Israel Serang Iran, Fasilitas Nuklir dan Komandan Tertinggi jadi Sasaran

oleh -1152 Dilihat
banner 468x60

YERUSALEM – Dunia terkejut pagi ini ketika Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke Iran. Serangan udara yang berlangsung pada Jumat, 13 Juni 2025 dini hari itu menargetkan fasilitas nuklir utama, instalasi militer, dan sejumlah tokoh kunci di dalam pemerintahan serta militer Iran. Ini adalah eskalasi paling signifikan dalam konflik antara kedua negara, dan menjadi salah satu aksi militer paling langsung dan terbuka Israel terhadap Iran dalam sejarah modern.

Operasi militer yang diberi nama sandi Rising Lion dimulai sekitar pukul 02.00 pagi waktu Israel. Ratusan jet tempur dilaporkan melintasi wilayah udara regional, memasuki Iran melalui rute-rute yang diduga telah dipersiapkan secara rahasia dengan dukungan dari badan intelijen Mossad. Sasaran utama serangan adalah fasilitas pengayaan uranium di Natanz, Khondab, dan Isfahan – situs-situs yang selama ini menjadi sorotan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) karena tingkat pengayaan uranium yang mendekati 60 persen, angka yang secara teknis berada di ambang kemampuan senjata nuklir.

Selain menghancurkan sejumlah fasilitas nuklir, serangan ini juga menargetkan tokoh-tokoh militer dan ilmuwan penting di Iran. Beberapa nama besar dilaporkan tewas, termasuk Mayjen Hossein Salami, Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), serta Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Mayjen Mohammad Bagheri. Dua ilmuwan nuklir senior, Fereydoon Abbasi dan Mohammad Mehdi Tehranchi, juga dilaporkan tewas akibat ledakan di lokasi kediaman mereka.

Tak butuh waktu lama bagi Iran untuk bereaksi. Pemerintah di Teheran segera memerintahkan peluncuran lebih dari seratus drone bersenjata ke arah Israel. Sebagian besar dicegat di wilayah udara Irak dan Yordania, serta oleh sistem pertahanan udara Israel. Namun beberapa drone dikabarkan mencapai wilayah Israel utara dan menyebabkan kerusakan ringan.

Pemerintah Israel langsung mengumumkan status darurat nasional. Sekolah diliburkan, penerbangan sipil dihentikan, dan warga di wilayah strategis diperintahkan untuk mengungsi ke tempat perlindungan. Perdana Menteri Israel dalam pernyataan resmi menegaskan bahwa serangan ini merupakan langkah preventif untuk menghentikan program nuklir Iran yang dinilai sebagai ancaman langsung terhadap eksistensi Israel.

Di sisi lain, Iran menuduh Israel melakukan pelanggaran hukum internasional dan menyebut tindakan tersebut sebagai “agresi militer yang akan dibalas sepenuhnya.” Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa Iran tidak akan diam dan akan “menghukum” Israel.

Dampak langsung dari konflik ini terasa di seluruh dunia. Harga minyak mentah melonjak lebih dari 7 persen dalam satu malam, sementara pasar global bergejolak akibat kekhawatiran akan konflik yang meluas di Timur Tengah. Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam operasi Israel, meskipun sejumlah personel militernya dipindahkan dari wilayah Teluk untuk alasan keamanan. Uni Eropa dan PBB telah menyerukan gencatan senjata dan menyiapkan pertemuan darurat untuk membahas krisis ini.

Sementara itu, kota-kota di Iran dan Israel memasuki suasana siaga tinggi, dengan kemungkinan besar bahwa gelombang balasan berikutnya tinggal menunggu waktu. Serangan ini tidak hanya menandai eskalasi militer, tetapi juga membuktikan bahwa konfrontasi antara Iran dan Israel telah berubah dari perang bayangan menjadi konflik terbuka yang dapat mengguncang stabilitas kawasan dan dunia. (Kompilasi berbagai sumber)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.