No Determinism

oleh -665 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Usman Kansong

Pada mulanya manusia menciptakan teknologi. Pada gilirannya teknologi mengatur manusia. Teknologi mengubah kehidupan manusia. Teknologi menciptakan perubahan sosial. Ini lazim disebut teori determinisme teknologi.

Media baru (new media) sebagai suatu teknologi, bila dilihat dari teori determinisme teknologi, mengubah kehidupan manusia, menciptakan perubahan sosial, menghasilkan kebiasaan baru. Perubahan sosial yang diciptakan media baru jauh lebih dahsyat jika dibandingkan media konvensional.

Tengoklah bagaimana media sosial mengubah relasi sosial, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat. Lihatlah, bahkan Facebook dituding bertanggung jawab atas pembantaian warga Rohingya di Myanmar.

Apakah, mengapa, dan bagaimana media baru menyebabkan perubahan sosial kiranya mendasari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka mengajukan program pascasarjana konsentrasi ‘Media Baru dan Perubahan Sosial.’

Uhamka mengundang saya menjadi nara sumber untuk mematangkan konsentrasi atau jurusan ‘Media Baru dan Perubahan Sosial’ itu. Saya menyampaikan jurusan baru ini menarik, penting, dan relevan diadakan ketika perkembangan teknologi digital berlangsung dahsyat.

Saya memberi masukan tentang materi yang kelak diajarkan di konsenrrasi ‘Media dan Perubahan Sosial.’ Saya menggunakan dua buku sebagai referensi. Kedua buku ialah “New Media An Introduction” karangan Terry Flew dan “Understanding Digital Culture” karangan Vincent Miller. Kedua buku “beraliran” determinisme teknologi.

Saya merekomendasi konsentrasi ‘Media Baru dan Perubahan Sosial’ Uhamka kelak tidak hanya mengajarkan teori determinisme teknologi yang cenderung beraliran positivistis, melainkan juga teori konstruktivisme, kritis, dan posmodernisme.

Rekomendasi saya kiranya tidak keliru. Saya sedang membaca buku terbaru Yuval Noah Harari berjudul “Nexus.” Ada subbab berjudul ‘No Determinism’. “Percaya pada determinisme teknologi berbahaya karena memaklumi orang lari dari tanggung jawabnya. Betul, sejak masyarakat manusia menjadi jaringan informasi, penemuan teknologi informasi baru terikat untuk mengubah masyarakat. Ketika manusia menemukan mesin cetak atau algoritma, teknologi tersebut tak bisa dihindari membawa revolusi sosial politik. Betapapun, manusia masih punya kendali besar atas laju, bentuk, dan arah revolusi–yang artinya kita juga punya tanggung jawab besar,” tulis Harari.

Selain S2 konsentrasi ‘Media Baru dan Perubahan Sosial’, Uhamka juga berencana mengadakan S2 konsentrasi ‘Kajian Media dan Budaya’ serta ‘Politik Indonesia’ Terapan dan ‘Produksi Media’ Terapan. Semoga Uhamka lancar dalam proses pengajuan konsentrasi atau jurusan baru yang keren itu dan Dikti menyetujuinya.

Penulis adalah Pegiat Media

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.