RADARNTT, Maumere – Senyum ramah Arnoldus Yustinus Elwinto (31) yang akrab disapa Erwin menyambut media ini di Warung Kopi (Warkop) Kopi Deng Sapa, tongkrongan miliknya di Jalan Mawar, Kelurahan Madawat, Maumere, Selasa, (24/2/2026) malam.
Usaha yang digelutinya hampir enam tahun ini, bukanlah satu hal yang mudah. Dari merantau selama hampir lima tahun, sampai karyawan di Gramedia, Ia tidak menyangka, bahwa hanya dengan hobinya yang suka nongkrong dan ngopi bersama teman-teman, berhasil membuatnya sukses memiliki warkop dan telah banyak memberikan dampak besar bagi hidupnya selama ini.
“Awal buka Warkop ini memang dari hobi. Hobi nongkrong, kiri-kanan, makanya pas sini, itu awal, ini hanya untuk coba-coba. Sekiranya ada tempat untuk istirahat yang di tengah-tengah kota. Karena awal itu memang hanya untuk duduk sendiri, kalau tidak teman-teman. Tidak ada memang niat untuk buka usaha,” ujan Erwin.
Tanah yang awalnya kosong tepat di belakang Gelora Samador Maumere, berhasil disulap Erwin menjadi tempat tongkrongan yang nyaman. Hanya dengan modal pas-pasan di tahun 2020. Tempat sampah, parkiran mobil truk dan rerumputan liar menjadi pemandangan awal tempat itu.
“Awal pas masuk pertama tuh, ini memang kawasan hutan ini, ada pohon-pohon sama sampah. Terus semakin berkembang mulai ada speaker kecil kursi pas-pasan sampai sudah jadi seperti ini,” tandas pria asal Wailiti.
Sebelumnya, pemuda tamatan SMK Negeri 1 Maumere (XTM) ini pernah merantau selama hampir lima tahun. Sekembalinya ke tanah kelahiran, ia mulai mencoba untuk memulai usaha sendiri. Lantaran pendidikannya yang hanya tamatan SMK Jurusan Listrik itu membuatnya tegar untuk mulai mencoba usahanya itu hanya dari hobi.
Erwin mengaku telah banyak sekali hal yang ia syukuri selama ini berkat usaha warkop ini. Salah satunya adalah bisa membangun rumah dan membuka peluang kerja bagi orang lain. Berkat usaha ini pula, Erwin telah berhasil membangun tiga usaha lainnya yakni usaha pangkas rambut, bengkel cuci motor, dan tongkrongan Play Station (PS).
“Hanya sekedar hobi, terus awal-awal cukup nongkrong, saya bisa bangun rumah, saya bisa bangun beberapa usaha lagi. Ada pangkas rambut, cuci motor dan PS,” imbuhnya.
Berdirinya Warkop Kopi Deng Sapa memanglah sebuah kebetulan. Berawal dari hobi hingga bisa memiliki rumah sendiri adalah sebuah anugerah terbesar yang pernah Erwin terima. Lantaran di balik kesuksesan warkop ini, Erwin mengaku ia tidak hanya fokus dalam satu bidang UMKM. Selama ini ada begitu banyak event dan kegiatan lain yang dilakukan seperti galang dana untuk fakir miskin, event-event hiburan seperti party di berbagai PAP, pameran serta hiburan dan kegiatan lainnya.
“Oh ya kita banyak kegiatan ada galang dana, terus ada bikin event di PAP yang ada di Maumere, terus ada juga live musik, DJ di Pintar Asia, Hotel Wailiti, itu memang harus kolaborasi, lobi juga. Soal di event kan memang kita hobi tuh kak, kalau memang kita mau buat pameran motor, sudah kita bisa buat. Mau pameran lukisan kan, mau bentang kan, kita sudah tahu jalurnya, kita sudah pernah buat juga,” tandasnya.
Sementara itu, nama Kopi Deng Sapa, kata Erwin bukan merupakan nama yang sudah dipikirkan. Menurutnya ini hanya sebuah sebutan asal yang intinya ada nama kopi di dalamnya.
“Soal nama, kalau kita bilang, ko pi deng sapa masuk juga. Karena awalnya pas itu Ya, kopi dengan siapa, kau pergi dengan siapa, masuk. Tapi nama ini tidak dari mana-mana, tapi yang penting ada nama lah, kopi, sebut saja dulu, intinya kopi,” jelasnya.
Di balik kesuksesannya yang hingga kini telah banyak meraup keuntungan cukup besar, Erwin tetaplah menjadi pemuda rendah hati yang ingin agar mimpi besarnya bisa terwujud. Menurutnya, pensiunan di usia muda adalah impian terbesar dalam hidupnya. Telah memiliki usaha kecil-kecilan telah membawanya sejauh ini hingga sudah hampir memenuhi kebutuhan ekonominya.
“Lebih ke tinggal di rumah saja di umur 40-an itu, kan sekarang ada bisa kontrol dari luar saja tanpa harus jaga langsung seperti ini,” ujarnya.
Menjadi pengusaha sukses di umur yang terlampau muda, menjadi satu kesuksesan cukup besar bagi Erwin. Dengan usahanya ini, Erwin berharap bahwa anak muda di Maumere dapat terus mencoba untuk melangkah tanpa takut gagal terlebih dahulu.
“intinya mencoba dulu lah, jangan takut gagalnya terlebih dahulu kalau tidak mencoba ya pasti tidak akan jalan. Intinya coba dulu soal sukses tidaknya itu nanti,” ujarnya.
Sejauh ini Warkop Kopi Deng Sapa terus bergulir, melampaui batas waktu bekerjasama dengan komunitas lainnya di Maumere untuk diantaranya, Komunitas Motor Clasik, Komunitas Tato, Komunitas Mural, Komunitas Musik, Komunitas Standup Komedi, Komunitas Musik, Komunitas Pemuda Peduli Sikka, Komunitas Orang Muda Berbagi, Karang Taruna, OMK, dan masih banyak lagi.
Hingga kini Warkop Kopi Deng Sapa tetap berdiri dengan menyediakan makanan dan minuman kisaran lima sampai sepuluh ribu rupiah. Tidak hanya makanan, Warkop ini menyediakan live musik, ruang untuk mural, dan masih banyak lagi. (RA/RN)









