Sistem Baru di Rumah Sakit Jiwa

oleh -1545 Dilihat
banner 468x60

Dalam perjalanan menyusuri Kota Bogor dan sekitarnya, sebagai seorang dokter dan psikolog, saya menyempatkan diri berkunjung di salah satu rumah sakit jiwa di kota itu. Setelah berakhirnya pemilihan umum beberapa waktu lalu, konon banyak politisi mengalami stres dan depresi yang dirawat secara mendadak. Saya mengajak teman dekat yang menyopiri saya, lalu membujuk dia agar memutar haluan barang satu atau dua jam untuk melihat-lihat tempat tersebut. Tapi sayangnya, teman saya menolak dengan alasan merasa riskan dan takut berhubungan dengan orang-orang gila.

Akhirnya, kami pun berpisah, dan dia mengucap salam perpisahan. Seketika saya berpikir, boleh jadi saya akan mengalami kesulitan untuk masuk ke tempat tersebut, lalu saya sampaikan kekhawatiran saya kepadanya. Teman saya itu justru meyakinkan saya, seandainya tidak mengenal kepala rumah sakit serta tidak pernah mengirim surat pemberitahuan apapun, tentu saya akan mengalami kesulitan. Karena bagaimanapun, peraturan rumah sakit swasta jauh lebih ketat ketimbang rumah-rumah sakit umum.

Saya bertekad menemui kepala rumah sakit yang bernama Pak Nandar, dan ternyata orangnya kelihatan baik dan santun. Dia memerintahkan seorang pesuruh untuk mengantarkan saya menuju rumah sakit, dan saya pun mengucap banyak terimakasih. Tak lama kemudian, kami menerobos jalan setapak yang ditumbuhi rerumputan dan ilalang, lalu memasuki sebuah hutan rimba belantara dengan cuacanya yang lembab dan gelap.

Dari kejauhan terbaca tulisan “Rumah Sakit Jiwa Al-Munawwar”. Suatu bangunan yang megah dan mengagumkan, walaupun di beberapa tempat terlihat bobrok dan atap-atapnya reot lantaran tidak ada yang mengurus selama bertahun-tahun. Melihat sekeliling membuat badan saya merinding, tetapi apa boleh buat, saya pun terus bertekad untuk melanjutkan perjalanan.

Waktu kami mendekat, seketika pintu gerbangnya terbuka pelan-pelan. Lalu, saya melihat bayangan seraut wajah yang memperhatikan kami, sambil mengintip dari celah-celah jendela. Dalam sekejap saja, pria ini muncul di hadapan kami dan menyapa teman seperjalanan saya dengan sangat akrab. Ternyata, pria itu tak lain dari Pak Nandar sendiri, sang pemilik rumah sakit yang – seperti saya katakan – penampilannya menarik, dan cara bicaranya sopan dan santun. Ditambah lagi ada kesan kharisma dan kewibawaan yang membuatnya terlihat sangat mengesankan.  Teman seperjalanan saya pamit dan undur-diri. Langsung digantikan dengan Pak Nandar yang mengantarkan saya menuju ruang tamu yang terlihat elok dan rapi. Ruangan itu berisi deretan buku-buku di dalam bupet, lukisan, vas bunga, dan beberapa alat musik. Seorang wanita muda yang cantik menyambut kedatangan kami. Pakaiannya yang serba hitam menciptakan kesan seolah-olah dia sedang berduka cita. Di hati saya bergejolak perasaan yang bercampur baur antara rasa hormat, ketertarikan, dan kekaguman.

Saya sudah banyak mendengar kabar bahwa Rumah Sakit Jiwa Al-Munawwar dikelola dengan sistem yang menentramkan dan mendamaikan. Meskipun banyak menampung para pasien yang merasa depresi akibat maraknya penyakit Covid-19 akhir-akhir ini, rumah sakit ini konon memberlakukan sistem baru yang menentang adanya hukuman dan kekerasan. Bahkan pengurungan pasien juga jarang dilakukan. Pasien-pasiennya diawasi secara diam-diam dan dibiarkan bebas berkeliaran di sekitar rumah sakit dengan pakaian seperti orang-orang normal.

***

Saya harus berhati-hati ketika bicara dengan wanita muda dan cantik tadi. Sebab bagaimanapun, saya tidak tahu pasti apakah dia orang waras atau bukan. Belum lagi, ada kecerahan yang tak wajar pada sorot matanya. Saya terus mengajak bicara sambil berusaha mengendalikan diri agar berbaik sangka kepadanya.. Dia juga rupanya merespons setiap perkataan saya dengan baik, berikut alasan-alasan yang dikemukakannya secara normal dan masuk akal.

Tak lama kemudian, datanglah seorang pelayan yang membawakan nampan berisi buah-buahan, kurma, kacang mete berikut satu cangkir teh. Saat pelayan itu meninggalkan ruangan, saya menoleh pada Pak Nandar dengan wajah bertanya-tanya.

“Silakan… silakan diminum, tidak apa-apa… dia itu keponakan saya, seorang wanita yang pintar dan cerdas.”

“Maafkan saya, Pak Nandar… maafkan atas kecurigaan saya. Bagaimanapun kinerja Bapak sangat baik di Bogor ini. Saya kira, semua dokter jiwa sudah mengenal Bapak dengan baik.”

“Ya, ya, nggak apa-apa. Justru saya yang merasa berterimakasih. Banyak dokter yang datang ke sini lalu seenaknya menghakimi para pasien di rumah sakit ini. Tetapi Anda, saya kira Anda adalah tamu istimewa yang begitu ramah dan santun sejak pertama kali datang ke sini. Dulu, ketika rumah sakit ini menerapkan sistem yang lama, walaupun para pasien diizinkan berkeliaran di sekitar rumah sakit, mereka seringkali terancam dengan kedatangan orang-orang asing. Oleh karena itulah saya menerapkan sistem pembatasan yang ketat untuk orang luar, sehingga tidak ada satupun yang dapat masuk kecuali jika saya mengenal dan percaya dengan mereka.”

“Sistem yang lama?” kata saya mengulangi kata-katanya, “Apa maksud Bapak bahwa sistem lama yang menentramkan itu tidak lagi diterapkan di sini?”

            “Ya,” jawabnya, “beberapa minggu lalu kami memutuskan untuk tidak lagi menerapkan sistem itu.”

“Kenapa, Pak? Apa penyebabnya?”

“Begini. Kami menyadari akan perlunya untuk kembali ke sistem awal,” ujarnya dengan sedikit mendesah. “Bahaya yang muncul akibat sistem lama itu sangat mengerikan, dan keuntungannya sebenarnya terlalu dilebih-lebihkan. Kami telah berusaha melakukan yang terbaik, namun tetap saja gagal. Maaf, karena Anda tidak sempat mengunjungi kami saat itu. Jika Anda melihatnya, Anda pasti dapat menilainya sendiri. Tapi saya yakin bahwa Anda sudah sangat mengenal sistem tersebut, bahkan detil-detilnya sekalipun.”

“Tidak semuanya. Saya hanya mendengar sepintas saja dari KompasTV dan MetroTV.”

“Kalau begitu, izinkan saya memberi penjelasan.” Ia menggeser duduknya, kemudian sambungnya, “Sistem yang lama itu mensyaratkan agar pasien selalu terhibur. Kami tidak melawan imajinasi apapun yang ada di dalam otak pasien. Bahkan sebaliknya, kami tidak hanya menuruti kehendak mereka, namun juga mendorong mereka agar terus melakukannya. Sudah banyak pasien kami yang sembuh secara permanen. Tidak ada argumen yang dapat diterima oleh orang gila kecuali argumen yang gila juga. Misalnya saja, ada beberapa pasien yang menganggap dirinya adalah seekor ayam. Cara menyembuhkannya adalah dengan meyakinkan fakta tersebut. Lalu, kami memberinya makanan ayam selama seminggu. Jagung dan biji-bijian dapat menjadi obat mujarab.”

“Tapi apakah tidak ada yang protes dengan hal itu?”

“Tidak ada. Kami juga melakukan hal-hal kecil lainnya, misalnya mendengarkan musik, menari, latihan senam, membaca buku, dan lain-lain. Kami memperlakukan setiap pasien seolah mereka hanya mengalami gangguan fisik, dan kata ‘gila’ tidak pernah disebutkan di depan kamus mereka. Cara penyembuhan yang paling efektif adalah dengan menugaskan setiap pasien untuk mengawasi tindakan yang lainnya. Memberikan tanggung jawab besar di tangan orang tidak waras sama saja dengan memberikan mereka tubuh dan jiwa. Dengan cara ini, kami tidak lagi memerlukan penjaga resmi.”

“Dan Bapak juga tidak menerapkan hukuman dalam bentuk apapun?”

“Sama sekali tidak.”

“Dan Bapak tidak pernah mengurung pasien?”

“Hmm, sangat jarang. Hanya kadang-kadang ada pasien yang penyakitnya memuncak, atau tiba-tiba berubah menjadi kasar. Jika ini terjadi, kami segera memasukkannya ke sel isolasi. Kalau tidak, itu akan mempengaruhi yang lain. Kami mengurungnya di sana sampai kami dapat melepaskannya kembali. Tapi, tidak ada yang dapat kami lakukan terhadap pelaku kriminal yang suka berantem dan melakukan kekerasan. Biasanya pasien seperti itu segera dipindahkan ke rumah sakit umum atau ke penjara.”

“Dan sekarang Bapak telah mengubahnya. Apakah menurut Bapak sekarang menjadi lebih baik?”

“Terpaksa kami memutuskan inilah yang terbaik. Sistem tersebut memang memiliki untung ruginya sendiri. Namun sekarang, kebahagiaan telah menyebar luas di seluruh Rumah Sakit Al-Munawwar ini.”

“Saya sangat terkejut dengan apa yang Bapak ceritakan,” kata saya lagi, “karena sampai sekarang belum ada metode penyembuhan untuk orang gila di seluruh Indonesia dari Sabang sampai Merauke.”

“Anda masih sangat muda,” jawab Pak Nandar. “Nanti akan tiba saatnya Anda menilai segala sesuatunya secara alami, tanpa mempercayai gosip-gosip yang ada. Jangan percaya dengan apapun yang Anda dengar, dan hanya percayai setengah saja dari apa yang Anda lihat. Dan tentang Al-Munawwar ini, tentu saja ada wartawan atau penulis yang telah menyesatkan pikiran Anda. Nanti setelah makan malam, ketika Anda telah beristirahat, saya akan dengan senang hati mengajak Anda jalan-jalan mengelilingi tempat ini, dan memperkenalkan kepada Anda sebuah sistem terbaru yang menurut saya dan setiap orang yang telah melihat akan menilainya paling efektif dan optimal.”

“Sistem yang Bapak buat sendiri?”

“Ya, tentu saja.”

“Dari hasil pemikiran Bapak?”

“Ya, tepat sekali.”

Kami masih mengobrol selama satu hingga dua jam. Selama kurun waktu tersebut, Pak Nandar mengajak saya melihat kebun rumah kaca di sana.

“Saya tidak dapat mengizinkan Anda untuk menemui pasien sekarang ini,” katanya, “sebab orang normal biasanya memiliki pikiran yang sensitif sehingga mereka selalu terkejut ketika melihat pasien sakit jiwa. Dan saya juga tidak ingin merusak selera makan Anda nanti. Kita akan makan malam sebentar lagi. Kami akan menyajikan sate kambing dan sayur sop, ditambah lalap emping. Kemudian, ada minuman juice melon, alpukat, jeruk dan teh botol yang membuat urat syaraf Anda merasa rileks dan tenang.”

***

Jam setengah tujuh, makan malam sudah dipersiapkan. Pak Nandar mengajak saya ke ruang makan, yang ternyata sudah berkumpul sekitar 30-an orang. Kebanyakan mengenakan kemeja batik dan celana panjang, sementara para wanitanya mengenakan pakaian yang terkesan mahal dan mentereng. Dari para wanita itu berumur lansia sekitar 70 atau 80-an tahun, namun mengenakan perhiasan yang berlebihan seperti cincin, gelang, dan anting-anting.

Saya mencoba mengamati mereka yang nampaknya berpakaian kurang pas dengan postur tubuh mereka. Ada juga gadis cantik di antara para lansia itu, dan rupanya dia adalah gadis yang pernah diperkenalkan Pak Nandar kepada saya di ruang tamu beberapa waktu lalu. Tapi anehnya, kenapa gadis itu mengenakan pakaian yang menonjol keluar di atas roknya, di samping sandal dan topi yang kebesaran sehingga terlihat kepalanya begitu kecil.

Tenu saja ada kesan aneh pada cara mereka berpakaian. Membuat saya teringat kembali pada pernyataan Pak Nandar perihal “sistem yang terbaik”, lalu berprasangka seakan-akan Pak Nandar hendak mengelabui saya. Hingga menjelang makan malam itu, tetap saja saya dihantui perasaan yang kurang nyaman lantaran menyaksikan fakta yang aneh tersebut. Di sisi lain, saya pernah mendengar tentang wanita-wanita keturunan Belanda di zaman penjajahan dulu, yang sekarang tinggal dan menetap selaku warganegara Indonesia. Dan konon, banyak di antara mereka yang berpakaian eksentrik. Saya juga mendengar kabar itu dari beberapa tamu yang berkunjung ke sana, hingga rasa takut saya menjadi hilang seketika.

Meja makan ditata sedemikian rupa. Di atasnya dipenuhi dengan piring dan makanan yang terlihat lezat. Namun kelihatannya sangat berlebihan, bahkan terkesan mubazir. Tidak pernah saya melihat begitu banyak makanan lezat yang terhidang sangat melimpah, sehingga nanti sebagian besar makanan itu akan dibuang percuma. Pengaturan tempat makannya juga kurang menarik. Sinar lampu terlalu terang bahkan terkesan menyilaukan mata.  Ada beberapa pelayan yang hadir di perjamuan, dan di sudut ruangan ada sekitar tujuh atau delapan orang yang memegang alat-alat musik seperti okolele, seruling, trombone, dan drum. Mendengar alat musik yang dimainkan asal-asalan membuat saya merasa jengkel juga. Namun, kenapa semua yang hadir merasa terhibur dengan pertunjukan musik itu, kecuali saya.

Saya tetap berusaha mengendalikan diri, sambil menghibur diri dengan pikiran bahwa di dunia ini ada berbagai macam orang dengan penampilan dan adat yang berbeda-beda. Saya telah bepergian ke berbagai wilayah dari Sabang sampai Merauke, sehingga tidak mudah begitu saja merasa terperangah dengan keanehan-keanehan semacam itu. Saya tetap duduk manis ditemani Pak Nandar, seraya menghargai keceriaan yang ditunjukkan para tamu yang datang ke sana.

Kami hanya mengobrol tentang topik-topik umum. Para wanita, seperti biasa, lebih banyak bicara. Segera saya menyadari bahwa hampir semua tamu yang hadir boleh jadi orang-orang yang berpendidikan tinggi. Saya mendengar beberapa patah kata yang diucapkan Pak Nandar. Rupanya dia suka bercanda. Selera humornya lumayan. Dia terlihat sangat bangga saat membicarakan posisinya sebagai kepala rumah sakit Al-Munawwar. Dan rupanya, topik tentang orang gila merupakan topik favorit mereka. Banyak cerita-cerita yang berdasarkan fakta menarik yang dialami para pasien.

“Pernah ada yang merasa dirinya sebagai buaya, sehingga dia mencari-cari lubang setiap hari di sekitar rumah sakit ini. Aneh kan?” kata seorang lelaki berperawakan gemuk yang duduk di sebelah kiri saya.

“Bahkan pernah ada orang tua yang sudah 70-an tahun, dan merasa dirinya sebagai Jenderal Soeharto. Dia berpakaian militer berikut topinya persis seperti Pak Harto sewaktu mengutus beberapa jenderal yang mengajukan Surat Perintah Sebelas Maret menuju Istana Bogor. Dia tidak mau melepas pakaian itu sampai dekil dan kumal sekali.”

“Pak Sukim!” teriak seorang perempuan tua yang tak jauh dari tempat duduk saya, “Saya akan sangat berterimakasih kalau Anda tidak lagi menyebut-nyebut nama itu! Saya harap Anda tidak mengatakan bahwa Pak Harto cuma berakting saja dengan peristiwa Lubang Buaya yang dia buat. Saya kira, akting Anda jauh lebih hebat ketimbang Pak Harto, mengerti?”

“Maaf, Bu Suminah… saya minta ampun… saya sama sekali tak bermaksud membuat Ibu Suminah marah, sungguh… maafkan saya yang sebesar-besarnya….”

Lelaki itu melompat ke arah perempuan tua itu, lalu bersujud ke lantai setelah mencium tangannya.

Saat itu juga, datanglah dua pelayan berbadan tegap menaruh nampan besar yang berisi sesuatu yang aneh. Saat melihatnya lebih dekat, ternyata itu hanyalah sepatu tentara dan tongkat militer, persis seperti tongkat militer yang dipakai Soeharto sewaktu menerima gelar Mayor Jenderal dulu.

“Lalu, ada lagi pasien,” sambung seseorang yang berwajah sepucat mayat yang duduk di bawah kaki kursi yang diduduki Pak Nandar, “yang merasa dirinya sebagai makhluk jin, lalu ke mana-mana dia membawa teko yang digosok-gosok dengan kemoceng…”

“Tapi orang itu bloon sekali,” komentar yang lainnya. “Sama bodohnya dengan pasien yang merasa dirinya sebagai Jenderal Sadomo, dan ke mana-mana dia teriak, hidup Pangkopkamtib… hidup Pangkopkamtib…. Ketika dia ditanya apa artinya Pangkopkamtib dia hanya diam saja melongo, tak bicara apa-apa lagi….”

“Pasien itu memang aneh,” sahut yang lain lagi, “pernah dia membariskan teman-temannya seperti barisan tentara, dan dia sendiri berteriak-teriak memberi instruksi sebagai komandannya seperti ini, tu wa, tu wa, siaaap grak!” Dan ia pun mempraktikkan bagaimana seorang komandan tentara memimpin pasukannya.

“Lalu ada lagi,” lanjut seorang wanita di meja makan, “pasien perempuan bernama Rusmini yang mengaku sebagai aktivis Gerwani. Pasien ini cerdas sekali. Saya merasa kesulitan mencegahnya ketika dia berteriak-teriak, Orde Baru itu bohong! Orde Baru itu dusta, pembual belaka! Mana ada perempuan Gerwani yang menari-nari telanjang di depan mayat jenderal…. Dusta itu perbuatan keji…. Fitnah yang mereka buat, lebih kejam dari pembunuhan…!”

Pak Nandar nampak merasa gusar. Ia seperti memberi isyarat melalui tatapan matanya agar wanita itu tidak usah melanjutkan cerita tentang pasien itu. Kemudian, ia memanggil salah seorang pegawainya, “Pak Sodik! Mana Pak Sodik… coba sampaikan Pak, apakah ada cerita lucu mengenai pasien-pasien kita.”

Pak Sodik menoleh ke arah kami. Orangnya kelihatan kalem dan tenang. Ia membetulkan posisi duduknya, kemudian katanya, “O ya, ada orang bernama Tohir dari Banten yang menjadi gila karena patah hati. Dia merasa bahwa dirinya memiliki dua kepala. Yang satu adalah kepala Yosef, dan yang satunya adalah kepala Jamilah. Jadi, dari ujung kepala sampai mulut adalah Yosef, tapi dari mulut ke dagu adalah Jamilah. Tentu saja dia ngaco dengan mengaku-ngaku seperti itu, tetapi karena pasien itu pandai bicara dan membuat retorika, kita akan diyakinkan supaya percaya pada perkataannya. Selain itu, keanehan lainnya yang dilakukan Tohir adalah senang melompat-lompat di atas meja makan, seperti ini…”

Seseorang yang duduk di sebelahnya bangkit dan menaruh tangan di pundaknya lalu membisikkan beberapa kata ke telinganya. Pak Sodik kemudian mengurungkan niat untuk melompat ke atas meja, dan ia kembali duduk dengan tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun.

“Kemudian,” kata orang yang berbisik tadi, “ada yang bernama Jali yang tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak, hahaha….  Orang itu merasa dirinya seperti gasing, lalu tiba-tiba badannya berputar dengan satu kaki selama berjam-jam. Dan dia tak pernah merasa kelelahan. Jadi, badannya berputar-putar terus seperti ini….”

Pak Sodik yang dibisiki tadi, kemudian ikut berputar-putar bersama orang yang membisiki.

“Temanmu itu memang edan!” teriak seorang perempuan tua yang dipanggil Tuan Puteri, “dia itu memang bebal, dungu. Mana ada orang yang dipanggil sebagai manusia gasing? Itu sangat aneh dan tak masuk akal. Kalau Ibu Rusmini memang cerdas dan cekatan. Kadang-kadang dia menghibur banyak orang dengan merasa dirinya seperti ayam yang berjalan dengan anggun sambil mengibas-ngibaskan sayapnya seperti ini, kokokok petok! Petok! Kokokok petok petok!”

“Sudah, sudah cukup, Tuan Puteri!” teriak Pak Nandar. Kelihatannya ia merasa gusar dan marah, lalu katanya lagi, “Tuan Puteri, saya akan sangat berterima kasih kalau Anda dapat menjaga sikap sebagai perempuan baik dan sopan. Kalau tidak, tinggalkan meja makan ini!”

Saya terheran-heran juga mendengar Pak Nandar memanggilnya “Tuan Puteri”. Muka wanita tua itu memerah. Dia menundukkan kepalanya dan tidak menjawab sepatah kata pun. Namun seorang wanita yang lebih muda melanjutkan topik perbincangan. Dia adalah gadis cantik yang pernah saya jumpa sebelumnya.

“Orang itu memang bodoh dan dungu. Kalau Tuan Agustini jauh lebih waras dari orang itu. Dia adalah gadis yang sangat cantik dan baik dan sopan. Menurut dia, cara berpakaian seperti kita-kita ini kurang mengenal tata krama. Akan lebih praktis dan simpel kalau kita melepas saja seperti ini….”

“Mbak Siti! Mbak Siti! Cukup, cukup!” teriak puluhan orang secara serentak. “Apa yang mau Mbak lakukan? Penjelasan tadi sudah cukup… kami sudah paham semuanya! Iya kan, Pak?” Pembicara itu menoleh ke arah saya, dan saya pun diam terbengong-bengong.

“Tuh kan, dia belum ngerti?” Dan Mbak Siti pun membuka resleting pada roknya.

Dua orang melompat ke arahnya, dan memaksa ia membetulkan kembali rok yang akan dilepasnya.

Tiba-tiba terdengar suara teriakan keras melengking, yang membuat saya jengkel. Saya mengamati setiap ekspresi para tamu yang ada di meja makan. Mereka nampak ketakutan. Rona wajah mereka berubah sepucat mayat dan mereka terduduk lemas di kursi masing-masing. Seketika tubuh mereka bergetar ketakutan seiring dengan suara teriakan yang berulang-ulang. Teriakan itu terdengar makin keras dan lebih dekat, lalu menghilang. Saat teriakan itu redam, para tamu kembali lagi bercanda ria. Saya agak penasaran, dari mana suara teriakan itu.

“Ah, itu hanya pasien yang sedang kumat,” jawab Pak Nandar. “Kami sudah biasa mendengar seperti itu, dan tidak lagi memperdulikan. Orang-orang gila yang kami kurung di sel isolasi terkadang berteriak-teriak seolah dia sedang konser. Sama seperti suara anjing di malam hari. Ketika yang satu berteriak, kemudian yang lainnya ikut-ikutan teriak juga. Kadang-kadang konser mereka membuat telinga ini pekak juga.”

“Jadi, berapa orang yang Bapak kurung di sel isolasi itu?”

“Sekarang ini tak lebih dari duapuluh orang.”

“Kebanyakan dari perempuan?”

“Oh, tidak. Mereka semua laki-laki, dan badan mereka gemuk-gemuk.”

“Selama ini saya mengira bahwa kebanyakan orang gila itu dari kaum perempuan.”

“Biasanya memang begitu, namun tidak selalu benar. Dulu ada sekitar dua puluh delapan pasien yang dirawat di sini, dan sembilan belas dari mereka adalah wanita. Namun sekarang zaman telah banyak berubah.”

“Ya, banyak sekali yang sudah berubah,” celetuk seorang tamu pria.

“Ya, banyak sekali yang sudah berubah!” seru puluhan tamu secara serentak.

“Diam kalian semua!” hardik Pak Nandar sambil menggebrak meja. Segera saja para tamu bungkam seribu basa. Seorang wanita muda malah membekap keras-keras mulutnya sendiri.

“Apakah gadis itu… maksud saya Mbak Siti tadi, tidak membahayakan orang lain?”

“Membahayakan? Apa maksud Anda?”

Saya pun terdiam, dan tidak melanjutkan pertanyaan berikutnya. Tak lama kemudian, Pak Nandar berdehem beberapa kali, dan jelasnya lagi, “Pelayan-pelayan di sini sudah saya anggap sebagai teman sendiri. Teman baik.”

“Termasuk yang wanitanya?”

“Ya, mereka semua. Para wanita membantu kami melakukan pekerjaan yang tidak dapat dikerjakan oleh kaum pria. Mereka itu perawat-perawat terbaik di dunia. Mata mereka yang bersinar terang membuat mereka memiliki daya tarik yang khas.”

“Saya mengerti, tapi bukankah menurut Bapak mereka bersikap agak aneh?”

“Apa? Agak aneh? Pelayan kami itu kan macam-macam. Ada yang dari Sunda, Jawa, Betawi, Medan, Lampung dan lain-lain. Orang Betawi tentu lebih cerewet dari orang Jawa dan Sunda. Orang Lampung dan Medan juga lebih keras dari yang lainnya. Menurut saya, itu biasa-biasa saja.”

***

Pada kesempatan lain kami pun berbincang-bincang sambil minum kopi yang disediakan pelayan. “Omong-omong soal sistem baru yang diterapkan di sini, apakah memiliki efek penyembuhan yang lebih baik, Pak Nandar?”

“Ya lumayan. Tapi sel isolasi memang masih dipakai, karena menurut kami, hal itu masih sangat diperlukan.”

“Apakah sistem baru ini adalah hasil penemuan Bapak sendiri?”

“Tidak seluruhnya. Beberapa bagian merupakan hasil pemikiran Dr. Graha Nurmanto dan Ustad Imam Rojak, kemudian ada beberapa bagian yang mengalami perubahan, dan itu berkat Profesor Anwar Gangga yang tentu Anda kenal.”

“Mohon maaf, Pak Nandar, saya belum pernah mendengar nama ketiga orang itu.”

“Ya ampun!” Pak Nandar terperanjat lalu ia menjulurkan wajahnya ke arah muka saya, “Apa tadi Anda bilang? Mudah-mudahan kuping saya salah dengar, apakah Anda tadi bilang tidak mengenal Dr. Graha Nurmanto, Ustad Imam Rojak dan Profesor Anwar Gangga?”

“Ya, saya terus terang tidak mengenal mereka. Maafkan saya. Nanti coba akan saya cari literatur yang membicarakan hasil penemuan mereka. Dalam hal ini, Bapak memang lebih banyak tahu, dan saya masih dalam tahap riset dan penelitian.”

Memang seperti itulah kenyataannya. Lalu, Pak Nandar menepuk-nepuk pundak saya seraya menenangkan. Sambil menghirup kopi, saya tak bisa menikmati suara okolele yang dipetik semaunya, drum digebrak-gebrak, seruling dan trombone dibunyikan seenak udelnya.

“Pak Nandar,” kata saya sambil berteriak, “Bapak pernah bilang bahwa ada yang berbahaya dengan sistem lama, padahal ia disebut sistem yang menentramkan?”

“Ya,” jawabnya kemudian. “Kadang-kadang, memang sangat berbahaya. Menurut saya, kita merasa kesulitan menebak reaksi orang-orang gila. Kalau mereka dibiarkan berkeliaran secara berkelompok dalam jumlah yang banyak, maka hal itu bisa membahayakan juga. Orang-orang gila memang dapat ditentramkan, sesuai dengan nama sistem itu, tapi pada akhirnya mereka tetap susah dikendalikan. Mereka juga sangat lihai dan cerdik. Kalau mereka memiliki rencana, mereka akan merahasiakannya dengan sangat dalam, dan kelihaian mereka dalam menirukan orang waras telah menjadi salah satu masalah besar bagi para ahli metafisika yang mempelajari pikiran manusia. Ketika ada orang gila yang bersikap persis sama seperti orang normal, maka sebenarnya itulah saat yang tepat untuk mengikatnya dan mengurungnya di sel isolasi.”

“Tapi apakah Bapak pernah melihat yang seperti itu selama masa kekuasaan Bapak di tempat ini?”

“Ya, tentu saja. Misalnya, beberapa waktu lalu, peristiwa seperti itu terjadi di sini. Pada saat itu sistem yang lama diterapkan, dan ada banyak sekali pasien yang berkeliaran. Mereka bersikap sangat wajar, sehingga siapapun yang masih dapat berpikir jernih akan tahu bahwa mereka sedang berunding dan hendak menjalankan rencana jahat. Akhirnya, suatu hari para penjaga dan pengawas mereka kurung. Tangan dan kaki mereka diikat lalu dijebloskan ke dalam sel isolasi di mana mereka diperlakukan layaknya orang gila oleh orang-orang gila yang telah mengambil alih kantor mereka.”

“Hah! Sepertinya saya belum pernah menyaksikan kejadian semacam itu?”

“Faktanya ada. Siapa yang mengira bahwa rencana itu pada awalnya digerakkan oleh satu orang gila yang memprovokasi dan mengompori orang-orang gila lainnya. Menurut mereka, itulah sistem terbaik yang mereka ciptakan, juga sistem terbaik yang pernah ada di dunia ini. Jadi, satu orang gila itu ingin melakukan uji-coba terhadap hasil penemuannya lalu membujuk semua orang gila untuk bergabung dan menggulingkan kekuasaan di sini.”

“Dan dia berhasil?”

“Tentu saja. Akhirnya, para pengawas dan pasien saling bertukar peran. Sejak saat itu para pengawas diikat dan dikurung di dalam sel isolasi, lalu diperlakukan layaknya pasien sakit jiwa secara tidak layak.”

“Tapi bagaimanapun revolusi yang dilakukan mereka tidak bertahan lama. Karena pihak pemerintah akan menginspeksi tempat ini dan memberi peringatan kepada yang lainnya.”

“Di sinilah letak kesalahan Anda,” Dia menjulurkan telunjuknya ke muka, hingga saya merasa kaget. “Anda kurang paham bahwa pemimpin pemberontak itu sangat cerdik. Dia tidak bakal menerima tamu, sampai pada suatu hari, datanglah seorang tamu laki-laki yang tampangnya polos dan lugu, lalu dia mengizinkan tamu itu masuk, dan mereka sama sekali tak merasa takut padanya. Kabarnya, tamu itu tadinya dua orang tetapi yang satu tak mau ikut karena enggan berjumpa dengan orang-orang gila.”

“Dari mana tamu itu datang?”

“Konon dia seorang dokter dan psikolog. Lalu, pemimpin pemberontak itu membiarkan sang tamu bersenang-senang bersama mereka, kemudian setelah merasa puas menipunya, sang tamu pun dibiarkan keluar.”

“Jadi, berapa lama orang-orang gila itu berkuasa setelah berhasil melakukan kudeta?”

“Cukup lama. Tiga bulan, mungkin empat bulan. Ah, saya kurang tahu pasti. Selama waktu-waktu itu, para orang gila bebas bersenang-senang. Mereka segera mengganti pakaian lusuh mereka dengan pakaian dan perhiasan milik keluarga pengawas. Gudang rumah sakit diisi dengan stok-stok makanan dan minuman. Dan selama itu mereka berfoya-foya, dan merasa hidup tenang dan damai…”

“Itu menurut mereka?” potong saya.

“Ya,” kata Pak Nandar singkat.

***

“Jadi, perawatan macam apa yang diterapkan si pemimpin pemberontak selama masa tiga hingga empat bulan itu?” pancing saya kemudian.

“Menurut pengamatan saya cukup bagus, bahkan sangat bagus.” Pak Nandar berdehem beberapa kali, dan lanjutnya, “Mereka belum tentu bodoh. Pengalaman mereka cukup baik. Sistem yang diterapkan sangat sederhana, namun rinci dan detil, sehingga tidak ada kesulitan dalam penerapannya. Selain itu….”

Hanya sampai di situ penjelasan Pak Nandar. Kata-katanya terpotong oleh rentetan teriakan yang sama seperti sebelumnya. Kali ini terdengar seperti suara gerombolan orang yang datang mendekat.

“Ya ampun! Ada apa ini? Orang-orang itu sepertinya berhasil mendobrak keluar dari sel-sel mereka!”

“Ya, saya kira begitu.”

Wajah Pak Nandar sekarang berubah menjadi pucat-pasi. Dia terbungkam dan tidak lagi melanjutkan pembicaraannya. Teriakan dan sumpah serapah terdengar dari gerombolan mereka yang melepaskan diri dari sel-sel, termasuk sel isolasi. Beberapa orang berusaha masuk ke dalam ruangan. Pintu-pintu berhasil didobrak dengan palu besar dan penguncinya dihancurkan secara kasar.

Kemudian terpampanglah situasi yang sangat membingungkan di depan mata saya. Pak Nandar tiba-tiba berlari pontang-panting, kemudian bersembunyi di bawah salah satu meja makan. Saya terbengong-bengong, karena semula saya mengira dia bisa memberi perlindungan buat saya. Seketika itu, para pemain musik yang tadinya menjalankan tugas dengan penuh semangat, kemudian lari kocar-kacir ke sana kemari.

Sementara itu, seorang pria yang tadinya dilarang naik ke meja, kini melompat-lompat di atas meja. Gelas dan piring-piring terinjak-injak dan berserakan ke mana-mana. Setelah berhasil mengendalikan diri, pria itu melanjutkan orasinya dengan sangat meyakinkan. Semantara itu, si manusia gasing berputar-putar ke sekeliling ruangan, diikuti oleh beberapa temannya. Orang yang merasa dirinya buaya, berjalan dalam posisi telungkup sambil mencari-cari lubang di sudut-sudut ruangan. Seorang pria dari Banten yang merasa dirinya bermuka dua, mengambil cermin dari kantong dan tak henti-hentinya berkaca. Mbak Siti mondar-mandir ke sana kemari sambil melepas roknya. Tuan Puteri melompat-lompat sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya berbunyi, Kokokok petok! Petok! Orang tua yang merasa dirinya Jenderal Soeharto dan Jenderal Sudomo berbaris layaknya barisan militer, lalu Jenderal Soaharto memberi komando dengan berteriak-teriak, tua wa, tu wa, siaaap grak!

***

Kini, drama yang mengerikan itu telah mencapai endingnya. Saya sendiri merasa bingung, bertanya-tanya, kengerian macam apa yang sedang saya hadapi saat ini? Dengan sekuat tenaga saya menerobos kerumunan, melewati pecahan kaca-kaca jendela dan piring-piring yang berserakan, kemudian keluar ruangan dan melihat beberapa orang yang bergerombol layaknya orangutan atau simpanse.

Beberapa orang berlari mengejar saya sambil membawa sapu dan kemoceng, tetapi saya berhasil lolos dan bersembunyi di bawah rerimbunan pohon. Selama beberapa menit saya duduk-duduk di bawah pohon, akhirnya berhasil juga menghimpun kesimpulan bahwa Pak Nandar itu – layaknya pemimpin Orde Baru yang merebut kekuasaan dari Orde Lama – telah berhasil menyatukan kekuatan balatentara untuk memimpin suatu negeri bernama Indonesia. Jadi, rupanya Pak Nandar itu tadinya adalah pemimpin pemberontakan yang mengambil-alih kekuasaan di rumah sakit jiwa Al-Munawwar.

Berita mengenai ini tidak diketahui oleh teman seperjalanan saya. Para pengawas dan perawat yang hanya berjumlah puluhan tiba-tiba digulingkan oleh ratusan pasien, kemudian mengurung mereka di sel-sel bawah tanah. Lama-kelamaan, salah seorang dari mereka berhasil meloloskan diri dari saluran air, lalu membebaskan teman-teman lainnya.

Sistem yang lama itu telah digantikan oleh sistem yang menamakan dirinya  “Orde Baru” yang mengisolasi diri dan sulit dikenal oleh dunia luar. Sistem baru itu menciptakan dunianya sendiri bersama para kroni yang terdiri dari para budayawan, seniman, sejarawan, politisi, pengusaha, tokoh agama hingga kalangan ilmuwan dan kaum akademisi.

Sampai sekarang pun, meskipun saya sudah memasuki era milenial dan abad internet, dan segala informasi dapat terbuka dengan jelas, belum juga berhasil saya temukan tokoh yang bernama Dr. Graha Nurmanto, Ustad Imam Rojak dan Profesor Anwar Gangga. Siapa mereka itu? (*)

Oleh: Supadilah Iskandar

Penulis adalah Cerpenis generasi milenial, menulis cerpen dan puisi di berbagai media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.