Kabar Keluarga Pak Martin 

oleh -1087 Dilihat
banner 468x60

Di musim dingin tahun 1976 seorang lelaki paruh baya rutin bertandang ke rumah kami, memberi permen berwarna-warni, dan berharap bisa mendapat kabar kepastian tentang keselamatan keluarganya di Timor Leste. Namanya Martinho, dan biasanya saya memanggilnya dengan sebutan “Pak Martin”. Konon, ia adalah seorang pelarian dari Dili, Timor Leste, bahkan termasuk dalam daftar hitam pemberontak Fretilin yang dicari-cari pihak tentara Indonesia, lalu singgah di Australia ketika ayah saya mengambil titel doktoralnya di Universitas Canberra.

Alkisah, sejak tahun 1975, Timor Leste sudah mengadakan perlawanan atas pendudukan tentara, hingga terjadi beberapa kali pertempuran yang memperjuangkan hak-hak otonomi daerah terhadap rezim penguasa di Jakarta. Sejak pertengahan tahun itu, Timor Leste dipaksa tunduk lewat penjajahan, pembakaran dan penembakan aktivis dan mahasiswa oleh pihak tentara yang dikirim Presiden RI Jenderal Soeharto.

Tersiar kabar melalui televisi dan radio Australia, mengenai seorang guru diseret ke tengah jalan dan ditembak mati, beberapa aktivis dituduh sebagai simpatisan Fretilin, bahkan beberapa wanita diinterogasi di barak-barak, dan dipaksa mengaku bahwa mereka adalah mata-mata dari pihak pemberontak. Di akhir musim panas tahun 1977, dikabarkan mengenai ratusan penduduk sipil mati karena berbagai macam sengketa dan perselisihan dari kedua belah pihak.

Dari perbincangan bersama Ayah di meja makan, saya sempat menguping beberapa hal mengenai Pak Martin yang semula tinggal bersama istri dan tiga anaknya di kota Dili, pesisir utara Timor Leste. Ia memiliki rumah berlantai dua, pekerjaan sebagai guru di SMA Negeri I Dili. Namun kemudian, ia dituduh selaku bagian dari pergerakan pemuda Dili yang berada di kubu Fretilin, serta menghendaki kemerdekaan Timor Leste dan menentang kesewenangan para militer yang dikirim Orde Baru.

“Sudah setahun lebih saya tak lagi mendengar kabar mengenai istri dan ketiga anak saya. Sama sekali saya tak memiliki akses untuk mengunjungi mereka,” ujar Pak Martin dengan suara lirih.

Setiap minggu Pak Martin pernah menulis surat untuk istrinya, serta mengirimkan buku dan komik bagi putera-puterinya, namun sistem pengiriman dan penerimaan surat dan paket tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Dan setelah itu, ia tak lagi mendengar kabar apa pun dari keluarganya. Sementara itu, ayah saya sedang sibuk melakukan penelitian sejarah selama beberapa tahun di Canberra. Ia harus menghimpun data-data sejarah perihal penggulingan Presiden Soekarno, terkait dengan peristiwa Allende di Chilli, juga menghimpun berbagai hal tentang peristiwa pelarangan terhadap buku tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer.

Program beasiswa di Australia memang sudah diberlakukan oleh Presiden Soekarno, dan menjadi kehormatan besar bagi mahasiswa Indonesia yang ingin melanjutkan jenjang studi hingga tingkat doktoral di Negeri Kanguru tersebut. Sedangkan Pak Martin, sebagai pelarian politik yang singgah di Australia, masih belum terdaftar statusnya apakah ia seorang refuji, ataukah resmi telah mendapat suaka dari pemerintah Australia.

Sementara, selama beberapa bulan ia masih tinggal di sebuah flat sempit berukuran 3×3 meter di samping kampus, dan sama sekali tidak memiliki kompor ataupun perangkat televisi yang memadai. Karena itu, ia sering bertandang ke rumah kami untuk makan malam bersama, sembari menyaksikan berita-berita tentang kondisi kota Dili yang telah diduduki oleh para militer Orde Baru.

***

Semula saya tidak tahu sama sekali kenapa Pak Martin rutin berkunjung ke rumah kami. Usia saya baru menginjak 9 tahun kala itu, dan tidak merasa heran bila Ayah yang lahir di Kupang, memiliki sejumlah kenalan yang juga berasal dari wilayah Timor Lorosae untuk mengundang makan malam bersama. Meskipun sebenarnya, rumah kami di Canberra relatif kecil, hanya dua kamar, memasuki lorong kampus yang diapit oleh tembok bata dan beberapa bangunan berpilar tinggi.

Namun, demi semangat kebersamaan, ayah saya terbiasa mengamati daftar kunjungan resmi para peneliti maupun mahasiswa beasiswa dari Indonesia yang diterbitkan oleh universitas. Dengan ujung jari, ia merunuti nama-nama yang tercantum di sana, kemudian melingkari sejumlah nama belakang yang mereka anggap cukup familiar, atau setidaknya berasal dari wilayah Timor, dan tampaknya pihak kampus Canberra (entah kebijakan pemerintah setempat) telah memasukkan nama “Martinho” bersama beberapa mahasiswa yang menjalankan studi di Australia. Padahal, ia hanya seorang guru yang dituduh selaku pemberontak Fretilin oleh tantara Orde Baru.

Saya tidak ingat seperti apa kunjungan pertama Pak Martin ke rumah kami, ataupun kunjungan kedua dan ketiganya. Tapi, di akhir bulan Desember tahun itu, saya sudah terbiasa dengan keberadaan Pak Martin di ruang tamu tempat tinggal kami. Hingga suatu malam, saya mencoba menguping perbincangan mereka yang menyoal kabar mengenai pembunuhan warga sipil yang konon sudah mencapai ribuan di wilayah Timor Leste. Belum lagi, soal kesulitan mencari penghidupan bagi warga pribumi, kematian karena wabah malaria, hingga wanita-wanita pribumi yang terpaksa harus menjual dirinya.

Saat itu, baru pertama kali saya mendengar istilah “penjajah kesiangan” yang justru dilakukan oleh tantara-tentara Indonesia yang dikerahkan Presiden Soeharto untuk menduduki seluruh wilayah Timor Leste. Namun demikian, Pak Martin pernah berujar, “Mereka sudah terlampau banyak membunuhi warga sipil di sana. Sampai kapan pun, tak mungkin penduduk Timor Leste terus-menerus dijadikan anak asuh oleh Pemerintah Soeharto, jika si bapak asuh itu tak sanggup mengemong dengan bijak dan rendah-hati.”

Pada bulan Agustus, ketika orang tua saya diundang untuk menghadiri peringatan hari kemerdekaan RI di kedutaan besar, saya pun bertanya pada Ayah, “Kenapa Pak Martin tidak ikut hadir mengikuti upacara bendera?”

Seketika Ayah menjawab, “Dia warga Timor Leste, Nak. Orang-orang Dili hanya pernah dijajah oleh Portugis. Berarti tepat apa yang pernah dinyatakan Soekarno, bahwa teritorial negara Indonesia tak boleh memasukkan wilayah yang secara administratif bukan bekas Hindia Belanda.”

Saya tidak paham apa yang dijelaskan Ayah kala itu. Untuk itu, saya hanya membalas heran, “Bukankah Dili termasuk salah satu provinsi dari Indonesia juga?”

Ayah menengadah sambil menghela napas, “Awalnya memang begitu. Tapi nanti, apakah Dili tetap menjadi provinsi ataukah membentuk negara sendiri, itu tergantung dari kemauan masyarakatnya.”

Sungguh tak masuk akal bagi saya. Pak Martin dan kedua orang tua saya, yang sama-sama bicara bahasa Indonesia, mampu menertawai lelucon yang sama, bahkan memiliki penampilan dan postur yang kurang-lebih sama juga. Mereka selalu senang bersantap ditemani asinan, nasi goreng, juga sama-sama menyukai baso dan masakan Padang. Selain itu, sama seperti kedua orangtua saya, Pak Martin terbiasa membuka sepatu sebelum memasuki ruangan, mengunyah kacang tanah, juga menyukai lauk tempe dan tahu.

Meski begitu, Ayah tetap memaksa saya agar mengerti perbedaan antara mereka dan Pak Martin, membimbing saya ke arah selembar peta yang terentang di atas dinding dekat meja kerjanya, lalu menjelaskan di mana saja wilayah Indonesia yang secara administratif bukan bekas Hindia Belanda. Lalu, dicaplok oleh militer bersenjata suruhan Jenderal Soeharto, yang Pak Martin sebut sebagai “penjajah kesiangan” tadi.

Tampaknya Ayah sedikit khawatir kalau omongan saya menyinggung perasaan Pak Martin bila suatu saat tak sengaja menyebutnya sebagai orang Indonesia. Memang dia berasal dari Timor, namun ia lahir di daerah Atambua yang sebagian penduduknya memeluk agama Islam. Jari Ayah terus menelusuri peta ke arah Barat hingga menembus wilayah Kupang di Nusa Tenggara Timur. Di sana banyak penduduk muslimnya, dan kurang lebih memiliki watak dan karakteristik sama dengan leluhur dari Ayah sendiri.

“Jadi, kamu harus paham dengan situasi politik saat ini. Seorang anak asuh boleh jadi akan memisahkan diri dari bapaknya, kalau dia diperlakukan secara tidak adil, atau sang bapak angkat berlaku semena-mena terhadap anaknya, paham kan?”

Saya pun mengangguk, meski anak seusia sembilan tahun seperti saya, tentu sulit mencerna seluruh perkataan Ayah yang sangat bermuatan filsafat sejarah kala itu.

***

Hari berikutnya, Pak Martin seperti biasa datang sekitar Pk. 18.30 sore. Walau mereka sudah saling mengenal, namun dia dan Ayah tetap berjabat tangan setiap bertemu layaknya orang asing. Dia masuk melalui pintu serambi rumah. Penampilannya sangat rapi, lengkap dengan kemeja lengan panjang dan rambut yang tersisir rapi. Setiap malam, ia datang mengenakan setelan pakaian dengan nuansa yang sama, kadang berwarna cokelat, biru tua maupun ungu. Posturnya agak pendek dan kurus, sorotan matanya tajam dihiasi dengan alisnya yang agak tebal.

Ia selalu datang sendirian, berjalan kaki sekitar dua belas menit dari flatnya menuju rumah kami. Malam itu, dengan perasaan kecewa dan sedih, ia berujar, “Kabarnya jumlah pengungsi menuju NTT sudah mencapai ribuan.”

“Terakhir saya dengar jumlahnya sudah mencapai sebelas ribu, bahkan sebagian ada yang mengungsi ke daerah Kupang.”

Pak Martin mengikuti langkah Ayah ke ruang tamu, di mana perangkat televisi tengah menyala dan mencari-cari channel yang menayangkan para pengungsi Timor Leste ke wilayah NTT.

“Kita hanya bisa berharap,” ujar Pak Martin dengan tatapan menerawang. Ibu keluar dapur membawa sepiring pisang goreng yang ditaburi keju. Pak Martin tak buang waktu dan segera mengambil sepotong pisang goreng dari atas piring dan melahapnya. “Mudah-mudahan para pengungsi yang menuju Balibo mendapat jatah makan yang memadai.”

“Di daerah Balibo tampaknya banyak wartawan dan LSM yang ikut-serta membantu para pengungsi,” sambung Ayah.

Kadang Pak Martin juga mengeluarkan hadiah cemilan buat saya dari kantong celananya. Kadang berupa lollipop atau cokelat, lalu Ibu menyuruh saya mengucapkan terimakasih pada Pak Martin. Kadang juga memberi saya sebuah kotak yang berisi rupa-rupa permen karet dari berbagai macam rasa.

Sebelum makan malam bersama, Pak Martin seperti biasa mengeluarkan sebentuk jam perak tak berantai yang disimpannya di dalam saku celana, lalu mendekatkan ke telinganya yang ditumbuhi rambut putih, memutarnya dengan tiga jentikan halus menggunakan jempol dan jari telunjuknya. Berbeda dengan jam yang dipakai di pergelangan tangannya, ia menjelaskan pada Ayah, bahwa jam sakunya itu harus disesuaikan dengan waktu lokal di Dili. Selama proses makan malam, jam saku itu diletakkan di atas meja di samping piring, dan sesekali ia meliriknya dengan teliti.

Kadang saya berpikir, bahwa kebiasaannya membawa jam saku serta memutar jam itu pelan-pelan, terlihat ada kegelisahan pada raut mukanya. Dia membayangkan suasana di Dili yang masih sekitar Pk. 16.30 (beda dua jam), ketika patroli militer tengah bersiap-siap menangkapi aktivis Fretilin, serta menyisir ke rumah-rumah penduduk. Saat kami masih menikmati makan malam, saya membayangkan putera-puteri Pak Martin seperti pada film-film Hollywood, ketika Mel Gibson tak kuasa menghadapi ganasnya penculikan terhadap anak kandungnya sendiri, sampai-sampai ia memilih jalan pintas untuk menyusup dan menyamar ke tengah markas para penculik.

Pada pukul delapan malam, yaitu waktu di mana berita nasional ditayangkan, Ayah biasa meningkatkan volume suara dan menyesuaikan antena televisi untuk mendapatkan gambar terbaik. Biasanya, saya menyibukkan diri dengan membaca buku atau karya sastra, namun malam itu Ayah menyuruh saya agar ikut-serta menonton berita. Di layar televisi, saya menyaksikan sejumlah kendaraan tank melintasi jalanan berdebu, dikelilingi oleh bangkai-bangkai kendaraan dan bangunan, juga tampak area perhutanan tempat para pemberontak Fretilin melarikan diri, mencari perlindungan di bukit-bukit perbatasan NTT.

Saya juga melihat sejumlah perahu dengan layar berbentuk kipas mengapung di atas perairan Timor-Leste yang airnya jernih, gedung-gedung sekolah yang dikelilingi tembok barikade, serta berita mengenai lima orang wartawan Australia yang ditembak mati oleh militer di daerah Balibo.

***

Selama pariwara berlangsung, Ibu beranjak ke dapur untuk menambah sajian semacam bakwan goreng. Malam itu, terdengar jelas bahwa Pak Martin menghujat kebijakan pemerintah Jakarta yang pernah dipimpin Jenderal Soeharto. Ayah juga menambahkan perihal intrik-intrik politik militer, yang mereka sebut sebagai “bencana kemanusiaan”.

Meski demikian, Pak Martin tak terlampau terbebani oleh masalah intrik politik. Sepertinya, pikiran dia terpusat pada nasib ketiga putera-puterinya berikut istri yang dicintainya. Saya membayangkan, betapa histerisnya jika dia menyaksikan ketiga anaknya ikut berbaris di antara ribuan pengungsi yang bergegas menuju perbatasan NTT. Saya juga membayangkan, betapa hatinya merasa lega jika ia melihat peristiwa itu. Tapi sayangnya, hal tersebut tak pernah terjadi.

Saya berusaha mengenyahkan bayangan itu dengan memperhatikan kamar tidur saya yang empuk dan berwarna-warni, dikelilingi oleh tirai bernuansa ceria. Saya menatap foto-foto teman sekelas yang saling tertawa, dipajang di dinding berlapis kertas hias berwarna putih, kuning dan ungu muda. Saya juga memerhatikan garis-garis unik pada tembok, di mana Ayah mencatat pertumbuhan tinggi badan saya tiapkali memperingati hari ulang tahun.

Tapi, semakin keras saya berusaha menghalau dugaan buruk tentang keluarga Pak Martin, terbersit pikiran-pikiran aneh, bahwa kemungkinan besar putera-puteri berikut istri Pak Martin sudah meninggal dunia.

Malam harinya, saya bermimpi dalam tidur saya, perihal munculnya orang-orang berseragam loreng, menggedor pintu rumah berlantai dua dengan senjata mereka, lalu menerobos masuk dan menarik keluar seorang wanita bersama anak-anaknya. Salah seorang penculik itu mengokang senapannya, kemudian terdengar bunyi “dor” yang seketika menghentakkan saya hingga terbangun. Akhirnya, saya mengucap istighfar yang diajarkan Ibu jika kita mengalami mimpi buruk.

Pagi hari saya mengambil air wudhu dan melaksanakan salat Subuh, kemudian berdoa agar keluarga Pak Martin diselamatkan dari bencana dan marabahaya, bahwa tak ada musibah apapun yang menimpa sang hamba jika Tuhan tak menghendakinya. Untuk itu, fokus utamanya adalah meminta pertolongan dan keselamatan kepada Yang Menguasai jagat raya ini, bahkan Dia Yang peduli terhadap sehelai daun kering maupun basah yang terjatuh di kegelapan malam sekalipun.

Seiring berjalannya waktu, minggu demi minggu dan bulan demi bulan terus berlalu. Kabar tentang wilayah Dili semakin menyusut dari siaran berita. Tak jarang liputannya ditampilkan setelah pariwara pertama ditayangkan, atau sesekali setelah pariwara kedua. Pemberitaan media telah disensor, dipindahkan, dibatasi dan diubah salurannya. Beberapa kali, atau sering, hanya angka kematian saja yang diberitakan, diawali dengan pengantar umum tentang situasi yang tengah melanda wilayah Timor-Leste.

Semakin banyak desa-desa yang dibakar, para wartawan yang berani menerobos perbatasan dieksekusi. Meski begitu, hampir setiap malam, orangtua saya tetap menikmati perbincangan hangat bersama Pak Martin seraya menyantap hidangan makan malam. Setelah perangkat televisi dimatikan, dan piring-piring telah dicuci dan dikeringkan, mereka melanjutkan diskusi yang serius dengan candaan, lalu mereka akan mulai bertukar cerita sambil mencelupkan biskuit ke dalam cangkir kopi mereka.

Pada akhirnya, Ibu menyuruh saya naik ke kamar tidur, meski dari kamar masih bisa mendengar sisa-sisa obrolan dan kegiatan mereka. Kadang mereka iseng bermain kartu atau scrabble di meja ruang tamu seraya tertawa dan berargumentasi sampai jauh malam tentang cara mengeja kata-kata dalam bahasa Inggris. Betapa ingin saya bergabung dengan mereka, dan lebih dari itu saya merasa ingin menenangkan Pak Martin ketika ia diliputi perasaan emosional saat menyaksikan berita malam.

Menjelang tengah malam, ia pun berpamitan dan melangkah menuju flat tempat tinggalnya. Karena itu, saya tak pernah berpamitan dengannya, meski tiap malam sebelum tidur saya terus menguping perbincangan dan canda-gurau mereka di ruang tamu, mengantisipasi lahirnya negara baru di sisi lain dunia.

***

Apa yang diberitakan malam itu, dan malam-malam selanjutnya, adalah bahwa Timor-Leste dan Australia bergerak semakin cepat dan dekat ke arah deklarasi perang. Kabar tentang kematian lima wartawan Australia di daerah Balibo meramaikan berita utama di seluruh media cetak maupun elektronik. Amerika Serikat tentu mendukung langkah-langkah Australia serta mempersempit ruang gerak militer Indonesia, terutama dalam soal pasokan senjata.

Semua fakta itu, baru saya ketahui belakangan dari buku-buku sejarah yang tersedia di perpustakaan manapun di Australia. Namun pada saat itu, sebagian besar dari perang yang berlangsung selama lebih dari dua decade, tak ubahnya sebuah misteri yang diselimuti oleh petunjuk tak beraturan.

Saya masih terkenang beberapa malam ketika saya membantu Ibu menghampar karpet dan selimut di lantai agar Pak Martin bisa tidur di atasnya. Saya masih ingat suara-suara bernada tinggi yang mengisi ruang keluarga di tengah malam, saat Ayah sibuk menghubungi kerabat di Kupang guna mengetahui lebih jauh tentang situasi perang. Tapi yang paling saya kenang adalah saat-saat genting ketika Ayah, Ibu dan Pak Martin berlaku seolah mereka adalah satu kesatuan, berbagi satu porsi makanan, satu tubuh, satu keheningan dan satu rasa takut.

Di bulan September tahun 1999, setelah Presiden Soeharto lengser dan Indonesia sudah dipimpin oleh BJ Habibie, saya mendengar kabar Pak Martin terbang kembali ke Dili, selang beberapa minggu setelah diadakannya referendum, serta lahirnya Timor-Leste sebagai negara baru. Pemimpin baru mereka adalah tokoh pergerakan Fretilin, Ramos Horta, yang pernah dinobatkan nobel perdamaian bersama pastor Ximenes Belo.

Entah kapan kunjungan terakhir Pak Martin ke rumah kami. Ingatan saya sama buramnya tentang kunjungannya yang pertama dulu. Tapi, Ayah pernah bercerita ketika mengantarnya ke bandara suatu siang ketika saya masih bersekolah. Setelah itu, saya tak mendengar kabar apa pun untuk waktu yang cukup lama.

Malam-malam berlalu di kediaman keluarga saya seperti biasa. Kami menyantap makan malam sambil mendengar siaran televisi. Bedanya Pak Martin dan jam sakunya tak lagi menemani kami. Menurut kabar yang tersiar belakangan, Dili dan wilayah sekitarnya tengah memperbaiki infrastuktur kota lewat kuasa parlemen pemerintahan baru.

Pemimpin baru mereka, yang belum lama dikeluarkan dari penjara, meminta negara-negara tetangga agar memberikan bantuan guna memperbaiki ribuan bangunan dan rumah penduduk yang hancur karena perang. Sesekali, saya pelajari peta yang menggantung di atas meja kerja Ayah dan membayangkan Pak Martin berada di atas petak kecil berwarna kuning, mengenakan kemeja lengan panjang, dengan tubuhnya yang berkeringat, seraya mencari keberadaan istri dan ketiga anaknya.

Akhirnya, beberapa bulan kemudian, tepat pada peringatan tahun baru Hijriyah, Pak Martin mengabari keluarga kami melalui saluran telepon, bahwa ia telah dipertemukan kembali dengan istri dan ketiga anaknya. Semuanya dalam keadaan sehat wal afiat. Kabarnya, dalam beberapa hari setalah ia melarikan diri ke Australia, istri dan ketiga anaknya segera hengkang menuju pegunungan di daerah Maliana, tempat kediaman kakek-nenek mereka.

Di penghujung percakapannya, Pak Martin mengucap banyak terimakasih kepada keluarga kami, atas keramahan dan kebaikan hati selama tinggal di Canberra, Australia. Demi merayakan kabar baik tersebut, Ibu menyiapkan makan malam khusus untuk kami sekeluarga.

Setelah itu, Ayah mengajak kami mengangkat gelas sebagai tanda penghormatan kepada Pak Martin dan jam saku yang biasanya ikut menyaksikan acara makan malam kami. (*)

Oleh: Indah Noviariesta, Cerpenis generasi milenial, juga pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa, pernah meraih nominasi penulisan cerpen terbaik yang diselenggarakan Litera pada 2021 lalu

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.