Banyak Gereja, Sedikit Pembebasan

oleh -215 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Matheus Tnopo

Religiusitas yang Bertumbuh, Kemiskinan yang Tidak Pergi

Di tanah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang begitu religius, lonceng gereja berdentang hampir setiap hari. Salib berdiri megah di kampung-kampung. Panggilan imam dan biarawan terus lahir dari Rahim keluarga sederhana. Banyak orang muda mengabdi dalam seminari, biara, dan kongregasi. Namun, di balik wajah religius itu, tersimpan sebuah pertanyaan yang mengusik: mengapa kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, dan pengangguran masih begitu kuat mencengkeram kehidupan masyarakat?

Pertanyaan ini sering kali dianggap sebagai serangan terhadap Gereja. Padahal, kritik semacam ini justru dapat menjadi bentuk cinta yang paling jujur. Sebab Gereja yang takut dikritik perlahan akan kehilangan daya profetisnya. Dalam konteks inilah pemikiran Paulo Freire menjadi relevan. Freire pernah mengatakan bahwa Pendidikan sejati bukan sekadar membuat orang mampu membaca huruf, tetapi membuat manusia mampu “membaca dunia”. Artinya, manusia harus sadar terhadap struktur yang membuatnya tertindas dan berani terlibat dalam perubahan sosial.

Masalah besar di NTT bukan semata-mata kurangnya doa, melainkan adanya lingkaran ketidakberdayaan yang terus diwariskan. Kemiskinan di NTT sering kali bukan kemalasan individual, tetapi kemiskinan struktural. Akses Pendidikan yang timpang, lapangan kerja yang minim, budaya feodal yang masih kuat, Pembangunan yang tidak merata, serta ketergantungan ekonomi yang tinggi membuat Masyarakat sulit keluar dari situasi tertindas. Ironisnya, masyarakat yang miskin kadang justru menjadi sangat religius karena agama menjadi satu-satunya ruang penghiburan ketika negara gagal menghadirkan kesejahteraan.

Gereja antara Penghiburan dan Pembebasan

Di sinilah kritik Freire terasa tajam. Ia menolak model Pendidikan “gaya bank”, yakni Pendidikan yang hanya menjejalkan pengetahuan tanpa membebaskan kesadaran. Jika diterapkan pada konteks Gereja, pertanyaannya menjadi: apakah Gereja NTT sudah sungguh membebaskan atau baru sebatas menghibur?

Banyak umat diajarkan untuk taat, sabar, rajin berdoa, dan menerima penderitaan sebagai salib kehidupan. Semu aitu penting. Namun jika iman hanya berhenti pada kesabaran tanpa keberanian mengubah keadaan, maka agama perlahan dapat berubah menjadi alat pelestari ketidakadilan. Umat menjadi saleh secara ritual, tetapi tidak kritis terhadap struktur sosial yang menindas mereka.

Padahal Ajaran Sosial Gereja sangat kaya dalam membela kaum miskin. Sejak ensiklik Rerum Novarum hingga Fratelli Tutti, Gereja menegaskan bahwa martabat manusia harus menjadi pusat kehidupan sosial. Gereja tidak dipanggil hanya menyelamatkan jiwa menuju surga, tetapi juga memperjuangkan kehidupan yang layak di dunia. Kemiskinan bukan sekadar masalah amal, melainkan masalah keadilan.

Sayangnya, dalam banyak situasi, pelayanan Gereja NTT masih cenderung karitatif daripada transformatif. Bantuan sosial dibagikan, tetapi Masyarakat belum sungguh dibentuk menjadi mandiri. Sekolah-sekolah Katolik berdiri megah, tetapi banyak lulusan akhirnya menganggur atau meninggalkan daerah karena tidak ada ruang ekonomi yang berkembang. Gereja kuat dalam ritus, tetapi belum selalu kuat dalam menciptakan Gerakan ekonomi rakyat, koperasi, pelatihan keterampilan, advokasi kebijakan public, atau pendidikan politik yang sehat.

Namun kritik ini bukan berarti Gereja tidak bekerja. Justru Gereja telah menjadi salah satu institusi paling berjasa dalam sejarah NTT. Banyak orang miskin memperoleh Pendidikan karena pastor dan suster. Banyak wilayah pedalaman disentuh pertama kali oleh para misionaris. Hanya saja, tantangan zaman sekarang tidak cukup dijawab dengan model pelayanan lama. Dunia membutuhkan Gereja yang tidak hanya hadir untuk merawat iman, tetapi juga membangkitkan kesadaran sosial.

Dari Spiritualitas Pasif menuju Spiritualitas Pembebasan

Selain faktor structural, NTT juga menghadapi persoalan budaya yang kompleks. Budaya belis yang memberatkan, pesta adat berlebihan, mentalitas gengsi sosial, dan ketergantungan pada figur elit sering kali memperparah kemiskinan. Dalam situasi ini, Gereja kadang berada di posisi ambigu: ingin menghargai budaya lokal, tetapi takut mengkritik unsur budaya yang justru melukai masyarakat sendiri.

Padaha Injil tidak hanya datang untuk memberkati budaya, tetapi juga memurnikannya. Yesus sendiri tidak pernah takut mengkritik tradisi ketika tradisi menghalangi martabat manusia. Disinilah Gereja dipanggil untuk lebih profetis: berani berbicara tentang ketidakadilan, eksploitasi, perdagangan manusia, korupsi, dan budaya konsumtif yang menghancurkan masa depan masyarakat.

Freire menekankan bahwa kaum tertidas harus menjadi subjek perubahan, bukan obyek belaskasihan. Orang miskin tidak cukup hanya disantuni; mereka harus diberdayakan. Pendidikan tidak boleh hanya menghasilkan umat yang saleh, tetapi juga warga yang kritis, kreatif, dan mandiri.

Karena itu masa depan Gereja NTT sangat ditentukan oleh keberaniannya bergerak dari spiritualitas yang pasif menuju spiritualitas pembebasan. Gereja perlu hadir bukan hanya di altar, tetapi juga di sawah, pasar, sekolah, dan ruang kebijakan publik. Pastor, suster, bruder, dan kaum awam dipanggil menjadi penggerak transformasi sosial, bukan sekadar penjaga tradisi religius.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah “mengapa NTT masih miskin meski banyak Gereja?”, melainkan: apakah Gereja sungguh sudah menjadi suara bagi mereka yang tertindas? Sebab, Gereja akan kehilangan daya profetisnya ketika terlalu dekat dengan kenyamanan, tetapi terlalu jauh dari jeritan rakyat kecil. Dan iman akan kehilangan daya hidupnya ketika doa tidak lagi melahirkan keberanian untuk mengubah kenyataan sosial.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.