Rendahnya Tingkat Partisipasi Pilgub NTT, Atang: Partisipasi Publik Gambaran Legitimasi Kekuasaan

oleh -3160 Dilihat
banner 468x60

RADARNTT, Kupang – Secara nasional partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara langsung mencapai 68 persen. Sedangkan untuk Nusa Tenggara Timur (NTT), tingkat partisipasi pemilih mencapai 67 persen lebih rendah satu persen dari total nasional.

Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Ahmad Atang menegaskan, kualitas demokrasi lokal dan nasional, salah satunya ditentukan oleh tingkat partisipasi masyarakat dalam politik. Partisipasi masyarakat dalam memilih kepala daerah memberi gambaran akan tingkat legitimasi kekuasaan.

Menurutnya, semakin tinggi partisipasi masyarakat akan memperkuat legitimasi, begitu pun sebaliknya. Namun demikian, kata Atang, Indonesia masih menganut demokrasi legalistik, sehingga yang dipentingkan adalah proseduralnya bukan hasilnya.

“Sungguh pun begitu, rendahnya partisipasi menjadi fenomena buruk demokrasi. Hal ini menunjukan bahwa institusi demokrasi tidak berperan secara baik dalam memberikan pendidikan politik kepada rakyat,” ujar Ahmad Atang, Kamis (12/12/2024) pagi.

Ia menegaskan, rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan kepala daerah tahun 2024 dipengaruhi oleh beberapa sebab.

Pertama, adanya kelelahan politik. Antara pileg dan pilkada dalam rentang waktu yang tidak terlalu jauh, sehingga masyarakat didesak harus menyiapkan diri menghadapi pilkada.

Kedua, pilkada merupakan formatnya para elit, baik figur, koalisi dan program ditentukan oleh elit-elit di Jakarta berdasarkan hasil survey, bukan melalui mekanisme penjaringan dari bawah. Maka ada jarak antara rakyat dan calon yang disodorkan oleh parpol.

Ketiga, tidak ada figur yang benar-benar political marker. Posisi ini yang menyebabkan rakyat tidak memiliki alternatif lain selain figur-figur yang sudah ada.

Kekuasaan selain mendapat legaliitas secara formal harus memenuhi legitimasi atau dukungan mayoritas publik melalui pemilihan umum yang langsung, umum, bebas dan rahasia serta jujur dan adil.

Sebelumnya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi NTT turut memberikan catatan terkait rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2024. Berdasarkan hasil pleno rekapitulasi yang digelar pada 7-8 Desember 2024 di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) NTT, partisipasi pemilih tercatat hanya sekitar 68 persen.

Ketua Bawaslu NTT, Nonato Sarmento, mengatakan rendahnya partisipasi ini perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya partisipasi adalah kebijakan pengurangan jumlah tempat pemungutan suara (TPS). ​

“Kita berharap dengan memaksimalkan sosialisasi, baik secara langsung kepada masyarakat maupun melalui media sosial dan media massa, angka partisipasi dapat meningkat,” ujarnya, Minggu (8/12/2024).

Nonato Sarmento mengatakan, jika sebelumnya setiap TPS melayani 300 pemilih, namun kini menjadi 600 pemilih. Hal ini menyebabkan pemilih harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk menuju TPS yang baru.

Selain itu, lanjut Nato, pelaksanaan Pilkada di tahun yang hampir bersamaan dengan Pemilu 2024 juga turut mempengaruhi rendahnya partisipasi. Dirinya berharap kondisi ini harus menjadi bahan evaluasi untuk semua pihak, baik penyelenggara pemilu maupun pemangku kepentingan lainnya. 

“Penguatan kapasitas penyelenggara di tingkat paling bawah perlu diperkuat agar penyelenggaraan pemilu bisa lebih baik,” kata Nato Sarmento.

Hasil rekapitulasi menunjukkan jika partisipasi pemilih pada Pilkada 2024 di NTT sebesar 67,98 persen, lebih rendah dibandingkan dengan Pilkada 2018 yang mencapai 73 persen. Secara nasional, angka partisipasi pemilih tercatat sekitar 68 persen, yang berarti NTT berada di bawah angka nasional.

Pada kesempatan yang sama, Komisioner Bawaslu NTT, Melpi Marpaung, juga menyoroti hal yang sama. Ia mengingatkan tentang pentingnya meningkatkan partisipasi di berbagai daerah, seperti yang terjadi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang mencatat banyak kejadian khusus di sejumlah kecamatan. 

Melpi juga memberikan apresiasi kepada Kabupaten Alor yang mencatatkan partisipasi hampir 100 persen dan berharap agar tips dari desa-desa di sana bisa diterapkan di daerah lain. 

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menggelar pleno perhitungan surat suara Pemilihan Gubernur (Pilgub) NTT 22024. Hasilnya, pasangan calon gubernur dan wakil gubenur nomor urut 2, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johanis Asadoma (Melki-Johni), meraih suara terbanyak yakni 1.004.055 suara atau setara 37,33 persen.

Peraih suara terbanyak kedua yakni paslon nomor urut 1, Yohanis Fransiskus Lema dan Jane Natalia Suryanto (Ansy-Jane), sebanyak 873.524 suara atau 32,47 persen. Kemudian paslon nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi-Adrianus Garu (SIAGA) meraih 812.353 suara atau 30,20 persen. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.