RADARNTT, Kupang – Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Angela Merci Piwung meminta pemerintah ikut terlibat aktif dalam mempersiapkan tenaga kerja sebelum dikirim ke dunia kerja di luar negeri pun domestik dan jangan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak swasta.
Merci Piwung mengaku menemukan banyak calon tenaga kerja di tempat penampungan persiapan sebelum diberangkatkan ke negara tujuan untuk.bekerja yang dalam kondisi memprihatinkan.
“Pemerintah terlalu membiarkan swasta mengurus calon tenaga kerja sehingga seenaknya bahkan ada anak-anak di bawah umur bisa diloloskan untuk bekerja,” tegas Anggota Komisi V DPRD NTT, Selasa (11/3/2025).
Merci Piwung menegaskan, pemerintah jangan membiarkan sepenuhnya kepada pihak swasta tetapi perlu terlibat aktif dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) calon tenaga kerja agar bisa memenuhi kualifikasi tertentu sesuai kebutuhan pasar kerja luar negeri pun domestik.
“Pemerintah harus terlibat aktif menyiapkan anak-anak kita agar bisa bekerja dengan baik dan merubah hidupnya bersama keluarga,” tandasnya.
Menrut Merci Piwung, pemerintah perlu memberikan perhatian dan anggaran yang cukup untuk membangun SDM calon tenaga kerja sebelum dikirim ke dunia kerja luar negeri dan domestik agar bisa merubah hidup dan membahagiakan keluarga.
Dilansir garda indonesia, pada Februari 2024, penduduk usia kerja bertambah 82 ribu orang menjadi 3,99 juta orang dibanding Februari 2023. Yang masuk pasar kerja atau menjadi angkatan kerja bertambah 151 ribu orang menjadi 3,06 juta orang, sedangkan yang bukan angkatan kerja karena mengurus rumah tangga, sekolah, dan tidak bekerja atau tidak mau mencari kerja karena alasan lainnya turun sekitar 60 ribu orang menjadi 926 ribu orang.
Angkatan kerja mencakup penduduk yang bekerja dan pengangguran. Penduduk yang bekerja bertambah 144 ribu orang menjadi 2,96 juta orang. Sisanya adalah pengangguran yang bertambah sekitar 6,6 ribu orang menjadi 97 ribu orang. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) naik 0,03 poin menjadi 3,17 persen. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi NTT pada triwulan I 2024 meskipun tetap bertumbuh, namun belum sanggup menyerap angkatan kerja lebih banyak sehingga TPT naik.
Tingkat pengangguran di NTT masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang sebesar 4,82 persen. Namun kondisi ini berbanding terbalik dengan tingkat kesejahteraan sebagian besar tenaga kerja yang masih rendah dan tingkat kemiskinan yang masih tinggi terutama di daerah perdesaan NTT.
Penduduk yang bekerja dapat dibedakan menjadi pekerja penuh, pekerja paruh waktu, dan setengah penganggur. Pekerja penuh atau yang bekerja lebih dari 35 jam seminggu bertambah 44,45 ribu orang menjadi 1,48 juta orang. Sedangkan pekerja paruh waktu bertambah 75,3 ribu orang menjadi 1,13 juta orang. Pekerja paruh waktu adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu tetapi tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain. Setengah penganggur juga bertambah 24,6 ribu orang menjadi 350 ribu orang.
Setengah pengangguran adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari atau menerima pekerjaan tambahan. Proporsi pekerja penuh terhadap total angkatan kerja yang bekerja sebesar 50 persen. Pekerja penuh umumnya memiliki tingkat produksi dan pendapatan yang lebih baik dibanding setengah penganggur atau paruh waktu.
Ada tiga sektor ekonomi yang menyerap tenaga kerja paling banyak di NTT adalah pertanian sebanyak 1,49 juta orang atau 50,4 persen, perdagangan 390 ribu orang atau 12,5 persen dan industri pengolahan 280 ribu orang atau 9,4 persen.
Pertambahan tenaga kerja paling banyak pada sektor pertanian dan perdagangan masing-masing sebanyak 40 ribu orang, kemudian sektor industri pengolahan, administrasi pemerintahan, dan akomodasi/makan minum masing-masing sebanyak 20 ribu orang. Ketiga sektor ini menjadi penyerap tenaga kerja paling banyak karena tidak terlalu memerlukan syarat ketrampilan atau keahlian yang tinggi.
Dari sisi PDRB, tiga sektor dengan kontribusi nilai tambah terbesar adalah sektor pertanian, perdagangan, dan jasa pemerintahan. Sektor industri pengolahan meskipun menyerap tenaga kerja ketiga terbanyak hanya memberikan kontribusi nilai tambah yang rendah sebesar 1,5 persen. Peningkatan ketrampilan dan teknologi tepat guna sangat diperlukan oleh sektor ini agar dapat meningkatkan nilai produksi dan pendapatan tenaga kerjanya. (TIM/RN)







