RADARNTT, Borong – Mencegah terjadinya kasus gigitan anjing rabies dan menghentikan korban jiwa, pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur terus melakukan percepatan vaksinasi rabies pada anjing piaran warga baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Pemda ManggaraibTimur turun langsung di lima desa disetiap kecamatan yang ada di daerah itu, Tim yang terjun ke lokasi untuk melakukan vaksinadi anjing piaraan warga yakni BPBD, pemerintah kecamatan dan desa, Babinsa, Babinkaptimas dan dokter hewan.
Usai vaksinasi anjing piaraan warga di desa Compang Necak, Selasa, (17/12/2024) dokter hewan Densi kepada media ini menjelaskan kalau vaksinasi yang dilakukan merupakan langkah preventif sebagai upaya pencegahan terjadinya kasus gigitan yang menyebabkan korban meninggal.
“Upaya pencegahan terjadinya gigitan anjing rabies, apalagi Tahun 2024 jumlah kasus rabies cukup tinggi dibandingkan dengan kabupaten tetangga lainnya, bahkan kasus gigitan anjing sampai ada warga yang meninggal dunia akibat gigitan anjing rabies,” jelas Densi.
Dokter Densi berharap kepada masyarakat yang belum mendapatkan jadwal vaksinasi, agar anjing piaraan bisa diikat apabila ada gejala rabies.
Untuk diketahui, ada enam desa di Kecamatan Lamba Leda yang menjadi samprl vaksinasi rabies terhadap anjing piaraan warga, yakni desa Golo Rentung, desa Golo Paleng,desa Compang Necak, desa Golo Lembur, desa Goreng Meni Utara.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur dokter Surip Tintin, menyampaikan sebanyak 1.188 orang atau warga di Kabupaten Manggarai Timur digigit hewan penular rabies (HPR) jenis anjing dari bulan Januari sampai September 2024.
Tintin menerangkan, kasus gigitan hewan penular rabies (HPR) dari Januari sampai September 2024 sebanyak 1.188 kasus gigitan HPR. Dan dari 1.188 kasus ini sudah diberi vaksin anti rabies (VAR), kecuali korban pasien dari Desa Sipi yang meninggal dunia akibat digigit anjing pada tanggal 14 Agustus 2024.
Vaksin adalah sediaan biologis yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan adaptif terhadap penyakit infeksi tertentu. Biasanya, vaksin mengandung agen atau zat yang menyerupai mikroorganisme penyebab penyakit dan sering kali dibuat dari mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan, dari toksinnya, atau dari salah satu protein permukaannya.
Agen dalam vaksin merangsang sistem imun agar dapat mengenali agen tersebut sebagai ancaman, menghancurkannya, dan mengingatnya agar sistem imun dapat kembali mengenali dan menghancurkan mikroorganisme yang berhubungan dengan agen tersebut saat ditemui pada masa depan. Vaksin dapat bersifat profilaksis (misalnya untuk mencegah atau memperbaiki dampak akibat infeksi patogen pada masa depan) atau terapeutik.
Pemberian vaksin disebut vaksinasi, yang merupakan salah satu bentuk imunisasi. Vaksinasi merupakan metode paling efektif untuk mencegah penyakit menular. Penerapan vaksinasi secara luas telah menciptakan kekebalan kelompok yang berperan penting dalam pemberantasan dan pembatasan sejumlah penyakit. (AG/RN)







