BEM UNDANA Desak Usut Tuntas Kasus Penembakan ASN Wili Mbuik di Jayawijaya

oleh -166 Dilihat
Wili Mbuik (Foto: IDNTimes)
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Duka kembali menyelimuti keluarga besar Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Wili Mbuik (25), alumni UNDANA angkatan 2019, menjadi korban dalam peristiwa penembakan terhadap aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Kabar meninggalnya Wili menjadi kehilangan bagi keluarga, kerabat, dan seluruh keluarga besar almamaternya. Bagi BEM UNDANA, Wili bukan sekadar nama yang muncul dalam pemberitaan tentang konflik dan kekerasan di Papua. Ia adalah bagian dari keluarga besar UNDANA yang pernah menempuh pendidikan dan kemudian melanjutkan pengabdiannya di tengah masyarakat.

Kepergian Wili dalam sebuah peristiwa kekerasan kembali memperlihatkan persoalan serius mengenai jaminan keselamatan masyarakat dan kapasitas negara dalam menciptakan rasa aman bagi warga negaranya.

Atas peristiwa tersebut, BEM UNDANA menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga Wili Mbuik serta seluruh keluarga korban.

BEM UNDANA juga menegaskan dukungan penuh kepada TNI dan POLRI untuk segera mengungkap, mengejar, dan menangkap pelaku penembakan yang menyebabkan meninggalnya Wili Mbuik dan korban lainnya.

BEM UNDANA berpandangan bahwa pengusutan kasus ini tidak boleh berhenti pada sekadar menemukan pelaku di lapangan. Aparat harus mampu mengungkap kronologi secara utuh, motif, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab, sehingga masyarakat mendapatkan kepastian hukum dan keadilan.

Ketua BEM Universitas Nusa Cendana, Glen Rezy Snae, menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh aparat dalam proses penegakan hukum, tetapi pada saat yang sama negara harus berani melakukan evaluasi terhadap sistem perlindungan masyarakat.

“Kami mendukung penuh TNI dan POLRI untuk segera menangkap pelaku penembakan yang telah menewaskan saudari kami, Wili Mbuik. Kami berharap proses pengusutan dilakukan secara serius, profesional, transparan, dan tuntas. Jangan sampai kasus ini berhenti hanya pada pemberitaan bahwa telah terjadi penembakan,” tegas Glen.

Namun, bagi BEM UNDANA, persoalan tersebut tidak berhenti pada penangkapan pelaku.

Ada tanggung jawab negara yang jauh lebih besar untuk dipertanyakan.

Glen menilai bahwa negara tidak boleh hanya hadir ketika tragedi telah terjadi. Negara harus memiliki kemampuan untuk membaca potensi ancaman, melakukan pencegahan, dan memastikan masyarakat dapat menjalankan aktivitasnya tanpa rasa takut.

“Kami juga mengkritisi bahwasanya hari ini negara belum mampu hadir untuk memastikan bahwa masyarakat aman dan sejahtera. Negara tidak boleh hanya hadir setelah ada korban dan setelah nyawa melayang. Negara harus hadir sebelum tragedi terjadi,” ujar Glen.

Menurutnya, keselamatan masyarakat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan. Ketika warga negara tidak mendapatkan jaminan keamanan dalam menjalankan aktivitas maupun tugas pelayanan kepada masyarakat, maka negara perlu melakukan evaluasi secara serius.

“Wili adalah anak muda yang pernah menempuh pendidikan di UNDANA dan kemudian melanjutkan pengabdiannya. Hari ini hidupnya berakhir akibat kekerasan. Ini bukan hanya persoalan kehilangan satu orang, tetapi pertanyaan serius tentang bagaimana negara menjamin keselamatan setiap warga negaranya,” lanjut Glen.

BEM UNDANA menilai bahwa tragedi di Jayawijaya harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperbaiki sistem keamanan dan mitigasi di wilayah yang memiliki potensi kerawanan.

Negara harus mampu membangun pemetaan wilayah rawan, sistem peringatan dini, mekanisme mitigasi, koordinasi antarinstansi, serta sistem perlindungan bagi masyarakat dan pekerja pelayanan publik yang menjalankan tugas di lapangan.

“Negara harus mampu memastikan agar ke depan kejadian seperti ini jangan sampai terjadi lagi. Perlu adanya mitigasi yang konkret untuk mencegah hal yang sama terjadi kembali. Jangan menunggu korban berikutnya baru kemudian negara kembali bertindak,” pungkas Glen.

BEM UNDANA menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku merupakan keharusan, tetapi pencegahan adalah tanggung jawab negara.

Keadilan bagi Wili Mbuik tidak cukup hanya dengan menemukan siapa yang menarik pelatuk. Keadilan juga harus diwujudkan melalui perubahan sistem agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban kekerasan.

BEM UNDANA menyerukan kepada pemerintah dan aparat keamanan untuk menjadikan kasus ini sebagai evaluasi serius terhadap perlindungan warga negara di wilayah rawan konflik, sekaligus memastikan bahwa masyarakat sipil tetap mendapatkan hak paling mendasar: hak untuk hidup, bekerja, dan menjalankan aktivitas dalam rasa aman.

Bagi keluarga besar UNDANA, Wili akan selalu menjadi bagian dari almamater.
Hari ini kami berduka atas kepergian saudara kami. Tetapi duka tidak boleh membuat kita diam.

Usut tuntas penembakan Wili Mbuik. Tangkap pelaku. Tegakkan keadilan. Dan pastikan tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Jenazah Willi Mbuik, pegawai Dinas Pertanian kabupaten Jayawijaya yang menjadi korban kekerasan orang tidak dikenal di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, Kamis (10/9/2026) sudah diberangkatkan dari Wamena, kota Kabupaten Jayawijaya menuju Kupang, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Papua Kombes Pol Cahyo Sukarnito mengatakan, proses keberangkatan jenazah korban berlangsung aman dan lancar di Apron II Bandar Udara Wamena, Jalan Trikora, Distrik Wamena. Jenazah diangkut menggunakan pesawat Trigana Air Cargo dengan nomor registrasi PK-YSV.

“Keberangkatan jenazah korban kekerasan oleh OTK di Distrik Muliama tersebut dilakukan untuk selanjutnya dimakamkan oleh pihak keluarga di Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur,” ujar Cahyo di Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan, Kamis (10/9/2026). (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.