Luka Modric Mengunjungi Rumah Kelahirannya yang Hancur Akibat Perang

oleh -1622 Dilihat
banner 468x60

Rumah batu di hadapan bukit itu tak lagi beratap. Juga kosong tanpa penghuni, sebagaimana padang semak-semak nan sepi karena rumah itu sepertinya satu-satunya yang berdiri di kawasan tersebut.

Rumah batu di jalan menurun itu terletak di desa Modrici, sekitar 40 kilometer ke utara dari kawasan Zadar, Kroasia. Dan dalam sepekan terakhir, rumah yang menyimpan “tragedi” itu tampaknya mulai ramai. Sejumlah turis datang untuk melihat tempat di mana seorang pesepakbola besar pernah lahir: Luka Modric.

Sebagaimana dilaporkan Reuters, di salah satu pintu masuk Kota Lama Zadar, terbentang baliho dengan gambar Modric, Subasic, Vrsaljko, dan Livakovic. Di atas baliho tersebut tertera tulisan Zadarsk Srcem, Made in Zadar. Dalam Bahasa Indonesia, kalimat bahasa Kroasia dan Inggris itu bisa berarti “Hatinya Zadar, Lahir di Zadar.”

Bagi publik Hollywood, Zadar adalah keindahan yang pernah disampaikan oleh salah satu sutradara terkemuka mereka Alfred Hitcock. Ketika mengunjungi Zadar pada 1964, Hitcock menulis, “Zadar adalah pemandangan matahari terbenam paling indah di dunia, lebih indah ketimbang yang ada di Key West di Florida, semarak setiap senja.”

Meski demikian, Piala Dunia telah pula membawa sejarah kelam Zadar kepada dunia. Bahwa di tempat itu, telah lahir seorang bocah enam tahun yang ditinggalkan kakeknya karena terbunuh dalam Perang Kemerdekaan Kroasia pada 1991. Bocah itu, sekali lagi, adalah Kapten Timnas Kroasia di Piala Dunia 2018, Luka Modric.

Modric lahir pada 1985 dan pada pengujung 1991 dia bersama keluarganya mengungsi ke kota Zadar tak lama setelah sang kakek tewas ditembak milisi Serbia.

Luka Modric yang terluka itu bertumbuh dalam luka menjadi petarung sejati yang bisa saja memberi luka pada setiap lawannya di lapangan hijau.

Lahir di Zadar, Kroasia, pada 9 September 1985, masa kecil Modric penuh dengan konflik karena bertepatan dengan Perang Kemerdekaan Kroasia pada tahun 1991.

Ketika perang semakin berkecamuk, keluarganya terpaksa melarikan diri dari konflik dan ayahnya mendaftarkan diri menjadi tentara nasional.

Pada bulan Desember 1991, ketika Modric berumur enam tahun, dia dan keluarganya terguncang oleh tragedi ketika kakeknya, bersama dengan enam warga sipil lansia lainnya dieksekusi oleh pemberontak Serbia yang merupakan bagian dari polisi SAO Krajina di desa Jesenice.

Rumah mereka dibakar habis.

Modric dan keluarganya dipaksa hidup sebagai pengungsi selama tujuh tahun di Hotel Kolovare.

Mereka kemudian pindah ke Hotel Iz yang dikelilingi oleh suara granat meledak dan pecahan kaca.

Modric masih ingat betul dengan momen sulit dalam hidupnya itu.

Sepak bola hanya menjadi media pelarian diri dari konflik mengerikan yang melanda Kroasia pada awal tahun sembilan puluhan, lapor MailOnline.

Seorang juru bicara untuk Hotel Kolovare pernah menyatakan:

Modric telah memecahkan lebih banyak kaca di jendela hotel daripada apa yang telah diledakkan oleh bom.”

“Dia bermain sepak bola non-stop di sekitar aula hotel.

Sebelum karirnya di lapangan hijau sukses besar seperti saat ini, Modric juga menemui banyak kendala.

Tim sepak bola Kroasia HNK Hajduk Split memilih untuk tidak mengontrak Modric karena dinilai terlalu muda dan tidak memiliki otot yang kuat sebagai seorang profesional.

Tapi kini Hajduk Split boleh jadi menjadi pihak yang paling menyesal dengan keputusannya.

Setelah memulai karier dan menandatangani kontrak dengan sang pesaing, Dinamo Zagreb, Modric menjadi juara Liga Kroasia tiga kali, dua kali juara Piala Kroasia dan satu kali memenangi Piala Super Kroasia.

Modric kemudian pindah ke Tottenham Hotspur di mana ia menjadi andalan dan kunci kebangkitan klub London Utara, dengan menorehkan 159 penampilan.

Mantan manajer Spurs, Harry Redknapp menggambarkannya sebagai:

“Neraka bagi musuh dan mimpi seorang manajer. Dia berlatih kesetanan dan tidak pernah mengeluh.”

“Ia akan bekerja dengan dan tanpa bola di lapangan dan bisa mengalahkan pemain belakang dengan tipuan atau dengan umpan.”

“Dia bisa masuk ke tim mana pun di empat besar.

Pada tahun 2012 Modric menandatangani kontrak dengan Real Madrid, di mana ia dengan cepat memantapkan dirinya di tim utama di bawah asuhan Carlo Ancelotti, dan kemudian Zinedine Zidane yang di akhir musim 2017/2018 mengangkat trofi Liga Champions untuk tahun ketiga berturut-turut.

Tak heran bila Modric tampak emosional ketika Kroasia menang 2-1 atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2018.

(Info bola)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.