Menimbang Kelas Menengah Akibat Penggunaan AI oleh Kapitalisme

oleh -1490 Dilihat
banner 468x60

Percepatan dari kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan membawa banyak perubahan di berbagai aspek kehidupan. Tidak saja akan memberikan kemudahan, kenyamanan, baik secara kuantitas dan kualitas, juga ancaman kekhawatiran jika tidak dimanfaatkan secara bertanggung jawab tanpa etika.

Salah satu kekhawatiran utama keberadaan AI yaitu dampaknya terhadap kelas menengah masyarakat. Beberapa ahli telah memprediksi bahwa penggunaan AI akan dapat memperlebar kesenjangan antara kaya dan miskin, sehingga mengikis keberadaan kelas menengah.

Sebuah studi yang dilakukan oleh McKinsey Global Institute memperkirakan bahwa hingga 800 juta pekerjaan akan dapat diotomatisasi pada tahun 2030. Yang tentu dapat berdampak signifikan pada pekerja kelas menengah pada sektor-sektor seperti manufaktur, retail, dan administrasi.

Hal ini dikarenakan AI dapat melakukan otomatisasi banyak tugas yang saat ini dilakukan oleh pekerja kelas menengah, seperti analisis data, entri data, dan layanan pelanggan. Walau ada juga beberapa pendapat yang menunjukkan bahwa AI dapat memiliki dampak positif bagi kelas menengah. Karena AI dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi, membuka peluang baru untuk usaha dan inovasi, serta meningkatkan kualitas pekerjaan.

Sedangkan studi dari Oxford Economics menemukan bahwa nantinya terdapat 20 juta pekerjaan manufaktur di negara-negara maju berisiko tinggi digantikan oleh robot pada tahun 2030. Namun sementara itu, hanya ada 13,6 juta pekerjaan baru yang diciptakan dalam sektor yang jelas membutuhkan keterampilan tinggi.

Dengan kata lain kedepan nantinya persaingan dunia kerja akan semakin ketat karena para pekerja kelas menengah harus meningkatkan keterampilan mereka untuk tetap dapat kompetitif di era AI.

Terlihat betapa pentingnya untuk memastikan bahwa pengembangan dan penggunaan AI dilakukan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, termasuk kelas menengah.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kapitalisme telah menjadi model ekonomi dominan di dunia selama beberapa abad terakhir. Sistem ini terbukti memiliki banyak kelebihan, seperti mendorong inovasi, efisiensi, dan pertumbuhan ekonomi.

Namun, sistem kapitalisme juga memiliki beberapa kelemahan yang signifikan, yaitu kapitalisme cenderung memperlebar jurang kesenjangan antara kaya dan miskin, yang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti terkonsentrasinya kekayaan dunia di tangan segelintir orang, ketidak setaraan akses pada peluang ekonomi, pendidikan juga kesehatan.

Demikian juga sistem kapitalisme rentan terhadap krisis ekonomi, seperti depresi dan resesi. Yang mana krisis ini dapat menyebabkan pengangguran massal, kemiskinan, dan penderitaan baik diskriminasi ras, gender dan kelas sosial, selain pada eksploitasi lingkungan yang semakin parah kerusakannya termasuk polusi akibat lebih mementingkan keuntungan semata tanpa perduli akan dampak negatifnya.

Situasi demikian bukan tidak disadari oleh pelaku usaha dan munculnya kesadaran untuk memperbaiki dari sistem kapitalis guna meminimalisir dampak negatifnya, terlebih jika penggunaan AI akan semakin berkembang pesat yang bisa memperburuk kesenjangan sosial.

Inklusif Kapitalisme

Kesadaran atas kelemahan kapitalisme yang berjalan, telah memunculkan transisi sistem ekonomi dunia ke depan yaitu kepada inklusif kapitalisme sejalan dengan perkembangan AI yang tidak terbendung.

Inklusif Kapitalisme berbeda dengan sistem kapitalisme tradisional yang berfokus pada keuntungan semata. Model ini menekankan pada keadilan ekonomi, keberlanjutan, tanggung jawab sosial, dan partisipasi demokratis.

Bagaimanapun semua orang harus memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai kesuksesan, terlepas dari latar belakang mereka. Yang dapat dicapai melalui berbagai kebijakan, seperti peningkatan akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta menciptakan lapangan kerja yang layak.

Kemudian keberlanjutan ekonomi tetap dalam koridor yang tidak merusak lingkungan. Dimana berarti bahwa perusahaan perlu bertanggung jawab atas dampaknya terhadap lingkungan dan memprioritaskan praktik-praktik yang ramah lingkungan.

Selain daripada itu pelaku usaha harus bertanggung jawab akan dampak usahanya terhadap masyarakat dengan mempertimbangkan kesejahteraan pekerja, komunitas lokal, dan masyarakat secara keseluruhan dalam pengambilan keputusannya.

Dengan demikian diharapkan Kapitalisme Inklusif akan bisa mengurangi ketimpangan pendapatan dan kekayaan dengan memberikan semua orang kesempatan yang sama untuk mencapai kesuksesan.

Selain daripada ini inklusif kapitalisme bertujuan juga untuk meningkatkan standar hidup semua orang, bukan hanya segelintir orang kaya dengan meningkatkan partisipasi, serta akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan layanan dasar lainnya yaitu kebersamaan dengan melibatkan lebih banyak orang dalam kegiatan ekonomi. Sehingga meningkatkan permintaan dan konsumsi, mendorong inovasi dan kewirausahaan yang memperkuat stabilitas sosial.

Tentunya kita semua berharap dengan kemajuan dan penggunaan AI yang dibarengi dengan tujuan dari Inklusif Kapitalisme akan terciptalah masyarakat yang lebih adil dan stabil dengan memberikan semua orang kesempatan untuk mencapai kesuksesan.

Yang tentunya sebagaimana bunyi sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat bangsa dan negara Indonesia.

Senin, 24 Juni 2024

Oleh: Yoga Duwarto

Penulis adalah Peneliti dan Pemerhati Kebijakan Publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.