Kami Pernah Menjadi Rumah bagi Filsafat

oleh -1818 Dilihat
banner 468x60

Aula Santu Hendrikus hari itu tidak hanya dipenuhi sorak bahagia, tetapi juga diam-diam menyimpan bunyi langkah yang hendak berpisah. Kami berdiri berbaris dengan stola kuning bertuliskan nama kami, seakan telah resmi dilepas dari rumah filsafat ini. Tapi sesungguhnya, bukan hanya kami yang dilepas, melainkan juga kenangan, harapan, dan diam-diam rasa takut akan dunia setelah ini.

Kami menatap ke depan, namun sebagian hati masih tertinggal di ruang-ruang diskusi yang pernah mempertemukan kami dengan pertanyaan paling manusiawi. Setiap senyum hari itu terasa seperti penutup bab yang indah, meski kami belum tahu seperti apa kisah di halaman berikutnya. Dan di antara suara tepuk tangan dan kilatan kamera, kami tahu: momen ini akan menjadi bagian dari kisah yang akan kami kenang seumur hidup.

Di balik senyum-senyum kamera dan jabat tangan para dosen, ada hati-hati yang mulai merasa asing dengan ketenangan. Kami telah selesai yudisium. Itu berarti, kami bukan lagi mahasiswa, tapi belum juga benar-benar siap disebut dewasa. Kami seperti jembatan kayu yang baru selesai dibangun, tapi belum tahu akan mengarah ke mana. Langit di atas aula tampak cerah, tapi di dalam dada kami, cuaca terasa tak menentu. Ada yang ingin segera melangkah, namun lebih banyak yang diam-diam berharap waktu berjalan sedikit lebih lambat.

Beberapa dari kami adalah frater. Dalam diam mereka menyimpan kegugupan akan panggilan pastoral, Tahun Orientasi Pastoral yang akan membawa mereka ke pelosok paroki dan ladang umat. Di sana, kata-kata yang pernah didalami dari buku-buku tebal akan diuji oleh tangis bayi yang dibaptis, aroma keringat para petani, atau keluh kesah janda yang kehilangan suaminya karena minuman keras.

Tapi mereka siap. Atau paling tidak, mereka sedang belajar untuk siap. Sebab filsafat tidak pernah memberi jawaban pasti, tetapi selalu mengajarkan keberanian untuk bertanya dan mendengarkan dunia. Dan mungkin, di ladang-ladang sunyi itulah mereka akan menemukan bahwa iman bukan sekadar wacana, melainkan pelukan diam di tengah penderitaan yang tak terucap.

Yang lainnya, anak-anak awam, akan kembali ke masyarakat. Mereka bukan kembali sebagai orang yang paling tahu segalanya, tetapi sebagai pribadi yang membawa pengertian baru: bahwa hidup bukan soal menang dan kalah, melainkan bagaimana menjaga martabat dalam setiap pilihan. Mereka akan menjadi guru, petani, aktivis, penjaga toko, atau mungkin hanya anak rumahan yang mencoba memahami arti pulang. Mereka kembali bukan untuk menunjukkan kebesaran ilmu, tetapi untuk hadir sebagai cahaya kecil di tengah realitas yang sering kali gelap dan tak ramah.

Ada juga yang berkata ingin melanjutkan kuliah. “Saya mau lanjut S2 di Jogja,” kata seorang teman dengan mata yang seperti mengandung bintang. Tapi saya tahu, di balik cita-cita itu ada kegelisahan: soal biaya, soal nasib, soal apakah dunia akademik memang tempat yang pas untuk mimpi-mimpinya. Namun tetap saja dia melangkah, sebab sebagian dari kita memang dilahirkan untuk terus belajar, bukan demi gelar, tapi karena dunia ini terlalu rumit untuk dimengerti dalam satu jenjang.

Sementara itu, beberapa memilih untuk berwirausaha. Mereka ingin membuka kedai kopi, peternakan kambing, atau toko buku kecil di kampungnya. “Saya capek jadi anak kos, saya mau balik dan bangun usaha,” kata salah satu teman sambil tersenyum. Ia tampak yakin, meski dalam hatinya mungkin ada ragu. Tapi begitulah keberanian: bukan tentang tidak takut, melainkan tetap melangkah meski kaki gemetar. Dan siapa tahu bahwa dari usaha kecil itu ia akan menemukan panggilannya yang paling manusiawi karena di sanalah ia belajar memberi makna lewat hal-hal sederhana.

Ada juga yang ingin menjadi penyanyi. Ia tidak pernah lelah membawa gitar ke setiap acara kampus, menyanyikan lagu-lagu yang membuat kami lupa bahwa esok ada ujian. Suaranya mungkin tidak seperti para pemenang kompetisi besar, tapi keikhlasannya membuat lagu sederhana terdengar seperti nyanyian malaikat. Kini ia ingin menapaki dunia seni dengan suara dan hati. Sebab kadang yang dibutuhkan dunia bukan suara keras, tetapi suara yang tulus. Ia kerap tampil dalam berbagai kegiatan kampus, entah saat diskusi filsafat, malam seni, atau perayaan ulang tahun teman. Ia juga menjadi sosok yang melatih koor untuk misa setiap minggu, mengatur nada sambil tersenyum meski kadang lelah kuliah belum tuntas. Dari semua itu, ia menemukan bahwa suara yang dibagikan dengan cinta bisa mengubah suasana menjadi harapan.

Angkatan kami dianugerahi kehadiran tiga suster yang menjadi pelita dalam perjalanan studi kami. Seorang dari mereka adalah suster Carmelita Misionaris, dan dua lainnya berasal dari Kongregasi SSpS. Mereka tak hanya hadir sebagai mahasiswa, tetapi sebagai wajah ketekunan yang menyejukkan. Dalam keheningan doa dan kedalaman refleksi, mereka memberi warna tersendiri dalam ruang-ruang kuliah kami. Di saat kami gelisah oleh pertanyaan-pertanyaan besar filsafat, mereka mengajarkan bahwa jawaban kadang datang dari kesetiaan pada hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari dengan kasih.

Namun, tidak semua punya rencana. Ada yang masih terus berpikir. Mereka diam di tengah keramaian, melihat satu demi satu teman bicara tentang masa depan, tapi mereka belum tahu harus bagaimana. Mungkin mereka akan menemukan jawabannya di halaman belakang rumah, di dalam buku puisi yang belum selesai dibaca, atau dalam percakapan panjang dengan ibu saat malam mulai sepi. Dan itu tidak apa-apa. Tidak semua orang menemukan jalannya pada saat yang sama. Kadang, tertinggal adalah cara Tuhan memberi waktu untuk benar-benar mendengar.

Saya menatap satu per satu wajah teman-teman di foto bersama itu. Sebagian dari mereka pernah menjadi lawan diskusi di kelas filsafat, sebagian lainnya teman berdoa rosario sore, atau teman bertukar top avocado dan cerita patah hati di lorong asrama. Kini mereka semua berdiri dalam satu bingkai foto, tapi esok akan berjalan ke arah yang berbeda-beda.

Ada rasa haru, bukan hanya karena kami telah sampai pada tahap ini, tapi karena kami tahu, setelah ini tidak ada lagi kelas pagi dengan Romo Anton, tidak ada lagi tugas kelompok yang berakhir dengan debat tentang eksistensi, tidak ada lagi deretan kursi di ruang filsafat yang dipenuhi suara tawa, keluhan, dan impian.

Namun saya percaya, kami akan bertemu lagi. Bukan hanya saat wisuda yang tinggal beberapa bulan lagi, tetapi dalam bentuk-bentuk yang tidak terduga. Mungkin di sebuah kapela kecil di ujung pulau ketika seorang frater sedang memimpin ibadat. Mungkin di sebuah panggung kecil ketika teman kami menyanyikan lagu tentang luka dan harapan. Mungkin juga di pasar tradisional, saat teman yang kini jadi pedagang menawarkan sayur sambil tertawa, “hei, dulu kita sama-sama belajar tentang Plato, sekarang saya jual kangkung.”

Dan tentu saja, kami akan bertemu kembali di hari wisuda. Saat toga dikenakan dan nama kami disebut satu per satu. Saat air mata yang dulu tertahan di hari yudisium, akhirnya jatuh tanpa bisa dicegah. Bukan karena sedih, tapi karena kami tahu: kami telah belajar, tumbuh, dan bertahan. Kami telah jatuh dan bangkit bersama. Dan hari itu, akan menjadi perayaan atas semua yang telah kami lalui.

Akan ada pelukan, tawa, mungkin juga bisikan, “Akhirnya kita sampai juga.” Tapi di balik semua itu, akan tersimpan satu keyakinan dalam hati kami masing-masing: bahwa kami pernah menjadi bagian dari sebuah rumah bernama filsafat, tempat kami belajar bukan hanya berpikir, tapi juga menjadi manusia.

Oleh: Patrison Benefaciendo Bulu Manu

Penulis adalah Peserta Yudisium Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang tahun 2025

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.