendirikan dinasti kekhalifahan Islam dari garis Bani Umayyah.

Di satu sisi, Imam Ali berpendapat, bahwa kebenaran dan keadilan harus ditegakkan, meskipun dengan pertumpahan darah. Namun di sisi lain, beliau mengingat petuah Rasulullah yang sangat mencintai umatnya, hingga dijamin pengampunan dan syafaatnya di akhirat kelak. Demikian pula Soekarno yang menyerahkan kepemimpinan kepada Soeharto, meskipun dari sisi Angkatan Udara dan Angkatan Laut masih memihak kubu presiden. Tetapi, sebagai muslim yang tidak menghendaki pertumpahan darah, Soekarno yang sudah sepuh, akhirnya mengalah dan menyerahkan kepemimpinan RI kepada Soeharto dan Orde Baru.

Kemudian, apakah pelimpahan kekuasaan kepada Muawiyah dan Soeharto (yang tergambar dalam novel Pikiran Orang Indonesia) itu akan baik-baik saja? Apakah Soeharto dan keluarga Ibu Tien benar-benar seorang muslim, atau mengenal Islam dengan baik? Apakah sama orang-orang yang mengenal dan memahami Islam, dengan mereka yang hanya “berbaju muslim” demi kepentingan politik kekuasaan duniawi?

Lalu, siapa yang berani memastikan, bahwa Kartosuwiryo lebih memahami Islam ketimbang Soekarno? Dan siapa pula berani memastikan, bahwa Muawiyah lebih tulus memperjuangkan kebenaran Islam, ketimbang Imam Ali bin Abi Thalib?

Darah perjuangan Kartosuwiryo maupun Kahar Muzakkar seakan mengejawantah dalam diri Imam Samudra dan Amrozi yang sama-sama berambisi memperjuangkan Indonesia agar menjadi negara Islam (Darul Islam). Di sisi lain, keputusan SBY untuk menjatuhkan vonis hukuman mati, identik dengan keputusan Presiden Soekarno atas Kartosuwiryo, yang tetap konsisten memperjuangkan NKRI.

Bukan berarti SBY menghendaki Indonesia agar tidak menjadi negara Islam. Tetapi, ia sebagai patriot tentu lebih memilih memperjuangkan NKRI yang menaungi mayoritas muslim, sekaligus juga minoritas non-muslim.

Sebagai pemimpin Indonesia saat ini, hendaknya Presiden Prabowo paham betul, mana term-term yang pantas dikemukakan di depan publik, serta mana yang riskan diungkapkan. Karena, dikhawatirkan menimbulkan keresahan dan perpecahan di kalangan umat beragama dalam naungan NKRI kita.

Jokowi bisa dibenarkan ketika ia menindak tegas paham radikalisme Islam, seperti pada kasus Bahar atau Rizieq. Siapapun yang membuat onar dan gemar memprovokasi massa, memang pantas dipenjarakan, tak terkecuali mereka yang mengaku-ngaku keturunan Nabi. Tetapi, Jokowi maupun Prabowo tak bisa dibenarkan jika mereka terpengaruh paham Islamofobia dari Barat, hingga cenderung antipati terhadap kebesaran dan keagungan Islam yang didakwakan para waliyullah (di Nusantara).

Lalu, bagaimana dengan Ayatullah Ali Khamenei (Iran) yang membela Palestina dari kezaliman Zionisme Israel? Tentu, bagi Ali Khamenei persoalan ini adalah perkara kebaikan melawan kejahatan, juga sangat terkait dengan pembelaan terhadap saudara seiman dan seagama (Islam). “Untuk kaum muslimin yang tak bisa menyokong perjuangan Iran, cukup membantu kami dengan doa dan takbir,”  demikian tegas Ali Khamenei ketika pasukannya berhadapan dengan pasukan musuh.

Dalam beberapa minggu, puluhan gedung megah di sekitar Tel Aviv sebagai pusat ekonomi dan kebudayaan Israel, yang merupakan hasil kreasi para arsitek Yahudi, kemudian luluh-lantak oleh rudal-rudal Balistik yang diluncurkan Iran dari jarak ribuan kilometer.

Netanyahu lantas bermanuver, seakan-akan bangsa Israel sebagai eksplorator dan pembangun peradaban (khalifah), sebagai homo sapiens dan manusia modern yang patut dibanggakan, kini telah dihancurkan oleh serangan Iran sebagai negara Islam yang bersifat purba dan barbar. Dibantu oleh penguasa Amerika Serikat (Trump) yang terus berupaya memengaruhi opini publik, agar turut serta memosisikan Ali Khamenei sebagai penjahat perang, sebagaimana pernah dituduhkan kepada Muammar Khadafi (Libya) dan Saddam Hussein (Irak).

Banyak pemimpin Barat yang humanis (non-muslim), tampaknya sulit menyejajarkan Ali Khamenei yang rendah hati, ketimbang para pemimpin Islam (sunni) di beberapa negara yang dinilai angkuh dan arogan. Karena itu, berhati-hatilah, terutama bagi penguasa-penguasa negeri yang sudah kadung menandatangani kesepakatan dengan Barat (Amerika dan Inggris), karena di belakang mereka adalah saudagar-saudagar Bani Israel yang lebih mementingkan ideologi “dunia bebas”, ketimbang melestarikan agama-agama dan kepercayaan Samawi (termasuk agama Yahudi sendiri). Mereka bahkan berani mendeklarasikan diri sebagai “kafir”, serta menyemarakkan paham Islamofobia, juga memerangi Gereja sebagai tempat ibadah umat Kristiani.

Di Indonesia, dalam beberapa dekade terakhir, kadang kita juga menyaksikan kaum radikalis meneriakkan “Allahu Akbar” sambil membawa-bawa obor untuk membakar masjid penganut Ahmadiyah atau kepercayaan lain yang dituduh sesat. Sementara, mereka yang menjadi korban pun sama-sama meneriakkan “Allahu Akbar”. Demikian halnya dengan para mahasiswa yang mengalami bentrokan berdarah dengan aparat beberapa waktu lalu. Keduanya bergerak mengatasnamakan “perjuangan”, bahkan dua kubu itu sama-sama menyanyikan lagu “Halo-halo Bandung”.

Lalu, siapakah yang paling benar, atau yang lebih mendekati kebenaran? Meskipun, sejatinya setiap kelompok yang berjuang tentu mengklaim dirinya di atas kebenaran, dan tak seorang pun pejuang yang berani mengklaim dirinya berada di posisi yang salah dan sesat.

Pada prinsipnya, Tuhan berfirman di seluruh kitab-kitab Samawi, bahwa manusia termulia adalah mereka yang sanggup berjuang membela agama-Nya, menegakkan prinsip-prinsip kebenaran dan keadilan, dalam keyakinan bahwa setiap pejuang harus berada di posisi yang paling benar. Sedangkan, pihak musuh diklaim berada di posisi yang salah dan menyimpang dari jalan yang benar.

Rasulullah pernah memprediksi, bahwa di akhir zaman nanti akan ada perselisihan dua kekuatan yang sama-sama mengklaim dirinya tengah berjuang di atas rel-rel kebenaran. Barangkali, saat inilah yang terjadi antara kubu Ali Khamenei yang memperjuangkan Islam, dengan kubu Netanyahu yang memperjuangkan Bani Israel (Yahudi).

Pemerintah Amerika (Trump) telah melakukan kekeliruan ketika memparalelkan kekuatan Islam sebagai kepanjangan tangan dari ideologi fasisme dan komunisme. Mereka juga keliru ketika menganggap Ali Khamenei (Iran) seakan dapat ditaklukkan sebagaimana Saddam (Irak) atau Khadafi (Libya) yang berasal dari keturunan suku-suku Baduy Arab. Sedangkan, Ali Khamenei memiliki garis keturunan dari Rasulullah melalui jalur Imam Hussein bin Saydina Ali (suami dari Fatimah binti Muhammad).

Spiritualitas Islam di Iran, bersama para imam dan ulama yang memberikan contoh dan teladan, terus mengembangkan dirinya menuju alam hakikat dan makrifat (tasawuf). Sementara, tidak sedikit muslim di negeri-negeri Arab justru membatasi diri pada aspek syariat, hingga membawa Islam seakan setback kepada kultur paganisme yang cenderung memberhalakan simbol-simbol agama. Tidak jarang pemimpin-pemimpin muslim di Arab yang terimbas tawaran-tawaran kemegahan duniawi dari Barat, yang akhirnya menjerumuskan mereka pada budaya liberalisme dan hedonisme.

Pada akhirnya, prediksi Rasulullah tentang kekuatan dua kubu di akhir zaman ini, adalah mereka yang memperjuangkan negeri akhirat melawan mereka yang memperjuangkan kemegahan duniawi dengan jaminan harta, tahta, dan wanita. Keduanya akan sama-sama mengklaim dirinya sebagai pembangun peradaban (khalifah), sedangkan pihak musuh dianggap sebagai perusak dan penghancur peradaban umat manusia.

Sekarang yang menjadi persoalan: akan berada di kubu mana Presiden Indonesia (Prabowo) memihak? Lalu, sanggupkah orang Indonesia memihak kebenaran (Imam Mahdi) ketika menghadapi iming-iming kemegahan duniawi yang ditawarkan para musuh (Dajjal) di akhir zaman ini?

Siapa yang menjamin Anda akan memilih negeri akhirat sebagai kenikmatan abadi, ketimbang mementingkan kenikmatan duniawi yang sesaat dan hanya sekejap mata saja? ***

Penulis adalah Anggota Mufakat Budaya Indonesia (MBI), aktif menulis esai dan prosa di harian Kompas, Koran Tempo, Republika, dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.