Arsip yang Diselamatkan Tangan Tuhan

oleh -136 Dilihat
banner 468x60

 

Oleh: Eeng Nurhaeni

Saat menyaksikan siaran teve tentang skandal Watergate (1070) Marion Stokes merasa terpukul dan mengalami trauma berat. Kebohongan-kebohongan yang dibikin penguasa Amerika Serikat, membuatnya merasa yakin, bahwa tabiat dan watak penguasa di dunia ketiga kelak akan berperilaku sama, meniru karakteristik kebanyakan presiden di negeri adidaya tersebut.

Mereka akan seenaknya mengedit dan memotong berita, bahkan merasa berkuasa untuk memanipulasi dan membelokkan jalan kebenaran. Marion bertanya-tanya, mengapa kejujuran pemimpin begitu mudahnya disembunyikan oleh sang pemimpin baru, lalu dengan kekuasaan di tangan, seenaknya membangun imajinasi publik dengan rekayasa berita dan informasi yang dimanipulasi sedemikian canggihnya?

Mengapa berita penting hari ini dengan mudah dipatahkan oleh “berita sampah” yang disodorkan penguasa, hingga kemudian masyarakat tergiur dan menjadikannya perbincangan publik? Bukankah cara-cara semacam itu adalah upaya pembodohan dan pemutarbalikan fakta sejarah, yang tidak memiliki itikad baik untuk mencerdaskan dan mendewasakan rakyatnya?

Maraknya penguasa Amerika yang mendukung skenario elit-elit global, hingga kemudian menyusup agar diteladani elit-elit lokal di seluruh dunia (tak terkecuali Indonesia), membuat Marion begitu peka dan peduli, hingga akhirnya merancang kamar studio di salah satu sekat dinding rumahnya, yang dibangkitkan oleh kesadaran “orang waras” yang melampaui zamannya. Pertanyaan sederhana yang selalu terngiang di benaknya, kerap terlontar di hadapan suaminya: “Entah bagaimana kalau anak-cucu saya di masa depan, tak tahu kejadian sejarah yang sebenarnya?”

Sejak tahun 1979 Marion mulai menyendiri, aktif mengkliping dan menghimpun berita-berita aktual, memasang enam buah televisi di dinding kamarnya, dilengkapi oleh 70 mesin VHS, kemudian setiap delapan jam dia harus mengganti kaset baru secara manual. Semua berita penting yang tersiar secara langsung di CNN, BBC, ABC, Fox, telah direkam oleh Marion selama 24 jam. Setiap hari dia aktif merekam berita sebagai rutinitas yang dianggap prinsipil ketimbang aktivitas lainnya.

Tak peduli fisiknya yang kadang merapuh, capek, lelah dan kadang terserang penyakit serius. Ia tetap melakukannya di hari-hari libur, bahkan dalam keadaan listrik padam karena badai, tetap diusahakannya dengan genset atau aki sebagai pengganti aliran listrik.

Teman-teman sejawatnya menuduhnya mengidap kelainan jiwa, sinting atau senewen. Sebagian mengira Marion menderita delusi paranoid hingga skizofrenia. Berkali-kali suami dan anak-anaknya memperingatkan agar banyak istirahat dan meninggalkan aktivitasnya. Justru dia menjawab dengan sabar: “Suatu saat kalian akan mengerti, apa yang selama bertahun-tahun ini sedang saya kerjakan.”

Latar Belakang

Kisah hidupnya yang unik dan visioner telah diangkat ke dalam film dokumenter, “Recorder: The Marion Stokes Project” (2019). Marion ditampilkan sebagai seorang pustakawan, aktivis hak-hak sipil, dan intelektual publik asal Philadelphia yang terkenal karena merekam siaran televisi Amerika Serikat secara nonstop selama 35 tahun. Tindakan obsesifnya telah dijadikan rujukan banyak kalangan media, dan telah menghasilkan salah satu arsip media paling masif dan berharga di dunia.

Marion telah bergerak lebih dulu yang melampaui zamannya. Ia percaya bahwa media massa memiliki kekuatan besar untuk membentuk opini publik. Di sisi lain, dengan bertekad mengarsipkan kebenaran, Marion meyakini bahwa stasiun televisi akan mudah terbayar oleh para penguasa dan elit global, hingga tak punya energi untuk menghalangi mereka yang bermaksud menghapus atau mengubah rekaman dari sejarah aslinya.

Sekala proyek Marion menjangkau semua peristiwa penting dunia, misalnya soal Krisis Sandera Iran pada tahun 1979, peristiwa penembakan Sandy Hook (2012), hingga seputar peristiwa WTC (2001) lalu. Ia merekam menggunakan 8 perekam video (VCR), serta berhasil mengumpulkan lebih dari 70.000 kaset VHS dan Betamax. Isinya mencakup ratusan ribu jam tayangan berita, iklan, acara bincang-bincang, dan liputan peristiwa penting dunia.

Selain aktif sebagai pustakawan dan penghimpun arsip-arsip penting, Marion juga berbisnis sebagai investor, menginvestasikan modal dari mertuanya ke saham Apple ketika perusahaan teknologi tersebut baru berdiri. Kekayaan dari keuntungan saham inilah yang mendanai pembelian kaset, peralatan, serta biaya sewa sembilan apartemen rahasia yang ia gunakan untuk menyimpan dokumen dan puluhan ribu kaset rekamannya.

Perjuangan Jurnalis

Sejak tahun 1977 hingga wafatnya, Marion berhasil melakukan sekitar 840.000 jam rekaman berita selama 35 tahun, dari 1977 hingga kematiannya di tahun 2012 lalu. Sebagai ahli waris, puteranya mendonasikan rekaman video VHS dan Betamax kepada pihak Internet ArchiveKrisis sandera Iran, yang berlangsung dari tahun 1979 hingga 1981, membuat Marion memutuskan untuk menjadikan proyeknya sebagai pekerjaan sepanjang masa, karena perkembangan yang terus menerus terjadi secara masif dan simultan.

Film tentang jejak-langkah perjuangannya diperankan oleh Anne Stokes Hochberg dan Frank Hollman, serta disutradarai oleh Matt Wolf. Selain itu, di tahun 2023 lalu, telah diterbitkan buku tebal berjudul “Input Book” berisi gambar-gambar yang dihimpun sang sutradara film, dan telah berhasil menghimpun lebih dari 700 jam rekaman Marion Stokes.

Banyak kritikus yang mengapresisai film dokumenter Marion, karena pada prinsipnya adalah upaya mendokumentasikan sejarah perjuangan hidup sang dokumentator sejarah. Agak berbeda dengan novel Pikiran Orang Indonesia (POI) yang digarap selama beberapa tahun oleh Hafis Azhari (baca: Kompas.id, “Menilai Karya Sastra secara Obyektif”) yang berisi rangkaian sejarah politik Indonesia yang dimanipulasi penguasa Orde Baru. Meskipun, mereka adalah bagian dan merupakan abdi-abdi lokal dari agenda elit global selaku induk semang mereka.

Kini, edisi VHS yang disuguhkan Marion, membuat kita dapat menyimak peristiwa WTC dari berbagai sudut pandang, bukan hanya dari perspektif tunggal pemerintah adikuasa. Liputan 9/11 dari 6 saluran TV yang berbeda dapat kita saksikan bersama. Kita pun dapat menebak ulah mereka yang “berkepentingan”, dalam upaya menghapus iklan dan kampanye politik kotor yang tidak beradab. Tidak sedikit sejarawan yang terang-terangan menegaskan: “Kalau bukan karena inisiatif dan kerja keras Marion seorang diri, barangkali seluruh Amerika dan dunia, akan buta terhadap sejarah.”

Ungkapan senada tercermin dalam kata-kata bersayap dari presiden pertama RI Soekarno, agar bangsa Indonesia jangan sampai melupakan sejarahnya. Bahkan, dalam cover buku POI, terang-terangan dikutip ayat Al-Quran (surat al-‘Asr), bahwa tidak akan sia-sia kematian orang yang tetap teguh menyuarakan kebenaran dengan sikap sabar.

Sampai saat ini, Internet Archive mengakui, bahwa dokumentasi yang dihimpun Marion adalah arsip paling jujur tentang Amerika dan dunia sejak tahun 1980 hingga 2012, yang akan memberi makna penting bagi sejarah peradaban manusia di masa yang akan datang.

Setelah Marion Stokes wafat di usia 83 tahun, seluruh koleksi arsip rahasia tersebut diwariskan kepada putranya, Michael Metelits. Koleksi raksasa itu didonasikan sepenuhnya untuk organisasi nirlaba Internet Archive, yang kini sedang aktif mendigitalisasi seluruh rekamannya agar dapat diakses publik secara gratis di seluruh dunia.

Tanpa perjuangan Mario Stokes, bersama pikiran dan tangannya yang terampil mewakili tangan Tuhan, barangkali seluruh dunia akan buta dalam memahami Iran dan Islam yang selama puluhan tahun telah dipelintir oleh berita-berita sepihak yang dibikin para penguasa elit global di dunia ini. (*)

Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten, juga aktif menulis opini dan prosa di berbagai media lokal dan nasional, seperti Kompas, Media Indonesia, Republika, Bangka Pos, Banten Pos, Tangsel Pos, Radar NTT dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.