Arogansi Militerisme di Negeri Adidaya

oleh -621 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Eeng Nurhaeni

Ini bukan cerita tentang militer Jawa yang direkrut oleh intelijen Amerika (CIA) maupun Inggris (M16) untuk menggulingkan pemerintahan Soekarno di era 1965-an. Juga bukan militer yang kalem dan lembut, hingga terkesan santun dalam pandangan masyarakat umum. Tetapi, dalam film drama peraih Academy Award tahun ini One Battle After Another, berkisah tentang seorang kolonel tentara yang arogan dan ambisius untuk menapaki tangga-tangga kekuasaan di negeri adidaya Amerika Serikat.

Film One Battle After Another berkisar tentang kehidupan Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio), seorang revolusioner sayap kiri yang mencoba menjalani hidup tenang dan damai di pinggir kota. Namun, ketenangan itu kemudian terusik saat mendengar kabar, bahwa musuh lamanya, Kolonel Lockjaw (Sean Penn) kini telah bertransformasi menjadi politikus berpengaruh di Amerika Serikat. Perubahan prinsipnya semakin beralasan, ketika anak buah Lockjaw menjadikan sekolah Willa (puteri Bob), sebagai target serangan mereka.

Untuk menyelesaikan urusannya, Bob terpaksa menghimpun kawan-kawan lamanya, termasuk Deandra (Regina Hall) yang merupakan aktivis kemanusiaan, serta Sergio St. Carlos (Benicio del Toro), seorang mentor dan ahli bela diri. Meskipun, perjuangan mereka tidaklah ringan karena harus berhadapan dengan Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor), yang merupakan mantan sekutu Bob sekaligus ibu kandung Willa.

Performa solid

Duel antara Bob dan Lockjaw menjadi sorotan utama dalam film ini. Mereka bukan hanya bertarung secara fisik, tetapi juga bertempur secara ideologis. Posisi Willa yang terbukti setelah tes DNA sebagai anak biologis Lockjaw, tetapi ia hidup dan dibesarkan sebagai anak ideologis Bob Ferguson. Film ini sekaligus menyiratkan pesan, bahwa hidup manusia adalah matarantai perjuangan yang tak pernah usai. Di tengah iklim kesewenangan dan ketidakadilan, Willa sendiri menyadari, bahwa ia tak lepas dari darah perjuangan ayahnya, baik secara genetik maupun ideologis.

Film garapan Paul Thomas Anderson ini berdasarkan novel Vineland karya Thomas Pynchon, yang skenarionya digarap sendiri oleh sang sutradara. Ia berhasil menyeimbangkan narasi politik dengan drama emosional antara anak sebagai generasi milenial, dengan ayah yang menderita paranoid, serta dihantui oleh dosa-dosa masa lalunya. Konflik antara idealisme revolusioner dan kenyataan pahit pasca-revolusi dikemas dalam bentuk sineas, disertai ledakan emosional yang penuh satir. Namun, Anderson sanggup mengemasnya secara dinamis dalam struktur adegan demi agedan yang dirancang dengan apik dan menarik.

Salah satu keunikan dalam teknis film ini adalah penggunaan format VistaVision dan IMAX 70 mm, yang menghadirkan skala visual yang sangat luas dan imersif. Dengan itu, Anderson telah berhasil menciptakan citra sinematik yang megah, menampilkan lanskap Amerika dengan fragmentasi yang unik dan langka. Adegan-adegan aksi dalam konfrontasi desertik berikut pencahayaannya, telah ditampilkan dengan gaya kinetik namun tetap terkontrol dengan baik.

Leonardo DiCaprio memerankan sang ayah yang lelah secara emosional namun masih sangat berkomitmen pada idealismenya. Bob mampu menghadirkan karakter yang sangat manusiawi dan bertanggung jawab, dibayang-bayangi oleh Kolonel Lockjaw sebagai antagonis masa lalu yang semakin membawa konflik ideologis yang cukup tajam. Sementara itu, pemeran pendukung yang dilengkapi Regina Hall dan Benicio de Toro semakin mewarnai performa solid yang memperkuat narasi film ini.

Gaya Anderson

Kita bisa memahami jika alunan musik menegangkan telah digarap oleh Jonny Greenwood, yang memang sudah lama menjadi mitra dan kolaborator Anderson. Skornya mampu mengangkat dan menambahkan lapisan emosional yang mendalam. Desain suara juga begitu mendetail. Mobil kejar-kejaran, tembakan-tembakan disertai dialog internal tokoh, serta bisikan ideologis saling berbaur menjadi satu. Kombinasi musik dan sound design yang semakin memperkuat sensasi imersi, terutama saat adegan-adegan aksi dan momen-momen reflektif. 

Secara garis besar, dapat dipahami corak sineas Anderson yang gemar menampilkan aksi thriller, menggunakan kisah revolusioner masa lalu untuk merefleksikan masalah kontemporer. Tak ayal, orang-orang Gedung Putih jadi kebakaran jenggot, karena secara implisit menggambarkan para penguasa totaliter, rasisme, bahkan ekstremisme politik, yang nekat mengarahkan tembakan-tembakan ke bangunan sekolah, serta tega mengorbankan anak-anak sebagai generasi-generasi bangsa. Suatu kritik terhadap sistem kekuasaan represif yang disampaikan dengan sindiran, disertai humor-humor satir, membuat film ini semakin menghibur, sekaligus relevan dalam konteks kekinian.

Selain itu, gaya Anderson yang eksperimental, telah berhasil menggabungkan elemen aksi spektakuler, drama keluarga, hingga sindiran satir politik. Dengan sinematografi yang luar biasa, akting yang kuat dari Leonardo DiCaprio, Sean Penn dan pendukung ansambel, serta skenario yang berpikiran universal, telah menawarkan One Battle After Another menuju pengalaman sinematik yang menggetarkan sekaligus reflektif. (*)

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Modern Al-Bayan, Lebak, Banten, juga aktif menulis esai untuk media nasional Kompas, Media Indonesia, Republika, dan lain-lain

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.