Perang Nikotin: Siapa yang Sesungguhnya Kita Lawan?

oleh -1172 Dilihat
View of the cigarettes and tobacco stack. The tobacco plant is part of the genus nicotiana and of the solanaceae (nightshade) family.
banner 468x60

Setiap kali iklan rokok dilarang, atau bungkus rokok diwajibkan menampilkan gambar paru-paru gosong, atau perokok digiring ke ruang isolasi di sudut parkiran, satu hal yang selalu saya tanyakan dalam hati adalah: “Ini kita perang lawan nikotin, atau perang lawan rakyat kecil yang tak tahu harus menanam apa lagi?”

Betul bahwa nikotin bukan zat yang bersahabat. Ia bisa bikin candu. Tapi kalau itu ukuran dosa, lantas kenapa kopi masih legal? Kenapa gula juga masih dipajang manis terhormat di etalase minimarket padahal gula pelan-pelan menebas insulin kita? Kenapa juga pemuka agama tidak bikin kampanye “Jauhi sirup berwarna, mendekatlah pada jalan lurus tanpa kolesterol”. Dan kenapa tidak ada gambar kaki diamputasi pada bungkus kecap manis?

Sementara itu rokok, produk rakyat yang dulu jadi tumpuan ekonomi, kini malah diseret ke ruang interogasi publik seolah biang kerok dari seluruh penderitaan bangsa. Sebelumnya jangan salah, saya ini bukan promotor, juga bukan pedagang eceran nikotin. Saya cuma heran kenapa selalu petani kecil yang jadi sasaran korban narasi. Sebegitu teganya.

Baik mari kita buka dahulu sejarah. Perang candu ya, ini perang sungguhan adu senjata dan bedil! yang pernah terjadi di abad ke-19 antara Inggris dan Tiongkok. Dimana waktu itu Inggris bisa menjajah lewat dagangan candu (opium) untuk membalik defisit perdagangan mereka terhadap teh dan porselen Tiongkok. Ketika Kaisar melarang adanya perdagangan candu, Inggris malah menyerang sebanyak dua kali. Hasilnya Tiongkok kalah, harus membuka pelabuhan, dan menyerahkan wilayah Hong Kong.

Nah, kini di abad 21, kita lihat narasi baru tentang “perang nikotin.” Tapi tak seperti opium yang jelas-jelas dikendalikan oleh kekuatan kolonial, perang nikotin hari ini malah menyasar rokok kretek, satu-satunya produk industri besar yang benar-benar berasal dari rakyat dan untuk rakyat. Apakah kita sedang menyaksikan bentuk kolonialisme baru? Namun dengan kemasan kesehatan dan dalih moralitas?

Lalu kita lihat kisah menyedihkan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadilah Supari. Ia adalah satu dari sedikit pejabat yang pernah berani menggugat dominasi lembaga asing dalam urusan penyakit. Ia menolak dominasi NAMRU, laboratorium riset Amerika Serikat di Jakarta, yang katanya riset virus, tapi siapa bisa jamin tak ada agenda lain? Akibatnya, ia selanjutnya dituduh korupsi, dipenjara. Tidak sedikit yang curiga bahwa kasusnya adalah bentuk pembungkaman terhadap nasionalisme kesehatan.

Kita juga tidak boleh menutup mata pada nasib para petani tembakau. Mereka bukan konglomerat. Mereka bukan pemain asing. Mereka sungguh petani, seperti petani padi, jagung, atau cabai. Tapi sayangnya, mereka seringkali disamakan dengan penjahat lingkungan hanya karena menanam tanaman yang kini dianggap ‘berbahaya’. Padahal, sampai hari ini tidak ada satu pun yang melarang orang menanam tebu, meski membuat penderita diabetes makin merajalela.

Apakah kita juga harus mencetak gambar pankreas hancur di setiap kemasan permen?

Kalau mau adil, edukasi kesehatan memang penting. Tapi bukan dengan menghukum simbolis produk tertentu sambil membiarkan racun lain menari-nari di panggung bebas. Konsumsi garam dan gula yang berlebih terbukti membunuh lebih banyak orang setiap tahunnya. Tapi mereka tak pernah dipajang sebagai “setan sadis” seperti asap rokok.

Lalu kenapa ini terjadi?

Karena perang nikotin jelas bukan perang untuk rakyat. Ini perang narasi. Perang kepentingan. Perang untuk merebut kedaulatan dagang dan ekonomi. Perang besar melawan industri rakyat yang susah dikendalikan. Dalam diam, negara telah mengambil posisi sebagai marketing agent lembaga-lembaga asing, sambil menyuruh rakyat harus menelan pil mahal dari luar negeri dengan bungkus “evidence-based.”

Sementara itu, harga tembakau malah jatuh. Petani tembakau yang dulu mengisi kas negara lewat cukai, kini menjadi hantu ekonomi yang dicurigai, disingkirkan, dan harus dilupakan. Tidak ada namanya subsidi transisi. Tidak ada pelatihan tanam alternatif. Yang ada hanya stiker larangan, ruang merokok seperti kandang, dan slogan kesehatan yang kaku.

Lucunya lagi di pengajian dan mimbar gereja, para pemuka agama pun getok ikut-ikutan menyebut asap rokok sebagai penghalang masuk surga. Seolah Tuhan punya filter anti-nikotin di pintu gerbang surga. Padahal, mungkin sebenarnya Tuhan lebih murka pada koruptor, pengemplang pajak, atau pembohong publik berkedok relijius.

Maka izinkan saya bertanya lagi. Apakah nikotin memang musuh utama kita? Atau jangan-jangan kita sedang menabuh genderang perang untuk menutupi kenyataan bahwa banyak racun lain yang lebih mematikan, tapi tak disentuh karena mereka datang dengan jas rapi dan dengan logo global?

Kalau begitu, siapa sebenarnya yang kita lawan?

Barangkali bukan nikotin. Tapi sistem yang terus mencari kambing hitam baru untuk menutupi borok sendiri. Dan rakyat kecil yaitu petani tembakau, buruh pabrik rokok, penjual asongan harus jadi korban baru dalam perang yang bahkan sungguh tak mereka mengerti.

Jadi kalau Anda masih suka menempel stiker “Jantung Sehat” di knalpot motor atau menempel larangan merokok di warung kopi, tolong juga jangan lupa menempel stiker “Pikiran Sehat” di dompet politik Anda.

Karena bau busuk yang sesungguhnya, kadang bukan berasal dari asap rokok tapi dari mulut kekuasaan yang pura-pura peduli.

Jumat, 25 Juli 2025

Oleh: Yoga Duwarto

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.