Dalam Diam Terdengar Suara Tuhan 

oleh -1483 Dilihat
banner 468x60

Oleh: K.H. Ahmad Rafiuddin

Di tengah hiruk-pikuk dunia digital yang mendesak untuk saling terhubung, muncul suara-suara Islami yang berlandaskan hadist Nabi, bahwa diam adalah emas. “Bicaralah yang baik-baik, kalau tak sanggup maka diam saja,” demikian tegas Rasulullah.

Di situ menunjukkan bahwa diam adalah kekuatan, dan bukan kelemahan. Sikap diam di tengah kegaduhan saat ini, menunjukkan ketenangan batin, pengendalian diri, dan kemampuan untuk berhenti dan berkontemplasi, sebagai kunci bagi kehidupan yang produktif.

Diam juga menjadi pangkal bagi kreativitas dan kesehatan mental di era yang serba tergopoh-gopoh ini. Bisingnya media sosial, tuntutan agar selalu responsif, membuat kita kehilangan kemampuan untuk fokus, wuquf dan berpikir jernih. Sedangkan, sikap bijak dan arif senantiasa lahir dari mereka yang mampu berpikir jernih di tengah ketenangan batin.

Adalah tepat adagium yang menyatakan, bahwa semakin banyak kita bicara, semakin sedikit kita mendengar. Sama halnya ketika kita tergesa-gesa mencapai tujuan, justru semakin membuat kita kehilangan arah dan kendali diri.

Filosofi ini bukan saja cocok bagi para pemikir dan intelektual, melainkan juga sangat relevan untuk para pemimpin, akademisi, pendidik, hingga pengasuh pesantren, yang sama-sama terkungkung dalam pusaran multitasking dan distraksi informasi yang tiada henti sepanjang hari.

Jika ditelaah lebih mendalam, hadis Nabi di atas mengisyaratkan bahwa sikap diam, dapat mengakses kekuatan dalam sanubari kita. Sebab, dalam situasi khusyuk dan diam, kita punya peluang yang leluasa untuk mengamati, merenung, serta mengambil keputusan yang bijak. Gus Dur lebih banyak diam ketika para elit politik sibuk saling tarik-menarik berebut kepentingannya. Bahkan, seringkali beliau menanggapinya dengan lelucon dan guyonan, sebagai upaya muhasabah, introspeksi atau menertawakan diri sendiri.

Akhir-akhir ini, banyak anggapan yang keliru, seakan-akan kesuksesan itu identik bagi mereka yang pandai dan cepat menanggapi atau memberikan respons. Padahal, jika tak sanggup menyikapi dengan tenang dan penuh perhitungan, justru akan membawa mafsadah dan malapetaka bagi dirinya sendiri. Saat ini, ketika dunia memaksa kita untuk selalu merespons segala hal, serta mengejar validasi eksternal, maka sikap diam adalah tindakan yang progresif dan revolusioner.

Bagaimana pun, kita butuh ruang kosong di tengah waktu yang lapang tanpa gangguan, setidaknya bangun di waktu sepertiga malam, solat tahajud, agar dapat berpikir secara mendalam dan menjalani hidup secara autentik.

Kini, di tengah persaingan dan adu kekuatan yang tak keruan, pesan sentral Rasulullah agar bersikap diam semakin menunjukkan validitas dan relevansinya. Sikap diam bukan berarti serba pasrah dan menyerah, tetapi justru untuk menemukan kembali kekuatan sejati dalam diri kita. Pesan tersebut mengindikasikan, bahwa hanya orang-orang yang sanggup bersikap diam dan khusyuk, ya merekalah yang dapat mendengar suara-suara Tuhan. (*)

Penulis adalah Penulis buku “Marwah Pesantren”, juga pengasuh pondok pesantren Tebuireng 09 (Nurul Falah), di Rangkasbitung, Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.