RADARNTT, Tangerang – “Indonesia dianggap sebagai paru-paru dunia, karena sebagian besar oksigen yang dihasilkan berasal dari hutan di Indonesia.”
Padre Markus Solo, SVD mengungkapkan salah satu misi kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia adalah memberikan perhatian penuh pada persoalan ekologis. Mendorong pertobatan ekologis di tengah kemajuan teknologi yang cenderung menambah nestapa manusia.
Tak ayal lagi bahwa manusia ditinjau dari segi keberadaan memiliki hirarki yang lebih tinggi dari selainnya. Mengapa demikian? Karena keberadaan manusia mampu menentukan nasib dunia baik atau buruk; sejahtera atau sengsara; bahagia atau nestapa. Realitas yang sangat jelas tidak ternafikan oleh benak kita.
Semua itu memperoleh pendasarannya pada akal-pikiran manusia. Tanpanya manusia tidak akan menduduki status tinggi itu. Akan tetapi, sejalan dengan itu, maka ada pula problematika yang dihadapi oleh manusia, problematika itu disebabkan oleh diri mereka sendiri.
Hal itu memperoleh faktanya di kehidupan kontemporer, yakni dengan berkembangnya teknologi yang super canggih. Tujuan teknologi adalah mempermudah kerja manusia, manusia hanya dengan bekal akal-pikirannya mampu menemukan alat mempermudah aktivitas manusia. Akan tetapi, hal itu justru tidak lantas menjadikan hidup yang ideal. Justru teknologi menambah nestapa manusia kontemporer.
“Salah satu nestapa hidup manusia adalah persoalan ekologis. Manusia yang hanya mempedulikan perkembangan teknologi tidak akan mempedulikan ekologi, kecuali dengan dorongan moral dan etis yang sangat tinggi. Maka dari itu, salah satu misi kunjungan Paus ke Indonesia adalah memberikan perhatian penuh pada persoalan ekologis”.
Hal ini diungkapkan oleh Padre Markus Solo dalam agenda diskusi publik yang diadakan oleh Lafadz Nusantara Center, Sabtu, 20 Juli 2024.
“Didorong oleh tanggung jawab bersama, dan juga oleh ajaran agama masing-masing untuk bersama-sama menyelamatkan Ibu Bumi, yang menurut Paus Fransiskus adalah Rumah Kita bersama.” Inilah salah satu tujuan dari perjalanan apostolik Paus.
Perjalanan ini lebih tepat jika dimaknai dengan perjalanan atau lawatan moral-spiritual. Agama sebagai doktrin yang sangat kental akan nilai-nilai moral menjadi lokomotif moral dunia. Sehingga mampu menciptakan masyarakat yang berstatuskan moral. Dengan demikian, agama mampu menembus ruang-ruang publik.
Terdapat beberapa poin yang disampaikan oleh Padre Markus pada kesempatan itu sebagai berikut: pertama, Melawan rasisme kedua, Peduli terhadap kaum migran. ketiga, Mengupayakan perdamaian. keempat, Menjadi orang samaria yang baik hati (Injil Lukas 10: 25-37). kelima, Menghidupkan dan memajukan persaudaraan Universal (Enklisik Abu Dhabi Doc 2019). keenam, Menghidupkan dan memajukan kebebasan dan kesetaraan. ketujuh, Memajukan dan menjaga martabat anak-anak dan menghindari perang.
Diketahui, Indonesia memiliki ekosistem Leuser adalah bentang alam tropis yang luas di pulau Sumatera. Mencakup lebih dari 6,5 juta hektar hutan dataran rendah, hutan hujan pegunungan dan rawa gambut yang kaya karbon, hutan Leuser termasuk yang paling kuno di Bumi. Ini adalah wilayah di mana letusan gunung berapi, fluktuasi permukaan laut, dan migrasi spesies selama ribuan tahun tanpa gangguan telah memungkinkan salah satu bentang alam paling beragam yang pernah didokumentasikan.
Ini adalah salah satu ekosistem paling beraneka ragam dan purba yang pernah didokumentasikan oleh sains, dan ini adalah tempat terakhir di mana orangutan sumatera, gajah, harimau, badak, dan beruang madu masih berkeliaran berdampingan.
Leuser adalah rumah bagi sekitar 382 spesies burung, setidaknya 105 mamalia yang berbeda dan 95 reptil dan amfibi. Ini membantu menyediakan air bersih bagi jutaan orang dan bertindak sebagai penyimpan karbon yang sangat besar.
Leuser memiliki beberapa tingkat kelimpahan tumbuhan dan hewan tertinggi di dunia, dengan setidaknya 105 spesies mamalia, 382 spesies burung, dan 95 spesies reptil dan amfibi, dengan banyak spesies lain yang tidak diragukan lagi masih belum tercatat. Curah hujan yang dihasilkan hutan Leuser, dan banyak sungai jernih yang mengalir di dalamnya, memberi jutaan penduduk setempat air minum bersih dan irigasi untuk pertanian, termasuk penanaman padi yang intensif air, serta banyak kebutuhan lain yang penting bagi ekonomi lokal.
Bahkan jika Anda belum pernah mendengar tentang Leuser dan tidak dapat menemukannya di peta, Leuser memberi Anda layanan penting. Sebagai hutan utuh terbesar yang tersisa di Asia Tenggara, dan mengandung tiga hutan rawa gambut kaya karbon yang paling diperlukan di planet ini, Leuser menyimpan sejumlah besar karbon di hutan dan lahan gambutnya, mengurangi perubahan iklim global dengan mencegah polusi dari
Tapi Ekosistem Leuser ada di persimpangan jalan yang rapuh. Meskipun dilindungi oleh hukum nasional Indonesia, pembangunan industri besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit, pulp dan kertas, dan pertambangan mengancam seluruh ekosistem, serta kelangsungan kesejahteraan jutaan orang Aceh yang bergantung padanya untuk makanan, air, dan mata pencaharian mereka.
Gerakan “Cintai ekosistem Leuser” adalah upaya global untuk meningkatkan profil tempat yang menakjubkan, unik, dan benar-benar tak tergantikan ini dalam imajinasi semua orang, di mana pun – untuk menjadikannya nama rumah tangga global. (TIM/RN)







