“Tanèyan Lanjhang”, Warisan Budaya Sumber Pengetahuan

oleh -1197 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dewi Indra Utama

Sebagai mahasiswa yang tengah mendalami filsafat dan ilmu pengetahuan, saya mulai menyadari bahwa tradisi masyarakat memiliki peranan penting dalam membentuk pola pikir dan pandangan hidup kita. Di Madura, berbagai kebiasaan dan nilai diwariskan lintas generasi.

Meskipun tidak selalu terdokumentasi dalam buku pelajaran atau jurnal akademik, tradisi-tradisi tersebut ternyata mengandung bentuk pengetahuan yang hidup dan bermakna. Oleh karena itu, saya mulai memandang tradisi bukan sekadar sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, terutama bila ditinjau dari perspektif epistemologi.

Epistemologi sebagai cabang filsafat mempelajari asal-usul, cara memperoleh, serta validitas pengetahuan. Ia menantang kita untuk berpikir kritis: dari mana kita mengetahui sesuatu itu benar? Apa saja bentuk pengetahuan yang dapat dianggap sah? Jawabannya tidak terbatas pada teori dan eksperimen ilmiah, namun juga mencakup pengalaman dan praktik hidup masyarakat. Dalam konteks ini, epistemologi dapat dikaitkan dengan tradisi Madura, yang merefleksikan sistem pengetahuan lokal yang khas.

Salah satu bentuk tradisi yang merepresentasikan pengetahuan lokal secara kuat adalah sistem permukiman tradisional yang dikenal dengan sebutan Tanèyan Lanjhang. Ini merupakan pola hunian khas masyarakat Madura, terutama di wilayah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, serta di daerah lain di Jawa Timur yang memiliki komunitas Madura seperti Jember.

Tanèyan Lanjhang dibangun secara linear dan dihuni oleh keluarga besar. Rumah orang tua biasanya terletak di ujung timur, sementara rumah anak-anak yang telah menikah dibangun ke arah barat. Pola ini mencerminkan nilai-nilai kehidupan yang menjunjung tinggi ikatan emosional, penghormatan terhadap orang tua, serta pentingnya harmoni dan kebersamaan dalam hidup bermasyarakat.

Secara etimologis, Tanèyan Lanjhang berasal dari kata tanèyan yang berarti halaman, dan lanjhang yang berarti panjang. Dengan demikian, istilah ini merujuk pada halaman rumah memanjang yang dimiliki bersama oleh anggota keluarga besar. Rumah-rumah dibangun berdasarkan arah mata angin sesuai tradisi, menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu dan bambu yang ramah lingkungan.

Kompleks hunian ini biasanya mencakup rumah utama (Roma Tongghu) yang menghadap selatan, serta dilengkapi dengan fasilitas seperti kobhung (surau keluarga), kandang ternak, sumur bersama, dapur umum, dan langgar kecil untuk tempat ibadah. Di ruang inilah nilai-nilai luhur seperti kesantunan, gotong royong, serta pengetahuan tentang pertanian dan lingkungan diwariskan secara turun-temurun.

Melalui pendekatan epistemologis, saya semakin memahami bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi merupakan sumber pengetahuan yang otentik dan bermakna. Tanèyan Lanjhang bukan hanya menggambarkan cara masyarakat Madura membangun rumah, tetapi juga mencerminkan cara mereka berpikir, merasakan, dan hidup bersama.

Oleh karena itu, menurut saya, sudah saatnya dunia ilmu pengetahuan memberi ruang yang lebih luas bagi tradisi sebagai bagian dari khazanah pengetahuan manusia. Dari sanalah kita dapat belajar, tidak hanya dengan akal, tetapi juga dengan hati.

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara STIT Al-Ibrohimy Bangkalan Madura

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.