Konflik Tanah Adat Kembali Membara di Adonara

oleh -1126 Dilihat
Situasi Konflik Adonara (Foto: Thom Aresta/Suara Flotim)
banner 468x60

RADARNTT, Larantuka – Suasana pagi di Pulau Adonara seharusnya berjalan seperti biasa. Petani berangkat ke kebun, nelayan menyiapkan perahu, dan asap dapur perlahan naik dari rumah-rumah warga. Namun, Jumat pagi (6/3/2026) di Kecamatan Adonara Timur berubah menjadi hari yang mencekam. Asap yang membubung kali ini bukan berasal dari dapur, melainkan dari rumah-rumah yang terbakar di tengah bentrokan antarwarga.

Konflik pecah antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dan warga Desa Narasaosina, dipicu sengketa klaim kepemilikan tanah adat yang telah lama menjadi sumber ketegangan di wilayah tersebut.

Di tengah kepanikan, suara teriakan dan dentuman senjata rakitan memecah kesunyian pagi. Warga berlarian meninggalkan rumah dan kebun mereka untuk menyelamatkan diri.

Sebagian warga bahkan harus melompati pagar kebun atau bersembunyi di balik pepohonan untuk menghindari amukan massa.

Di Rumah Sakit Pratama Adonara, suasana darurat langsung terasa sejak pagi hari. Tiga orang laki-laki dewasa dilarikan ke instalasi gawat darurat dengan luka tembak pada bagian paha dan kaki.

Direktur rumah sakit, dr. Danny Gunawan, mengatakan para korban mengalami luka akibat tembakan senjata rakitan yang digunakan dalam bentrokan tersebut.

“Sejak pagi tadi ada tiga orang laki-laki dewasa masuk IGD dengan luka tembak di paha dan kaki,” ujar Danny, Jumat (6/3/2026).

Dua korban sudah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan. Namun satu korban masih harus menjalani observasi medis karena peluru sempat bersarang di pahanya dan harus dikeluarkan melalui tindakan medis.

Di luar korban luka tembak, ketakutan juga dialami warga lain yang berusaha menyelamatkan diri dari lokasi bentrokan. Seorang perempuan asal Lewonara, Desa Narasaosina, mengalami luka lecet setelah terjatuh saat berlari di kebun untuk menghindari konflik.

“Ia jatuh di kebun ketika berusaha lari menghindari perang,” kata Danny.

Peristiwa ini bukan sekadar bentrokan spontan. Sengketa tanah adat antara kelompok warga di wilayah tersebut disebut telah berlangsung lama, bahkan diwariskan dari generasi ke generasi.

Tanah bagi masyarakat adat di Adonara bukan hanya sebidang lahan ekonomi. Ia adalah identitas, sejarah keluarga, dan simbol kehormatan komunitas. Karena itu, ketika batas tanah diperdebatkan, yang dipertaruhkan bukan sekadar wilayah, tetapi juga harga diri kelompok.

Ketika mekanisme penyelesaian adat atau mediasi formal tidak berjalan efektif, konflik kerap berubah menjadi bentrokan terbuka.

Video yang beredar di masyarakat memperlihatkan beberapa rumah terbakar di tengah konflik. Asap tebal tampak membelah langit pagi Adonara, sementara warga hanya bisa menyaksikan dari kejauhan rumah mereka dilalap api.

Situasi yang memanas memaksa aparat keamanan bergerak cepat. Personel dari Polres Flores Timur langsung diterjunkan ke lokasi untuk mengendalikan keadaan.

Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octoria Putra, mengatakan aparat telah bergerak ke wilayah konflik untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

“Untuk personel sudah kami turunkan ke sana,” ujarnya singkat.

Namun bagi masyarakat setempat, kehadiran aparat hanya menjadi penahan sementara. Luka sosial akibat konflik tanah adat jauh lebih dalam dan sering kali membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Bagi sebagian warga, konflik semacam ini bukan pertama kali terjadi. Pulau Adonara memiliki sejarah panjang sengketa batas tanah adat antarwilayah yang kadang berujung pada perang tanding antarwarga.

Ketika batas wilayah tidak terdokumentasi secara jelas dan hanya bergantung pada ingatan kolektif serta penuturan leluhur, setiap generasi berpotensi mewarisi konflik yang sama.

Di tengah puing rumah yang terbakar dan warga yang masih trauma, pertanyaan besar kembali muncul: bagaimana menyelesaikan sengketa tanah adat tanpa harus mengorbankan nyawa dan tempat tinggal?

Tanpa penyelesaian yang melibatkan tokoh adat, pemerintah daerah, dan aparat hukum secara serius, konflik serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan menjadi lingkaran kekerasan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di Adonara pagi itu, bara konflik tanah adat kembali menyala. Dan bagi warga yang rumahnya terbakar atau terluka oleh peluru rakitan, sengketa batas tanah kini meninggalkan jejak yang jauh lebih dalam dari sekadar garis di peta. (TIM/RN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.