Mempertanyakan Tujuan Akhir Pendidikan: Sebuah Pencarian Filosofis di Hari Pendidikan Nasional

oleh -504 Dilihat
banner 468x60

Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai bentuk penghormatan terhadap Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional. Namun, di tengah gegap gempita peringatan ini, penting bagi kita untuk merefleksikan kembali esensi pendidikan: Apa sebenarnya tujuan akhir dari pendidikan?

Di era yang semakin kompetitif, pendidikan seringkali direduksi menjadi sekadar instrumen untuk meraih pekerjaan, menghasilkan tenaga kerja terampil, atau mencapai pertumbuhan ekonomi. Padahal, pendidikan sejatinya memiliki dimensi filosofis yang lebih dalam: membentuk manusia yang utuh, berkarakter, dan mampu berpikir kritis.

Memahami makna ini, mari mengkaji realitas pendidikan saat ini, menganalisis tantangannya, serta mempertanyakan apakah sistem pendidikan kita telah mencapai tujuan hakikinya atau justru terjebak dalam pragmatisme.

Realitas Pendidikan Saat Ini: Data dan Fakta

Pertama, Pendidikan sebagai Alat Pencetak Tenaga Kerja. Sistem pendidikan modern seringkali dikritik karena terlalu berorientasi pada pasar kerja. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di Indonesia mencapai 5,32 persen, dengan mayoritas penganggur berasal dari lulusan SMA dan perguruan tinggi. Hal ini memunculkan pertanyaan: Apakah pendidikan gagal menyiapkan lulusan untuk dunia kerja, atau justru dunia kerja yang tidak selaras dengan tujuan pendidikan?

Di sisi lain, World Economic Forum (2023) mencatat bahwa 65 persen pekerjaan di masa depan belum ada saat ini, menunjukkan bahwa pendidikan yang hanya fokus pada keterampilan teknis mungkin sudah ketinggalan zaman.

Kedua, Ketimpangan Akses Pendidikan. Meskipun angka partisipasi sekolah meningkat, kesenjangan pendidikan masih sangat lebar. Menurut UNESCO (2022), sekitar 4,3 juta anak Indonesia masih putus sekolah, terutama di daerah pedesaan dan perbatasan. Sementara itu, Program for International Student Assessment (PISA, 2022) menempatkan Indonesia di peringkat ke-74 dari 81 negara dalam literasi, sains, dan matematika. Ketimpangan ini tidak hanya soal akses, tetapi juga kualitas. Sekolah di kota besar memiliki fasilitas lengkap, sementara sekolah di daerah terpencil kekurangan guru dan infrastruktur.

Ketiga, Pendidikan Karakter yang Terabaikan. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus “menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Namun, dalam praktiknya, pendidikan kita masih terlalu fokus pada nilai akademik.

Survei Kemendikbudristek (2023) menunjukkan bahwa 70 persen guru merasa terbebani dengan kurikulum yang padat, sehingga kurang waktu untuk pengembangan karakter siswa. Akibatnya, kasus perundungan (bullying), intoleransi, dan plagiarisme masih marak di lingkungan pendidikan.

Keempat, Dominasi Ujian Standar. Sistem pendidikan kita masih terjebak dalam budaya “teaching to the test“, di mana keberhasilan siswa diukur melalui nilai ujian nasional (UN) atau tes standar lainnya. Padahal, Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) menyatakan bahwa tes semacam ini tidak selalu mencerminkan kemampuan berpikir kritis atau kreativitas siswa.

Mempertanyakan Tujuan Akhir Pendidikan: Sebuah Tinjauan Filosofis

Pendidikan sebagai Proses Pembebasan Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil, mengkritik sistem pendidikan yang hanya menjadikan siswa sebagai “objek” yang harus diisi dengan pengetahuan.

Menurutnya, pendidikan harus menjadi proses “pembebasan”, di mana siswa diajak berpikir kritis terhadap realitas sosial. Pertanyaannya: Sudahkah pendidikan kita membebaskan siswa dari belenggu dogma, atau justru mengekang mereka dengan hafalan dan standarisasi?

Pendidikan untuk Kebijaksanaan (Ki Hajar Dewantara)

Ki Hajar Dewantara menekankan “Tut Wuri Handayani” pendidikan harus memandu dari belakang, memberi kebebasan, namun tetap mengarahkan. Tujuan pendidikan, menurutnya, bukan hanya mencetak pekerja, tetapi manusia yang beradab dan berbudaya. Namun, kurikulum kita masih terlalu kognitif-sentris, mengabaikan aspek afektif dan psikomotorik.

Pendidikan di Era Digital: Antara Peluang dan Ancaman

Teknologi digital membawa revolusi dalam pendidikan, tetapi juga tantangan. Survei APJII (2023) menunjukkan bahwa 78 persen anak Indonesia menggunakan internet untuk hiburan, bukan pembelajaran.

Pertanyaan filosofisnya: Apakah teknologi membuat pendidikan lebih manusiawi, atau justru mereduksi interaksi sosial dan empati?.

Kesimpulan: Menuju Pendidikan yang Memanusiakan

Di Hari Pendidikan Nasional ini, kita perlu merefleksikan kembali tujuan akhir pendidikan. Pendidikan bukan sekadar “menghasilkan lulusan siap kerja”, tetapi membentuk manusia yang berkarakter, kritis, dan peduli pada sesama.

Beberapa langkah yang bisa diambil:

  1. Reformasi kurikulum yang lebih berfokus pada keterampilan hidup (life skills) dan pendidikan karakter.
  2. Pemerataan akses pendidikan, termasuk peningkatan kualitas guru dan infrastruktur di daerah tertinggal.
  3. Pembelajaran berbasis diskusi kritis, bukan hafalan.
  4. Integrasi teknologi dengan pendekatan humanis, agar digitalisasi tidak menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
    Pendidikan sejati adalah yang “menuntun anak menjadi manusia merdeka, berpikir mandiri, dan bertanggung jawab”.

Mari kita jadikan Hardiknas sebagai momentum untuk kembali ke khittah pendidikan yang sesungguhnya.

Oleh: Rikardus Bolaer, Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widiya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.