Baru dua kali saya terlibat dalam acara Ru Ketu di Kampung halaman, Mesara Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dari dua acara tersebut banyak pro dan kontra dari keluarga. Namun dari dua Ru Ketu tersebut saya coba mendalami makna dan tujuan ru ketu.
Rauketu atau ru ketu merupakan ritual adat yang sangat penting bagi masyarakat Sabu, yang bertujuan membawa kembali arwah orang yang meninggal di perantauan ke kampung halamannya di Pulau Sabu.
Masyarakat Sabu meyakini bahwa meskipun jenazah sudah dikubur di tempat perantauan, roh atau jiwa almarhum harus dipulangkan ke tanah kelahirannya agar tidak tersesat dan supaya bisa berkumpul bersama leluhur di dana atu di lewa, sebuah pulau yang ada di sebelah barat daya Pulau Sabu
Dalam pelaksanaan ritual rauketu, biasanya bagian jenazah seperti rambut, pakaian mandi, atau sekarang bisa berupa foto atau pakaian tradisional yang melambangkan almarhum dibawa ke Pulau Sabu.
Sesampainya di pulau, ritual dilanjutkan dengan pembagian pakaian kepada keluarga dan pengambilan tanah dari kuburan di rantauan untuk kemudian dikuburkan kembali di tanah kelahiran
Ritual ru ketu memiliki hubungan yang sangat penting dengan proses upacara adat dan keberlanjutan budaya masyarakat Sabu. Proses ini melibatkan pemanggilan atau pengembalian jiwa almarhum kembali ke kampung halaman sebagai bagian dari rangkaian upacara adat yang sakral.
Upacara ru ketu menjadi sarana penguatan identitas budaya serta menjaga kesinambungan hubungan antara manusia, leluhur, dan alam atau bumi kelahiran. Melalui upacara ini, nilai-nilai adat dan tradisi turun-temurun dipelihara dan diwariskan, memperkokoh rasa kepemilikan dan keterikatan spiritual masyarakat dengan tanah serta komunitasnya. Oleh karena itu, ru ketu tidak hanya ritual kematian, tetapi juga bagian integral dari pelestarian budaya dan keberlanjutan tradisi masyarakat Sabu.
Ru Ketu merupakan panggilan pulang menyatu pada Bumi Sabu Raijua. Ru Ketu bukan ritual biasa, tetapi juga sebuah praktik budaya yang bermakna dalam menjaga persatuan masyarakat dan hubungan spiritual dengan tanah kelahiran.
Ru ketu dapat dipahami sebagai ekspresi identitas budaya yang sangat melekat pada tanah kelahiran sebagai pusat sumber kehidupan dan spiritualitas. Ritual ini menegaskan hubungan yang harmonis antara manusia dan lingkungan alam (bumi Sabu) yang dianggap sebagai warisan dan kekayaan leluhur.
Dengan mengembalikan ruh atau jiwa ke tanah leluhur, masyarakat Sabu mempertahankan keseimbangan kosmis dan terus menerus merawat ikatan sosial dan ekologis yang menjadi ciri khas budaya mereka. Pada dasarnya, ru ketu adalah simbol integrasi manusia dengan lingkungan alamnya dan penanda keberlanjutan nilai-nilai adat serta identitas kultural di Pulau Sabu.
Simbol tanah kelahiran dalam ritual Ru Ketu memiliki peran penting sebagai lambang pengembalian arwah ke asal-usul atau kampung halaman almarhum. Simbol ini mencerminkan hubungan spiritual yang kuat antara individu dengan leluhur dan tanah kelahirannya, yang penting untuk menjaga keseimbangan spiritual.
Selain itu, simbol tanah kelahiran juga mengekspresikan ikatan emosional mendalam antara masyarakat Sabu yang merantau dengan kampung halaman mereka, yang menjadi alasan dilaksanakannya ritual Ru Ketu. Dengan demikian, simbol tanah kelahiran tidak hanya melambangkan asal usul fisik, tetapi juga koneksi emosional dan spiritual yang terus dipertahankan melalui tradisi ini.
Dari bukunya mama Pendeta Paoina Bara Pa “Tradisi Ru Ketu” saya juga belajar banyak hal termasuk pernak pernik dalam ritual tersebut.
Oleh: Lanny Koroh
Penulis adalah Dosen dan penulis sastra asal Sabu Rajua








