Kebebasan Macam Apa yang Dimiliki Orang Miskin?

oleh -971 Dilihat
banner 468x60

Pada 1947, Amartya Sen yang masih bocah menemukan Kader Mia, seorang buruh Muslim, terkapar bersimbah darah. Ia ditikam saat melintasi wilayah Hindu demi mencari sesuap nasi di tengah kerusuhan sektarian.

Sebelum meninggal, Kader Mia mengaku bahwa istrinya telah melarangnya pergi, namun ia tak punya pilihan. Keluarganya butuh makan. Ia harus mempertaruhkan nyawa untuk upah yang tak seberapa.

Kematian Kader Mia menancapkan sebuah pertanyaan abadi dan brutal di benak Sen: kebebasan macam apa yang dimiliki si miskin?

Kader Mia tidak miskin absolut, tapi ia “tidak bebas”. Ia tidak bebas untuk memilih keselamatan karena perut yang lapar adalah tirani yang lebih mendesak.

Tragedi inilah yang membuatnya muak pada metrik-metrik ekonomi yang dingin dan dangkal: PDB, garis kemiskinan dan angka pertumbuhan ekonomi. Metrik-metrik ekonomi itu kadang menyuguhkan angka-angka yang indah, tetapi menyembunyikan problem struktural.

Di balik angka-angka itu tersembunyi manusia seperti Kader Mia, yang pilihannya hanya antara mati ditikam atau mati kelaparan. Angka-angka itu buta terhadap martabat dan kebebasan riil.

Sen menawarkan sebuah dobrakan pemikiran: Pendekatan Kapabilitas (Capability Approach). Ia secara radikal menggeser fokus dari pertanyaan, “Berapa banyak pengeluaranmu per bulan?” menjadi pertanyaan yang jauh lebih fundamental: “Apa kamu punya banyak pilihan dalam hidupmu?”

Bagi Sen, pembangunan sejati bukanlah menumpuk angka PDB, melainkan memperluas kebebasan nyata yang dinikmati oleh setiap individu. Kapabilitas adalah kebebasan atau peluang riil yang dimiliki seseorang untuk memilih jenis pangan yang sehat, pendidikan berkualitas dan punya kebebasan untuk mengekspresikan opini dan aspirasi politiknya.

Pemikian Sen tak hanya berpengaruh di ruang-ruang akademis, tetapi menjadi landasan pemikiran bagi lahirnya konsep Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) yang diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 1990.

Berkat Sen, banyak yang menyadari bahwa pembangunan tak bisa diceraikan dengan demokrasi. Dari sinilah muncul kata-katanya yang terkenal: “tidak akan ada kelaparan jika demokrasi berjalan dengan baik.”

Karena pemerintahan demokratis harus memenangkan pemilu, berhadapan dengan kritik publik, digonggongi oleh pers yang bebas dan perlawanan oposisi.

Oleh: Rudi Hartono

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.