Apakah kita sedang menunggu Tekanan Naik ataukah menunggu Pemicu Dimulai?
Kalau membaca kondisi Indonesia hari ini, sebenarnya kita memang belum berada dalam kondisi krisis. Tapi apabila kemudian dikatakan sepenuhnya masih aman, rasanya juga terlalu cepat menyimpulkan.
Ada satu fase yang sering kali tidak disadari, yaitu ketika semua masih terlihat berjalan seperti biasanya, namun sebenarnya tekanan mulai terbentuk. Tidak besar, tidak mencolok, tapi ada terasa dan perlahan bergerak.
Secara makro, memang angkanya masih memberikan rasa tenang.
Yaitu pertumbuhan ekonomi masih berada di sekitar 5 persen, dan inflasi juga sekitar 3 persen, demikian juga rasio utang pemerintah berada di bawah 40 persen terhadap PDB.
Dengan angka seperti demikian ini, wajar saja apabila muncul keyakinan bahwa keadaan dan situasinya masih terkendali. Oleh sebab itu, banyak yang merasakan belum saatnya ada alasan untuk melihat jauh lebih dalam.
Namun persoalan sebenarnya tidak berhenti di sana. Karena jika dilihat dari pola keseharian, akan mulai terasa pergeseran. Yaitu harga pangan tidak pernah benar-benar turun. Selanjutnya biaya hidup juga tetap pelan-pelan terus naik. Sementara itu, di satu sisi pendapatan tidak pernah bergerak dengan kecepatan yang sama.
Pada titik inilah pertanyaannya bukan lagi apakah ekonomi tumbuh. Melainkan siapakah yang benar-benar ikut merasakan kondisi pertumbuhan tersebut.
Dan inilah yang sebenarnya mulai terasa justru pada kelas menengah. Yaitu mereka yang selama ini berada dalam posisi yang relatif stabil. Seandainya saja pengeluaran masih bisa dikendalikan, mungkin tidak akan menjadi persoalan. Tapi ketika biaya pengeluaran rutin membesar dan ruang tabungan malah menyempit, maka arah pikirannya pasti ikut berubah.
Perubahan seperti ini biasanya tidak bisa langsung terlihat. Karena tidak berisik, tapi perlahan bergerak.
Adalah satu angka indikator yang sering terlewat. Yaitu ada lebih dari 50 persen tenaga kerja kita berada di sektor informal.
Maka ini artinya, sebagian besar masyarakat tetap bekerja. Ekonomi memang tetap bergerak. Dengan demikian, tidak ada kesan potensi krisis secara langsung.
Namun di sisi lain, ini juga menunjukkan bahwa sebenarnya banyak yang hidup bertahan tanpa ada kepastian. Tetap berjalan, tapi tanpa pegangan yang benar-benar kuat.
Negara Indonesia memang memiliki banyak kelebihan. Pasar domestik yang besar. Sumber daya alam yang tersedia. UMKM juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, maka tekanan tidak akan langsung berubah menjadi guncangan hebat.
Namun kelebihan ini sebenarnya juga bisa menimbulkan rasa aman yang sangat berlebihan. Seolah-olah semuanya masih akan selalu baik-baik saja. Padahal belum tentu demikian yang terjadi.
Bandingkan dengan negara yang lebih dari 90 persen kebutuhan pangannya berasal dari impor. Di sana, tekanan langsung terasa lebih cepat. Apabila terjadi perubahan, maka dampaknya langsung dirasakan. Tidak ada banyak ruang untuk menunda urusan dapur, tidur dan keseharian.
Namun ketahuilah bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh salah urus tata kelola. Melainkan bagian dari konsekuensi sistem yang sangat terbuka dan efisien.
Berbeda di Indonesia, tekanannya sama namun menjadi berbeda. Tidak datang sekaligus. Lebih pelan menggerus. Lebih luas menyebar. Kadang juga tidak terasa.
Hingga sampai pada satu titik krusial, yang keras, brutal dan baru disadari. Biasanya bukan karena angkanya yang berubah drastis. Melainkan karena rasa sungguh mulai berubah. Maka muncul pertanyaan sederhana yang pelan-pelan muncul di banyak kepala. Mengapa semakin berat.
Dan pada titik itu, persoalannya tidak lagi sekadar urusan ekonomi. Sudah masuk menyebar ke wilayah kepercayaan. Oleh sebab itu, tekanan yang awalnya bersifat ekonomi bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih luas seperti kanker ganas menyebar.
Sejarah kita sebenarnya telah memberi pelajaran yang cukup jelas. Bukan tekanan yang menjatuhkan. Melainkan tekanan yang kemudian bertemu dengan rasa diperlakukan tidak adil.
Dengan demikian, persoalannya bukan lagi apakah tekanan akan datang. Sebagian sebenarnya sudah ada. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah tekanan ini tetap terkendali, ataukah akan cepat berkembang ketika bertemu dengan pemicu dan momentum yang tepat.
Karena memang Indonesia belum berada dalam kondisi genting. Namun juga tidak sepenuhnya bisa dikatakan aman. Kita ini sedang berada pada satu fase yang sering tidak terlihat. Yaitu ketika tekanan mulai terbentuk, tetapi belum juga dianggap sebagai masalah.
Apabila fase ini tidak dibaca dengan tepat, biasanya bukan tekanannya yang menjadi persoalan.
Tapi keterlambatan kita saat menyadarinya. Karena sebenarnya tekanan itu memang tidak datang tiba-tiba.
Tekanan yang kuat sudah ada. Hanya saja belum cukup terasa dalam untuk perubahan pada angka-angkanya.
Senin, 6 April 2026
Oleh Yoga Duwarto
Penulis adalah Peneliti dan Pemerhati Sosial








