RADARNTT, Larantuka – Sabtu, 18 Oktober 2025, Paroki San Juan yang terletak di pusat Kota Larantuka, Keuskupan Larantuka, Nusa Tenggara Timur, menyelenggarakan seminar bertema moderasi beragama. Kegiatan ini diinisiasi oleh Seksi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Paroki San Juan, dengan subtema “Moderasi Beragama dalam Masyarakat Multikultural di Wilayah Paroki San Juan Lebao Tengah”.
Seminar ini digelar sebagai respons atas dinamika sosial yang berkembang di wilayah paroki, yang kini dihuni oleh warga dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam, baik penduduk asli maupun pendatang.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Dewan Pastoral Paroki San Juan, Fransiskus Resiona, didampingi Ketua Seksi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan, Andreas Kewa Ama.
Dalam sambutannya, Resiona menekankan bahwa moderasi beragama adalah langkah strategis untuk membangun sikap saling menghormati dan menghargai antarumat beragama.
“Pemahaman yang benar tentang iman orang lain akan melahirkan penghargaan yang tulus dan memperkuat ikatan sosial di tengah keberagaman,” tegas Resiona.
Seminar ini menghadirkan pembicara lintas agama dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Flores Timur. Wakil Ketua FKUB, Ahmad Betan, menyampaikan pandangan Islam tentang moderasi beragama dan menyebut kegiatan ini sebagai “jalan penting” menuju harmoni kehidupan di Flores Timur.
Dari kalangan Protestan, hadir Pdt. Marthni Sarnita Jumiarti Balla-Benu, S.Si. Theol., sementara dari Hindu, I Made Budana turut berbagi perspektif. Ketiganya menyoroti pentingnya kasih, cinta, dan harmoni sebagai nilai universal dalam kehidupan beragama.
Anselmus DW Atasoge turut membingkai seluruh diskusi dalam tema Interfaith Sinodality, sebuah ajakan untuk berjalan bersama lintas iman demi membangun peradaban kemanusiaan.
Ia menawarkan dua pendekatan kerja sama lintas iman. Pertama, pendekatan fenomenologis, yaitu memahami agama lain dengan sikap apresiatif tanpa semangat penaklukan atau pengkafiran.
“Pendekatan ini menolak falsifikasi keyakinan orang lain dan mendorong sikap sebagai pemerhati serta pendengar yang baik. Tujuannya adalah memahami dan menghargai keberagaman tanpa niat konversi,” tegas Atasoge.
Kedua, pendekatan perennialistik, yaitu dialog yang mencari kemungkinan adanya kesatuan transendental di balik keragaman agama-agama secara eksoterik.
“Metode ini tidak menegasikan perbedaan simbol, bahasa, dan tradisi, tetapi mengakui bahwa di balik semua itu ada kepasrahan kepada Tuhan yang sama, meski dikonstruksi berbeda oleh tiap pemeluk agama,” tandas Atasoge.
Di penghujung acara, Pastor Paroki San Juan, RD. Sirilus Lela Wutun, menyampaikan pesan penutup yang kuat dan penuh harapan. Ia mengutip sabda Yesus:
“Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Pastor Sirilus mengajak umat untuk tidak takut menjadi terang di tengah kegelapan. Ia menegaskan bahwa umat San Juan dipanggil untuk menjadi insan moderat yang bercahaya bagi banyak orang. (TIM/RN)







