Baptisan dan Ekaristi: Sumber Keselamatan di Tengah Krisis Kepercayaan Iman Umat

oleh -321 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Benediktus Mendonca

Berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan kaum klerus seperti skandal pelecehan seksual, ketidakterbukaan dalam pengelolaan keuangan gereja, sikap hirarkis yang kerap membungkam suara umat dan berbagai persoalan lainnya menjadi suatu persoalan yang secara perlahan mengikis kepercayaan umat beriman terhadap institusi Gereja Katolik. Dalam survei yang dilakukan oleh lembaga Pew Reserch Center beberapa tahun terakhir menunjukkan suatu penurunan signifikan berkaitan dengan partisipasi umat dalam perayaan Ekaristi, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini membuat banyak orang tetap percaya kepada Kristus, tetapi meninggalkan Gereja sebagai lembaga.

Di hadapan persoalan-persoalan ini, muncul berbagai pertanyaan mendasar: apakah iman Kristiani dapat bertahan tanpa kepercayaan pada institusi? Dan di mana sesungguhnya dasar identitas seorang Kristiani harus berpijak? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bukan terletak pada suatau perubahan dalam tata kelolah atau cara pengelolaan serta program komunikasi yang lebih baik dari para pemimpin Gereja meskipun hal itu tetap ada dan diperlukan. Namun, jawaban yang mendasar dan jauh lebih dalam adalah pada dua sakramen yang sangat penting dalam membentuk dan terus memperbaharui identitas umat beriman yaitu Baptisan dan Ekaristi.

Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dikatakan bahwa “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus Yesus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:3-4). Dari kalimat ini mau menunjukan suatu pertanyaan yang mendasar yaitu pernyataan tentang siapa seorang kristiani pada tingkat keberadaan yang paling mendasar atau fundamental. Baptisanan bukanlah suatu ritual atau upacara penyambutan ke dalam komunitas sosial religius, melainkan suatu kelahiran kembali ke dalam Kristus itu sendiri.

Katekismus Gereja Katolik (KGK) menegaskan bahwa “Baptis adalah dasar seluruh hidup Kristen, pintu masuk ke dalam hidup di dalam Roh (vitae spiritualis ianua) dan pintu menuju sakramen-sakramen lainnya. Melalui Baptis, kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putra-putri Allah; kita menjadi anggota Kristus, dimasukkan ke dalam Gereja dan mengambil bagian dalam perutusan Gereja”(KGK 1213). Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) ditegaskan bahwa Baptisan adalah dasar seluruh hidup kristen, bukan sebagai pintuk masuk ke dalam keanggotaan yang tidak secara penuh atau aktif dalam sebuah organisasi. Karena itu, identitas umat beriman yang dibaptisan tidak bergantung pada kredibilitas uskup yang membaptisan, atau pada kesucian pastor paroki, atau juga pada kewibawaan bendahara dewan paroki. Identitas itu ada dan melekat pada hubungan yang erat dengan Kristus.

Dalam Konsili Vatikan II menegaskan bahwa melalui Baptisan, umat beriman “sungguh-sungguh dimasukkan ke dalam Gereja Kristus” (LG 14) bukan sekadar terdaftar dalam buku paroki. Hal ini menjadi dasar yang perlu di perhatikan dan dipahami di masa krisis ini bahwa identitas kristiani yang sejati bertumpu pada persatuan dengan Kristus, bukan pada kepuasan terhadap pengelolaan dalam gereja sebagai lembaga.

Proses Ritus Inisiasi Kristiani Orang Dewasa (RCIA/RICA) memberikan suatu pemahaman yang lebih mendalam tentang hal ini. Dalam proses katekumenat yang berlangsung cukup lama dan panjang kurang lebih setahun penuh para calon baptisan tidak hanya mempelajari dan memahami tentang doktrin-doktrin yang ada, tetapi para calon baptis di ajak untuk masuk ke dalam suatu pertobatan yang utuh dan total yang di mana dapat menghantarkan pada suatu perubahan dalam cara hidup, cara pandang, dan cara membangun relasi yang baik dengan sesama. Pada perayaan malam paskah, ketika air baptisan dituangkan atau para calon baptisan dibenamkan kedalamnya, ada suatu perubahan yang terjadi yaitu kelahiran baru yang tidak bisa dibatalkan oleh siapapun.

Dalam hal ini jika Baptisan adalah kelahiran, maka Ekaristi adalah makanan yang menjadi dasar dan tiang penopang kehidupan tersebut. Seperti yang di katakan dalam injill Yohanes : “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Aku berikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia” (Yohanes 6:51). Dalam kisah injil Yohanes ini mau menunjukkan bahwa kehadiran Yesus Kristus bukanlah suatu simbol kenangan, melainkan suatu kehadiran yang sungguh nyata atau real presence yang menjadi jantung dari iman Katolik. Dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus Rasul Paulus mewarisi dan meneruskan apa yang telah ia terima yang menjadi jantung iman Katolik. Rasul Paulus mewarisi dan meneruskan apa yang ia terima: “Sebab aku telah menerima dari Tuhan apa yang telah kuteruskan kepadamu: Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1 Korintus 11:23-24). Ini bukanlah sebuah perintah Ekaristi yang sifatnya tetap, tetapi suatu peristiwa hidup yang terus berlangsung. Sacrosanctum Concilium (SC 47), dokumen liturgi Vatikan II, menyatakan bahwa Kristus “meninggalkan kepada Gereja yang dikasihi-Nya kurban Ekaristi, kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya: sakramen kasih, tanda persatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan paskah.”

Dalam kehidupan umat kristiani ada begitu banyak pertanyaan yang terus muncul berkaitan dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum klerus. Perlu di ketahui bahwa dalam Katekismus Gereja Katolik mengajarkan “Sakramen bekerja ex opere operato (secara harafiah: melalui tindakan yang sudah dilaksanakan), artinya berkat karya penyelamatan Kristus yang dilaksanakan sekali untuk selama-lamanya. Karena itu sakramen tidak diperoleh karena kebenaran orang yang memberikan atau menerimanya, tetapi karena kekuatan Allah” (KGK 1128). Secara harafiah Ex Opere Operato berarti “dari pekerjaan yang dikerjakan” ini adalah suatu prinsip yang menyatakan bahwa daya guna suatu sakramen tidak bergantung pada kekudusan seorang pelayan atau seorang imam. Rahmat yang ada pada sakramen adalah rahmat yang bersumber dari Kristus sendiri bukan dari kesucian manusia yang dipilih menjadi instrumen-Nya.

Namun, bukan hanya prinsip ex opere operato tetapi juga dilengkapi dengan prinsip ex opere operantis yaitu “dari pekerjaan si pelaku.” Artinya bahwa rahmat dari sakramen yang diberikan bisa dirasakan sepenuhnya oleh umat beriman tergantung pada kesiapan hati, iman, dan keterbukaan setiap orang yang mau menerimanya. Sacrosanctum Concilium (SC 11) menegaskan bahwa agar liturgi dapat menghasilkan buah yang berlimpah, maka kehadiran umat beriman harus “dengan disposisi yang tepat, pikiran mereka selaras dengan suara mereka, dan bekerja sama dengan rahmat surgawi.” Sakramen bekerja secara objektif dari pihak Allah, karena itu setiap umat beriman dengan hati yang terbuka dan dengan iman yang teguh menyambutnya sebagai sumber hidup dan keselamatan.

Ekaristi adalah sakramen yang memperbarui identitas umat beriman setiap kali dirayakan. Konsili Vatikan II menyebut Ekaristi sebagai “sumber dan puncak kehidupan kristen” (LG 11). Kemudian ditegaskan dan diperkuat lagi dalam KGK (1324) “Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan kristiani.” Tentang hal ini muncul pertanyaan Apa artinya ini dalam konteks krisis kepercayaan? Artinya bahwa setiap kali umat beriman mengikuti perayaan Ekaristi, bukan suatu perayaan tentang kemenangan dan keberhasilan suatu institusi Gereja, tetapi merupakan suatu perayaan di mana umat beriman sedang berjumpa dengan Kristus yang hadir secara nyata dalam Tubuh dan Darah-Nya. Dalam KGK 1396 ditegaskan bahwa “Yang menerima Ekaristi, dipersatukan lebih erat dengan Kristus. Kristus menyatukan dia dengan semua umat beriman dalam satu tubuh: Gereja”.

Gaudium et Spes (GS 22) menyatakan bahwa “Kristus, Sabda yang menjadi daging, diutus sebagai manusia kepada manusia, ‘mengucapkan perkataan Allah’ (Yoh 3:34) dan menyelesaikan karya keselamatan yang dipercayakan Bapa kepada-Nya… Ia, Anak Allah, dengan penjelmaan-Nya telah bersatu dengan setiap manusia.” Baptisanan dan Ekaristi memberikan suatu pemahaman iman yang kokoh dan kuat tentang identitas Kristiani bahwa iman dan kepercayaan harus melampaui bukan sekadar pada orang-orang yang diberikan tugas dan jabatan khusus dalam Gereja. Dasar yang sesungguhnya adalah Yesus Kristus sendiri. Ini bukanlah suatu hal yang bertentangan tetapi sebaliknya, bahwa Ekaristi selalu bersifat komunal bukan personal karena itu dalam krisis kepercayaan ini justru menjadi sebuah undangan untuk menemukan kembali Gereja yang sesungguhnya, Gereja bukan sebagai hierarki tetapi Gereja sebagai communio yaitu persekutuan umat beriman yang bersama-sama menerima Tubuh Kristus.

Baptisanan dan Ekaristi adalah dasar dan sumber kehidupan yang terus menghantarkan umat kristiani dalam menemukan identitas sebagai suatu persekutuan dengan Allah. Ditengan krisis kepercayaan terhadap institusi Gereja umat beriman tidak hanya diperkuat dengan kebijakan-kebijkan yang ada, tetapi juga dengan ajaran-ajaran Gereja. Doktrin ex opere operato meyakini bahwa rahmat yang sesungguhnya itu adalah rahmat yang berasal dari Allah sendiri bukan dari manusia yang bisa jatuh dan mengecewakan. Kemudian dalam ex opere operantis memberikan suatu pemahaman bahwa setiap umat beriman dipanggil untuk hadir secara penuh dan aktif sebagai peziarah yang membawa hidup ke dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup. Karena itu, berkaitan dengan krisis kepercayaan terhadap institusi Gereja umat beriman diajak untuk kembali kepada hal yang paling mendasar yaitu ketika umat beriman merasakan air baptisan mengalir diatas kepala, dan Roti yang adalah Tubuh Kristus yang di sambut dalam perayaan Ekaristi di sanalah identitas Kristiani yang sejati ditemukan, diperbarui dan dipertahankan.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.