RADARNTT, Kalabahi – Petani dan Penyuluh Pertanian sebagai ujung tombak pembangunan pertanian perlu mendapat bimbingan teknis dan pembelajaran berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan. Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi NasDem, Julie Sutrisno Laiskodat bekerja sama dengan Kementerian Pertanian melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) kepada Petani dan Penyuluh Pertanian.
Bimtek Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh di Kabupaten Alor berlangsung sehari pada Senin (22/7/2024) mengambil tempat di Aula Kopdit CHT Kalabahi.
Julie Sutrisno Laiskodat melalui Tenaga Ahli Minarni M.Si menjelaskan, pembangunan pertanian Indonesia sedang menghadapi tantangan perubahan iklim global dan tekanan produk impor.
“Sehingga peran petani dan penyuluh sangat penting untuk menjaga produksi dan produktivitas pertanian kita agar tetap sustain dan dijamin mutunya,” jelasnya.
Untuk itu, butuh peningkatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan praktis bagi petani sebagai pelaku dan penyuluh sebagai pendamping teknis pelaksanaan pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
“Maka melalui aspirasinya Anggota DPR RI Julie Sutrisno Laiskodat, mengadakan Bimtek bagi Petani dan Penyuluh di NTT,” sebut Minarni.
Diharapkan melalui kegiatan Bimtek ada transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa perubahan sikap dan cara berusaha tani bagi masyarakat petani di kabupaten Alor dan NTT umumnya.
Bimtek tersebut menyajikan beberapa narasumber yang membahas khusus topik materi Irigasi Tetes yaitu Piet Payong, SST selaku salah satu Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) senior di Kabupaten Alor dan Petani Milenial Alor Botau Glenartho.
Piet Payong menyebutkan, irigasi tetes atau drip irrigation sebagai solusi hemat air di musim kemarau, terlebih bagi daerah yang beriklim kering seperti Alor dan NTT umumnya.
“Musim kemarau yang berkepanjangan dan suhu yang sangat ekstrim, panas dan teriknya sinar matahari membuat tanaman baik di pot ataupun di lahan mudah cepat layu bahkan mati,” jelas Piet Payong dalam materinya.
Selain itu, lanjutnya, kondisi tanah agak berpasir dimana tidak mampu menahan air lebih lama, selain perlunya media tanaman yang porositas baik dalam menahan air perlu dipikirkan juga sistem pengairan yang mampu memberikan air secara berkesinambungan dalam jangka waktu lama sedikit demi sedikit.
Dijelaskannya, Irigasi Tetes adalah metode irigasi yang menghemat air dan pupuk dengan membiarkan air menetes pelan-pelan ke akar tanaman, baik melalui permukaan tanah atau langsung ke akar, melalui jaringan katup, pipa dan emitor (pemancar). yang dapat memberikan air dengan debit yang rendah dan frekuensi yang tinggi (hampir terus-menerus) disekitar perakaran tanaman.
Piet Payong juga membeberkan sejumlah keunggulang irigasi tetes dalam pemanfaatan air yang terbatas.
“Pertama, meningkatkan nilai guna air Hemat air karena pemberian air bersifat local dan sedikit sehingga akan menekan evaporasi aliran permukaan.”
Kedua, meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil Kelembapan tanah terjaga optimal untuk pertumbuhan tanaman.
Ketiga, meningkatkan efisiensi efektifitas pemberian Hemat pupuk/bahan lainnya frekuensi lebih tinggi dan distribusinya sekitar akar.
Keempat, menekan pertumbuhan gulma air terbatas disekitar tanaman maka akan menekan tumbuhnya gulmaMenghemat tenaga kerja dapat dikerjakan secara otomatis sehingga kebutuhan tenaga kerja lebih sedikit.
Namun, lanjutnya, Irigasi Tetes juga memiliki sejumlah kelemahan yang harus diketahui petani agar pemanfaatkanya bisa tepat.
“Pertama, memerlukan perawatan yang intensif sering terjadi penyumbatan akan memepengaruhi debit air.”
Kedua, membatasi pertumbuhan tanaman bila perawatan kurang optimal maka pertumbuhan tanamn terhambat.
Ketiga, keterbatasan biaya dan Teknik memerlukan investasi yang tinggi dalam Pembangunan awal juga teknologinya dalam merancang,mengoprasionalkan, dan pemeliharaannya.
Piet Payong juga menyampaikan beberapa metode pemberian air melalui irigasi tetes.
Pertama, Irigasi tetes atas (dripirrigation) permukaan tanah adalah tetesan terus menerus di permukaan tanah sekitar perakaran.
Kedua, Irigasi tetes bawah permukaan tanah (sub-surface drip irrigation ) air diberikan menggunakan emitter dibawah permukaan tanah.
Ketiga, Bubbler irrigation air diberikan ke permukaan tanah seperti aliran kecil memakai pipa kecil (small tube)
Keempat, Irigasi percik (spray irrigation) air diberikan menggunakan semprotan kecil (micro sprinkler) kepermukaan anah.
Senada dengannya, Petani Milenial Botau Glenartho mengatakan Irigasi tetes merupakan sistem irigasi yang sangat efisien dan dapat memberikan banyak manfaat bagi sektor pertanian.
“Meskipun memiliki beberapa kekurangan, irigasi tetes diyakini akan menjadi pilihan yang semakin populer di kalangan petani, terutama di kalangan generasi milenial yang menginginkan pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan,” ungkap Glen dalam paparan materinya.
Menurutnya, dengan pemahaman yang lebih baik tentang irigasi tetes dan manfaatnya, diharapkan para milenial di Indonesia khususnya kabupaten Alor dapat menerapkan sistem ini untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani mereka.
“Hal ini tidak hanya akan berdampak positif bagi sektor pertanian, tetapi juga bagi ketahanan pangan nasional,” tandasnya.
Kegiatan Bimtek ini dihadiri 30 peserta yang terdiri dari 10 orang petani (ketua kelompok tani) terpilih dan 20 orang Penyuluh Pertanian di Kabupaten Alor. (TIM/RN)







